Oleh : Fauzan Azima*
Di tengah hiruk pikuk birokrasi Aceh Tengah, beredar pesan dalam grup WhatsApp ASN tentang peringatan kehadiran hari pertama kerja, Rabu, 25 Maret 2026. Pesan itu tampak biasa, namun menjadi bahan perbincangan serius karena menyangkut wibawa, keteladanan, serta kualitas komunikasi seorang pemimpin.
Dalam percakapan tersebut, terselip dialog dengan Sekda Aceh Tengah mengenai istilah hukuman dalam bahasa Inggris, yaitu punishment. Niatnya mungkin sederhana, ingin terlihat tegas dan modern. Namun yang muncul justru kekeliruan penulisan menjadi “panismen”, yang kemudian memantik gelak sekaligus keprihatinan.
Kesalahan ini bukan semata soal ejaan atau kemampuan bahasa asing. Ia menjadi simbol yang lebih dalam tentang ketelitian, kesungguhan, dan kesadaran seorang pemimpin dalam setiap kata yang diucapkan atau dituliskan. Sebab dari kata-kata itulah publik menilai kapasitas dan keseriusan seorang pemimpin.
Lebih ironis lagi, kekeliruan tersebut terjadi dalam konteks pembicaraan tentang hukuman bagi bawahan. Ketika pemimpin ingin berbicara tegas soal disiplin, justru ia tergelincir pada hal mendasar. Ini bukan sekadar salah tulis, melainkan cermin dari ketidaksiapan dalam memberi teladan yang utuh.
Seharusnya, seorang pemimpin memahami bahwa punishment tidak berdiri sendiri. Ia harus berjalan seimbang dengan reward. Ketika hanya hukuman yang ditonjolkan, sementara penghargaan diabaikan, maka yang tumbuh bukan disiplin, melainkan ketakutan dan kepura-puraan di kalangan bawahan.
Pemimpin adil tidak hanya pandai memberi sanksi, tetapi juga jeli mengapresiasi. Ketimpangan antara reward dan punishment akan melahirkan birokrasi yang timpang. ASN akan bekerja bukan karena kesadaran, melainkan karena tekanan, dan pada akhirnya produktivitas menjadi sekadar formalitas belaka.
Kesalahan kecil seperti “panismen” seharusnya menjadi alarm. Bahwa kepemimpinan bukan hanya soal instruksi, tetapi juga soal keteladanan dalam hal-hal sederhana. Ketika hal kecil saja luput, bagaimana publik bisa yakin pada keputusan besar yang diambil di belakang meja kekuasaan.
Petuah ini sederhana, namun penting. Perbaiki kata, luruskan sikap, dan seimbangkan kebijakan. Karena pada akhirnya, yang diingat rakyat bukan hanya ketegasan seorang pemimpin, tetapi juga keadilannya dalam memperlakukan semua, tanpa berat sebelah, tanpa kesan sewenang-wenang.
Bersambung ke pasal 13…
(Mendale, Maret 25, 2026)





