Ikhlas yang Tumbuh dari Kesederhanaan

oleh
oleh

(Lanjutan: Belajar Ikhlas dari Mereka yang Sederhana)

Oleh: Mahbub Fauzie (Kepala KUA Atu Lintang, Aceh Tengah)

Kita sering keliru menilai. Mengira bahwa kelapangan hidup akan melahirkan kelapangan hati. Menganggap bahwa semakin tinggi pendidikan, jabatan, dan harta, semakin tinggi pula rasa peduli seseorang. Padahal, realitas tidak selalu berjalan demikian.

Justru tidak sedikit, kepekaan itu tumbuh dari kehidupan yang keras. Dari masa kecil yang penuh keterbatasan. Dari pengalaman menahan lapar, menunda keinginan, dan hidup dalam kekurangan. Orang-orang yang ditempa oleh keadaan seperti ini biasanya tidak butuh teori panjang untuk peduli—mereka pernah merasakannya sendiri.

Mereka tahu arti dibantu, maka mereka ringan membantu. Mereka tahu arti kekurangan, maka mereka tidak tega melihat orang lain kesusahan. Mereka tahu arti berharap, maka mereka tidak menutup harapan orang lain.

Terkait : Belajar Ikhlas dari Mereka yang Sederhana

Di sinilah Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa kemuliaan tidak diukur dari apa yang tampak di luar. Allah Swt. berfirman:

“Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.”
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ukuran kemuliaan bukan harta, bukan jabatan, bukan pula latar belakang kehidupan—tetapi kualitas hati dan ketakwaan.

Bahkan, dalam hal kepedulian sosial, Rasulullah SAW memberikan standar yang sangat tegas:

“Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li akhīhi mā yuḥibbu linafsih.”
“Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi ukuran iman. Artinya, kepedulian bukan pilihan, melainkan konsekuensi dari keimanan.

Sebaliknya, ada yang hidup dalam kecukupan sejak awal. Tidak salah. Tidak juga keliru. Tetapi jika tidak disertai kesadaran, kenyamanan itu bisa menumpulkan rasa. Kepedulian menjadi sekadar wacana. Kebaikan menjadi hitungan. Bahkan, membantu pun menunggu alasan.

Di sinilah letak peringatan bagi kita semua—terutama yang berada di ruang-ruang sosial: aktivis, pegawai, pengurus organisasi, dan siapa pun yang mengaku bekerja untuk orang banyak. Jangan sampai kita sibuk mengatur, tetapi jauh dari merasakan. Jangan sampai kita pandai berbicara tentang kepedulian, tetapi miskin dalam praktiknya.

Keikhlasan tidak lahir dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita rasakan. Ia tidak tumbuh dari kenyamanan, tetapi dari kesadaran. Dan kesadaran itu sering kali lahir dari pengalaman hidup yang tidak mudah.

Maka, jika hari ini kita merasa hati mulai tumpul, empati mulai berkurang, dan kepedulian terasa berat—jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, kita terlalu lama hidup dalam “cukup”, tanpa pernah benar-benar mencoba memahami “kurang”.

Belajarlah. Tidak harus dari yang hebat, tidak harus dari yang terkenal. Belajarlah dari mereka yang sederhana—yang hidupnya mungkin biasa saja, tetapi hatinya luar biasa.

Karena bisa jadi, di saat kita merasa sudah “menjadi orang”, justru merekalah yang lebih dulu menjadi manusia.

Wallahu a’lam.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.