Oleh: Mahbub Fauzie (Kepala KUA Atu Lintang, Aceh Tengah)
Dalam realitas kehidupan sosial, kita sering kali terjebak pada ukuran-ukuran lahiriah: siapa yang lebih tinggi jabatannya, siapa yang lebih kaya hartanya, atau siapa yang lebih tinggi pendidikannya.
Seolah-olah semua itu menjadi tolak ukur kemuliaan dan kebaikan seseorang. Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan lurus dengan logika seperti itu.
Tidak jarang, justru dari orang-orang yang dianggap “biasa”, kita menemukan pelajaran luar biasa. Mereka yang hidup sederhana, yang mungkin tidak memiliki banyak harta, jabatan, atau gelar, justru sering kali tampil dengan kelapangan hati yang mengagumkan. Mereka ringan tangan dalam membantu, tidak banyak perhitungan dalam memberi, dan tidak kikir dalam berbagi. Dalam diam, mereka mengajarkan makna keikhlasan yang sesungguhnya.
Sementara di sisi lain, kita juga menyaksikan ironi. Ada sebagian orang yang diberi kelebihan—baik berupa ilmu, harta, maupun kedudukan—namun tidak selalu diiringi dengan kelapangan jiwa. Perhitungan menjadi begitu dominan, bahkan dalam hal kebaikan sekalipun. Memberi dengan syarat, membantu dengan hitungan, dan terkadang sulit memaafkan. Ini bukan untuk menggeneralisasi, tetapi menjadi cermin bahwa kelebihan duniawi tidak otomatis melahirkan kemuliaan akhlak.
Di sinilah Al-Qur’an memberikan standar yang sangat jelas tentang siapa sesungguhnya orang-orang mulia itu. Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali ‘Imran ayat 134:
“Alladzīna yunfiqūna fis-sarrā’i wad-darrā’i wal-kāẓimīnal-ghayẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.”
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran ketakwaan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita bersikap dengan apa yang kita miliki.
Pertama, tentang kedermawanan. Orang bertakwa adalah mereka yang tetap memberi, bukan hanya ketika lapang, tetapi juga saat sempit. Di sinilah kita sering melihat keindahan itu pada orang-orang sederhana. Mereka mungkin tidak memberi dalam jumlah besar, tetapi ketulusan mereka menjadikan pemberian itu bernilai besar di sisi Allah.
Kedua, kemampuan menahan amarah. Ini bukan perkara mudah. Banyak orang mampu membalas, tetapi memilih untuk menahan diri adalah tanda kekuatan iman. Orang-orang sederhana sering kali lebih lapang dalam hal ini. Mereka tidak mudah tersulut, tidak cepat membalas, dan tidak memperpanjang konflik.
Ketiga, memaafkan. Bukan sekadar tidak membalas, tetapi benar-benar membersihkan hati dari dendam. Ini adalah derajat yang tinggi. Dan sekali lagi, kita sering menemukan sikap ini justru pada mereka yang tidak banyak bicara tentang teori, tetapi kaya dalam praktik kehidupan.
Semua itu bermuara pada satu kata: ihsan—berbuat baik dengan kesadaran bahwa Allah melihat kita. Inilah puncak dari akhlak seorang mukmin. Dan Allah secara tegas menyatakan bahwa Dia mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
Tulisan ini bukan untuk meninggikan yang sederhana dan merendahkan yang memiliki kelebihan. Namun, sebagai pengingat bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh kualitas hati dan amal.
Maka, tidak ada salahnya kita belajar dari siapa saja. Dari mereka yang mungkin tidak dikenal, tetapi dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Dari mereka yang tidak banyak bicara, tetapi banyak berbuat. Dari mereka yang tidak terlihat hebat di mata manusia, tetapi mungkin sangat mulia di hadapan Allah.
Sudah saatnya kita mengoreksi diri. Apakah kita sudah menjadi pribadi yang ringan memberi? Apakah kita mudah menahan amarah? Apakah kita lapang dalam memaafkan?
Jika belum, maka jangan malu untuk belajar—bahkan dari mereka yang selama ini mungkin kita anggap “di bawah”. Karena boleh jadi, justru merekalah yang lebih dahulu sampai pada derajat yang kita cita-citakan: menjadi hamba yang dicintai Allah Swt.
Wallahu a’lam.[]






