Benteng Pertahanan Sudah Dijebol Corona, Masihkah Kita Tetap Ukang?

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Aceh, wabil khusus Aceh Tengah sejak Covid-19 ini merebak, secara nasional, dikenal sebagai zona hijau.

Kalau kita baca komentar orang di media sosial, kita akan menemui begitu banyak pujian untuk Aceh.

Banyak netizen di luar Aceh yang setelah ditelusuri rata-rata bahkan belum pernah ke Aceh, karena begitu kagumnya pada daerah ini, meminta orang-orang dari daerah lain untuk belajar pada Aceh tentang bagaimana cara menghadapi pandemik ini.

“Tak perlu jauh-jauh belajar ke Korea atau Vietnam, cukup belajar dari Aceh saja,” kata mereka.

Usul dari orang luar Aceh ini mereka dasarkan pada argumen berbasis spekulasi tentang mengapa Aceh tidak parah terserang pandemi.

Rata-rata yang saya baca, mereka mengatakan kalau rendahnya angka penularan Covid-19 di Aceh, dikarenakan orang Aceh rajin berwudhu. Orang Aceh yang hidup di negeri bersyariat Islam, sangat menjaga kebersihan sebagaimana ajaran Islam.

Dalam komentar di twitter, saya membaca seorang perempuan berpendidikan tinggi, dengan penuh keyakinan menyebut kalau angka penularan Corona di Aceh terjadi tak lain karena Allah Maha Baik, melimpahkan hasil laut dan orang Aceh adalah orang-orang yang bersyukur dengan mengkonsumsi hasil laut yang berlimpah dan menjaga lautnya. Serta mereka juga mengkonsumsi dan sayuran serta buah organik hasil pertanian mereka, sebagaimana adanya diciptakan Allah tanpa diberi pupuk dan racun kimia.

Begitulah, banyak orang di luar Aceh yang begitu silau dengan bayangan kesucian Aceh.

Dalam kenyataannya, kita yang tinggal atau pernah tinggal di Aceh paham belaka, kalau Aceh tidaklah seideal bayangan orang-orang di luar Aceh yang silau dengan status Aceh sebagai satu-satunya provinsi yang menerapkan hukum syariat Islam.

Tapi, kalau itu kita sampaikan pada mereka, kita malah dimusuhi karena telah merusak imajinasi mereka.

Contohnya saya sendiri, ketika kepada orang itu saya mengatakan bahwa saya lahir dan besar di daerah yang sekarang bernama provinsi Aceh lalu mengoreksi imajinasi serba idealnya tentang Aceh. Malah perempuan berpendidikan tinggi ini menuduh saya suka yang kotor-kotor.

Tapi memang terkait pandemi Covid-19 ini, meskipun situasi Aceh tidak seideal yang orang luar bayangkan.
Karena di Aceh sendiri orang-orang yang sadar dengan bahaya Covid-19 mengatakan bahwa orang Aceh batat, nggak bisa dibilangin, atau “ukang” kalau kata orang Gayo.

Satu kenyataan yang tak terbantahkan. Angka penularan Corona di Aceh memang terbilang relatif rendah dibandingkan banyak provinsi lain di Indonesia.

Mungkin faktor ini yang membuat orang-orang di provinsi Aceh semakin percaya diri.

Makin ke sini, sekilas kalau kita amati perbincangan di media sosial, makin banyak orang di Aceh yang meyakini bahwa pandemi Corona ini hanyalah konspirasi.

Ditambah lagi, dalam era penuh keterbukaan dan kebebasan bersuara nyaris tanpa batas bahkan rambu-rambu ini, ketika lebih dari separuh informasi yang kita terima adalah sampah.

Bermunculan pula para public figure dan influencer yang tak punya basis ilmu tentang pandemi dan virus ini, secara terang-terangan dan vulgar mengatakan pandemi ini hanyalah konspirasi. Sesuatu yang kalau mereka lakukan di negara semacam Vietnam, sudah cukup untuk membuat mereka (para public figure ini) dijatuhi hukuman mati.

Karena kenyataannya, Covid-19 yang kata mereka konspirasi ini, sudah menelan korban meninggal sebanyak 5.236 orang di Indonesia. Kalau ini juga masih mereka sebut konspirasi. Per Sabtu (1/8/2020) kemarin, Pengurus Besar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menyebutkan bahwa berdasarkan data, sudah 72 dokter yang meninggal akibat Covid-19 ini.

