TAKENGON-LintasGAYO.co : Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Deputi Bidang Kreativitas Media mendorong penguatan ekosistem perfilman daerah melalui rangkaian Sinema Rakyat Aceh Tengah di Takengon, Jumat (18/9).
Rangkaian Sinema Rakyat Aceh Tengah mencakup Workshop Sinema Rakyat, pemutaran film melalui Layar Alternatif, serta Bazar Kreatif.
Pendekatan ini dirancang untuk memperkuat ekosistem film tidak hanya dari sisi produksi karya, tetapi juga dari sisi pengembangan cerita, akses dan distribusi, penonton, dan aktivitas ekonomi kreatif di sekitarnya.
Workshop Sinema Rakyat yang berlangsung di Museum Aceh Gayo diikuti oleh kurang lebih 70 peserta, terdiri atas komunitas film, pegiat literasi dan budaya, pelajar, mahasiswa, serta kreator lokal.
Workshop difokuskan pada dua aspek penting dalam pengembangan film, yaitu menggali cerita lokal menjadi ide film serta memahami ekosistem dan strategi distribusi agar produksi karya dapat menemukan penontonnya.
Arfan Sabran dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) membahas bagaimana mengembangkan karya lokal ke layar lebar, termasuk pentingnya menentukan strategi distribusi sejak tahap awal produksi.
Sementara itu, sutradara dan founder Wanavisual, Anggi Kurniawan mengajak peserta menggali cerita dari masyarakat dan lingkungan sekitar, mengembangkan pengalaman lokal menjadi ide film, serta menentukan sudut pandang dalam bercerita.
Selain workshop, masyarakat Aceh Tengah juga mendapatkan akses terhadap beragam film melalui Layar Alternatif.
Rangkaian pemutaran film berlangsung sejak pagi hingga malam yang diramaikan oleh sekitar 250 audiens, dengan menghadirkan Nussa (Dir. Bony Wirasmono), Keluarga Cemara 1 (Dir. Yandy Laurens), serta dua film lokal, Depik Terakhir karya Fachri Zikrillah dan Adli Ridha serta Tree in White karya Jamaluddin Phonna.
Rangkaian pemutaran kemudian ditutup dengan film Seni Merayu Tuhan (Dir. Cesa David Luckmansyah). Kehadiran film lokal dalam rangkaian pemutaran menjadi bagian penting dari upaya mempertemukan karya daerah dengan penontonnya.
Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh pilihan tontonan yang lebih beragam dan ruang untuk mengenal karya yang diproduksi dari lingkungan mereka sendiri. Direktur Film, Animasi, dan Video, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Doni Setiawan, menyampaika
“Membangun ekosistem film juga berarti memperluas akses dan membangun budaya menonton. Kita ingin anak-anak mengenal film sejak dini, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan tontonan, dan pada saat yang sama karya-karya sineas lokal mendapatkan ruang untuk diapresiasi di daerahnya sendiri”.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan Bazaar Kreatif yang melibatkan 25 pelaku usaha, dengan menghadirkan beragam produk kreatif lokal, mulai dari kuliner, kriya, hingga produk lainnya.
Selain menjadi ruang interaksi dengan masyarakat, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan memperluas dampak kegiatan ekonomi kreatif di tingkat daerah.
Sinema Rakyat Aceh Tengah merupakan rangkaian program EKRAF Peduli: Pulih Bersama, Bangkit Berdaya, dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus membuka ruang bagi aktivitas kreatif dan ekonomi lokal.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif memandang penguatan ekosistem perfilman daerah menjadi upaya membuka kesempatan yang lebih luas bagi talenta dan karya dari berbagai wilayah Indonesia.
Aceh Tengah memiliki kekayaan cerita yang bersumber dari budaya, tradisi lisan, sejarah, serta dinamika kehidupan masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi karya audio-visual dengan perspektif lokal dan daya jangkau yang lebih luas.
Melalui Sinema Rakyat, pengembangan tersebut diupayakan berjalan secara lebih utuh, dengan memperkuat talenta dan narasi, mempertemukan karya dengan penonton, dan membuka ruang aktivitas ekonomi bagi pelaku lokal.
Dengan demikian, ekosistem film daerah diharapkan untuk dapat membangun kapasitas dan kesempatan yang lebih berkelanjutan bagi pegiat ekonomi kreatif.
[SP]





