Apa Kabar Didong dan Tari Guel?

oleh

Ilham Saputra Z*

KETIKA mendengar kata Gayo hal apa yang pertama sekali anda bayangkan?

Mungkin banyak dari kita membayangkan betapa dinginnya dataran tinggi Gayo, kemudian nikmatnya kopi hasil jerih payah petani.

Mungkin sabagian kecil dari kita akan membayangkan betapa indahnya tarian khas Gayo, tari Guel dan betapa indahnya kolaborasi tepukan tangan dan suara merdu para ceh yang berdidong

Dengan perkembangan zaman yang sudah semakin maju bagaimana tanggung jawab generasi penerus  Gayo dalam melestarikan warisan seni budaya yang tertuang dalam tari guel dan didong?

Sudah mulai muncul kekhawatiran ketika generasi Gayo mulai disibukkan dengan musik-musik yang konon katanya gaul bila di dengar dengan tari-tarian yang juga katanya elok bila ditarikan.

Perlahan namun pasti semakin berjalannya waktu akan banyak generasi Gayo justru kebingungan bila diberikan pertanyaan apa itu Didong? apa itu tari Guel? bagaimana berdidong? Bagaimana menarikan tari Guel sebenarnya?.

Dengan situasi dan kondisi yang seperti  ini adalah sesuatu yang  benar ketika Didong dan tari Guel dijadikan mata pelajaran di sekolah-sekolah khususnya dalam mata pelajaran kesenian  demi anak cucu kita dan demi kebudayaan yang sangat kita cintai bersama.

Perlu kiranya kita bahu-membahu mendukung moril maupun materil ketika ada sekelompok orang-orang yang peduli dengan budaya dan seni Gayo ini baik itu melaui pentas-pentas seni di daerah Gayo ini maupun dengan terus menampilkan seni-seni daerah Gayo di luar daerah seperti yang acap kali dilakukan  paguyuban-paguyuban  mahasiswa Gayo yang sedang berada di luar dataran tinggi tak peduli apa namanya dimana posisi mereka karena yang mereka lakukan adalah semata-mata demi kelestarian dan eksistensi dari budaya yang mereka dan bahkan kita sangat cintai ini.

Dengan demikian dapat dikatakan melestarikan budaya Gayo bukan tugas dari segelinttir orang saja melainkan tugas kita bersama selaku masyarakat Gayo mari bahu membahu melestarikan,memajukan dan juga mari bersama kita tunjukkan pada dunia disini dari dataran tinggi Gayo yang kita cintai kita mampu menggemparkan dunia dengan apa yang kita punya.

Mari saudaraku jangan pandang bulu tinggalkan kelas ekonomi mari  kita satu rasa bahwa kita adalah Gayo.[]

*Mahasiswa Unimal Lhokseumawe

 

Comments

comments