Bahkan ketika mereka dengan santainya mengatakan itu konspirasi. Dalam sepekan terakhir ini saja, jumlah dokter yang meninggal dunia karena infeksi virus corona ada 4 orang, masing-masing berasal dari Denpasar, Blitar, Langkat dan Medan. Sumber resmi di IDI menyebutkan, kalau mereka, para dokter yang meninggal ini masih berusia produktif di kisaran 28 tahun hingga 34 tahun.

Tapi fakta seperti ini kurang menarik perhatian para penggemar teori konspirasi. Mereka harus mengalami sendiri baru percaya bahwa Covid-19 memang ada.

Kembali ke Aceh dan Aceh Tengah secara khusus, di tengah sikap ukang dan penuh percaya diri ini, datanglah kabar mengejutkan layaknya petir di siang bolong.

Aceh Tengah tiba-tiba mendapati dua orang warganya terkonfirmasi positif Corona. Lebih mengkhawatirkannya lagi, keduanya adalah dua tenaga medis dari rumah sakit Datu Beru Takengon yang merupakan benteng terakhir pertahanan Aceh Tengah terhadap serangan virus Corona.

Ternyata Aceh dan Gayo secara khusus tidaklah seideal yang imajinasi orang-orang di luar sana. Dan tidak seperti yang digembar-gemborkan para pemuja teori konspirasi itu. Rupanya, virus Corona itu nyata adanya.

Ketika sudah ada satu, kalau masyarakat tetap ukang dan tidak disiplin mengikuti protokol kesehatan yang katanya konspirasi WHO itu, biasanya peningkatan jumlah penderita akan bertambah sangat cepat dalam deret ukur.

Sebagai gambaran, kita bisa bercermin pada Amerika yang masyarakatnya sangat UKANG. Februari mereka masih menyangkal adanya Covid-19, Maret, mulai ditemukan penderitanya. Sejak itu angkanya terus naik, tanggal 20 Februari, kasus pertama Covid-19 mereka temukan, tanggal 4 Maret sudah 24 orang terinfeksi dalam sehari. 5 Maret jadi 64 dalam sehari, tanggal 7, 101 orang tertular, tanggal 8, 148 orang, begitu terus angkanya naik sampai 4 April, tepat satu bulan kemudian, 33.725 orang yang tertular hanya dalam waktu SATU HARI. Per hari ini, total sudah 4.778.177 orang yang terpapar Corona di Amerika. Ini jumlah yang hampir setara dengan jumlah total penduduk Aceh.

Ini berbanding terbalik dengan Korea Selatan yang sama-sama menemukan kasus pertama pada Februari. Seperti di Amerika, angka penularan mereka sempat melonjak tajam pada maret, tanggal 02 maret angka penularan mereka mencapai puncak tertinggi, 1.062 orang. Tapi karena rakyatnya patuh menjalankan protokol kesehatan, jaga jarak dan pakai masker.

Sejak itu, angka penularan terus menurun, jadi 600 di 3 Maret, 438 di 4 Maret dan sebulan kemudian, tanggal 2 April, tingkat penularan mereka tinggal 86 orang dalam sehari. Dan sejak saat itu angka penularan mereka terus menurun sampai yang terendah tinggal 2 orang per hari. Sampai hari ini, meski masih ada penularan, tingkat penularan di Korea Selatan, rendah sekali.

Sekarang, karena benteng pertahanan terakhir kita terhadap serangan Corona sudah jebol. Tinggal kita memilih, mau pakai cara UKANG model Amerika dimana Malaikat Izrail mereka ajak bercanda, atau mematuhi protokol kesehatan yang katanya konspirasi WHO seperti Korea Selatan.

Pilihan ada di tangan kita.

Sebagai bahan pertimbangan, untuk membayangkan situasinya kalau sampai Corona ternyata bukan konspirasi dan benar-benar mewabah. Di rumah sakit Datu Beru Cuma ada 58 tempat tidur dengan rincian 46 di ruang rawat penyakit dalam serta 12 lagi ada di ruang rawat jiwa.

Comments

comments