Oleh : Fauzan Azima*
Di negeri yang gemar mencampur antara otak dan syahwat, lahirlah keyakinan ganjil: makin cerdas seseorang, makin sulit ia membedakan antara ide besar dan godaan kecil yang berbisik lembut di sela kekuasaan yang dimilikinya.
Konon chakra sakral adalah pusat kreativitas. Tapi di tangan pejabat yang salah tafsir, ia berubah menjadi pusat pembenaran. Dari sana lahir kebijakan yang tak lagi rasional, melainkan sekadar legitimasi bagi hasrat yang mencari panggung.
Gairah disebut bahan bakar kreativitas. Benar, tetapi seperti bensin, ia mudah terbakar. Tanpa rem bernama akal sehat, api itu tidak melahirkan karya, melainkan membakar reputasi, jabatan, dan sisa-sisa harga diri yang dulu dielu-elukan publik luas.
Manusia memang makhluk biologis, tetapi pejabat sering lupa dirinya juga makhluk publik. Ketika naluri pribadi dipelihara tanpa pagar etika, ia tumbuh liar, merambat ke ruang kebijakan, lalu menggerogoti kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun lamanya.
Kisah dunia telah berkali-kali memberi peringatan keras. Skandal besar bukan lahir dari kebodohan, melainkan dari kecerdasan tanpa kendali. Di situlah ironi paling mahal: orang pintar jatuh bukan karena kurang tahu, tetapi terlalu menyepelekan dirinya.
Di negeri ini, pola serupa berulang dengan versi lokal. Figur dipuja seperti dewa kecil, lalu jatuh seperti daun kering. Publik bingung, padahal penyebabnya sederhana: nafsu yang dibiarkan memimpin rapat tanpa undangan resmi sebelumnya.
Karier yang dibangun dengan strategi runtuh oleh impuls sesaat. Bukan lawan politik yang menjatuhkan, melainkan diri sendiri yang membuka pintu kehancuran. Kekuasaan ternyata tidak butuh musuh, cukup kelemahan yang dipelihara diam-diam setiap hari.
Maka, wahai Haili Yoga, jangan salahkan lingkungan bila badai datang. Periksa dulu ruang paling sunyi dalam diri. Di sanalah biasanya keputusan berbahaya lahir, bukan dari tekanan luar, tetapi dari kompromi kecil yang terus diulang.
Energi biologis bukan musuh, tetapi juga bukan tuan. Ia harus dipimpin, bukan diikuti. Sebab pada akhirnya, yang menentukan besar kecilnya seseorang bukan hasratnya, melainkan kemampuannya berkata tidak ketika semua terasa sangat mungkin.
Bersambung ke pasal 21…
(Mendale, April 3, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 19: Ego Ditinggal Dulu, Perbaiki Hubungan dengan Gubernur






