Oleh : Fauzan Azima*
Di negeri yang pejabatnya gemar berteater, hubungan dengan gubernur sering terasa seperti sinetron panjang. Banyak konflik, sedikit solusi. Padahal rakyat tak butuh drama, mereka hanya ingin jalan mulus dan harga kebutuhan tetap waras.
Haili Yoga tampaknya perlu memahami bahwa politik bukan panggung adu gengsi. Ini bukan lomba siapa paling keras bicara, tapi siapa paling mampu bekerja sama. Ego yang dipelihara hanya akan jadi penghambat pembangunan yang nyata.
Lucunya, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin tipis kesabarannya. Sedikit beda pendapat langsung dianggap ancaman. Padahal, gubernur bukan lawan tanding, melainkan mitra kerja yang kalau diajak akur, hasilnya bisa luar biasa bagi masyarakat.
Kalau komunikasi macet, jangan salahkan cuaca atau staf. Kadang masalahnya sederhana: terlalu sibuk merasa benar. Dalam politik, merasa paling benar sering jadi jalan tercepat menuju kesalahan yang dipertontonkan secara berjamaah tanpa rasa malu.
Rakyat sebenarnya tidak peduli siapa yang menang debat di ruang tertutup. Mereka lebih peduli kapan jalan diperbaiki, kapan harga stabil, dan kapan janji kampanye berhenti jadi dongeng sebelum tidur yang terus diulang tanpa kenyataan.
Hubungan yang retak dengan gubernur itu seperti motor tanpa oli: tetap bisa jalan, tapi cepat rusak. Gesekan kecil lama-lama jadi kerusakan besar. Dan seperti biasa, rakyat lagi yang harus menanggung biaya perbaikannya.
Kalau memang ada perbedaan, ya duduklah bersama. Tidak perlu pakai drama atau sindiran halus yang semua orang tahu itu sindiran kasar. Politik dewasa seharusnya lebih banyak dialog, bukan saling lempar kode seperti remaja kasmaran.
Ego itu menarik untuk dipelihara, apalagi kalau sering dipuji. Tapi dalam pemerintahan, ego adalah kemewahan yang terlalu mahal. Setiap keputusan yang lahir dari gengsi biasanya berujung pada kebijakan yang jauh dari kebutuhan rakyat.
Jadi, Bung Haili, tinggalkan dulu egonya di luar kantor. Masuklah dengan kepala dingin dan niat memperbaiki. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa paling keras, tapi siapa yang paling berguna bagi rakyatnya.
Bersambung ke pasal 20…
(Mendale, April 22, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 18: Peta Politik Aceh Tengah 2029






