Oleh : Fauzan Azima*
Di negeri yang gemar merawat kisah sebagai cermin kekuasaan, seekor anjing pemburu terus berlari membawa dendam lama. Ia tidak sekadar mengejar rusa, melainkan mengejar kehormatan yang pernah runtuh di hadapan ramai orang.
Sumpah itu lahir dari satu tendangan yang menampar harga diri. Rusa tidak berniat mengajar, tetapi batas telah dilanggar. Namun bagi anjing, luka itu berubah menjadi warisan ambisi yang terus diwariskan tanpa pernah dipahami.
Dalam majelis agung, saat semua makhluk berkumpul mendengar titah, kedekatan dengan singgasana menjadi ujian. Anjing lupa diri, rusa mengingatkan. Kesombongan kecil menjelma menjadi peristiwa besar yang membekas sepanjang zaman dalam ingatan.
Sejak saat itu, anjing tidak lagi berburu untuk makan, tetapi untuk membalas. Ia tidak belajar etika, hanya mengasah siasat. Hutan berubah menjadi panggung dendam, tempat setiap langkah diukur oleh jarak menuju jantung rusa.
Pawang memahami naluri itu lebih baik daripada anjing sendiri. Jantung tidak pernah diberikan, hanya paru-paru sebagai umpan. Lapar dijaga, harapan dipelihara, agar anjing tetap setia mengejar tanpa pernah benar-benar sampai tujuan.
Dalam ilusi itulah anjing hidup, merasa selalu dekat dengan kemenangan. Setiap gigitan terasa seperti kemajuan, padahal hanya pengulangan. Ia dipelihara untuk tetap menginginkan, bukan untuk benar-benar memiliki apa yang dikejarnya.
Watak ini kemudian menemukan rumahnya dalam tubuh kekuasaan. Ada wakil yang setia, tetapi lebih banyak yang gelisah. Jabatan bukan lagi amanah, melainkan jantung rusa yang harus direbut dengan segala cara.
Di awal perjalanan, janji diucapkan dengan penuh kesetiaan. Kata “tim” dikumandangkan seperti mantra. Namun di balik senyum, tersimpan harapan tersembunyi: jika takdir memberi celah, maka posisi puncak harus segera direbut.
Retakan kecil menjadi peluang besar bagi mereka yang sabar menunggu. Bahkan doa bisa berubah arah, bukan lagi memohon keselamatan bersama, tetapi berharap badai kecil menggoyahkan nahkoda agar kursi dapat berpindah tangan.
Intrik tidak lagi kasar, melainkan halus dan terukur. Bisikan menjadi senjata, kedekatan menjadi alat. Siang dan malam diisi dengan strategi, bukan untuk memperkuat pemerintahan, tetapi mempercepat momen menggigit jantung kekuasaan.
Namun sejarah sering mengulang ironi yang sama. Ketika jantung akhirnya diraih, gairah justru menghilang. Seperti anjing yang kenyang, semangat memburu padam, meninggalkan kekosongan yang tidak pernah benar-benar dipahami sebelumnya.
Negeri ini pun terus berputar dalam lingkaran yang melelahkan. Wakil sibuk memburu puncak, bukan memperkuat dasar. Rakyat menjadi penonton dari drama lama yang terus dipentaskan dengan aktor dan janji berbeda.
Petuah ini bukan untuk meniadakan peran, tetapi untuk mengingatkan niat. Jika menjadi wakil hanya batu loncatan, maka kekuasaan akan selalu rapuh. Sebab yang diburu bukan pengabdian, melainkan pelampiasan dendam terselubung.
Pada akhirnya, bisikan itu tetap hidup di setiap lorong kekuasaan. “Sedikit lagi,” katanya lirih. Dan selama bisikan itu dipercaya, selama itu pula anjing pemburu akan terus berlari, tanpa pernah benar-benar menemukan akhir.
Bersambung ke Pasal 18…
(Mendale, April 1, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 16: Mengapa Tengku Ilyas Leube Memilih Jabatan Menteri Keadilan?





