Ramadhan, Duka, dan Muhasabah Kehidupan

oleh
oleh

Oleh : Mahbub Fauzie*

Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah kembali menyapa kita di tahun 2026 Masehi. Ia datang membawa kesejukan iman, menghadirkan suasana penuh keberkahan, dan mengetuk pintu hati setiap insan untuk kembali menata diri.

Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan pendidikan ruhani, bulan penyucian jiwa, dan bulan penguatan kesabaran.

Di dalamnya terdapat satu malam agung yang dijanjikan lebih baik dari seribu bulan—Lailatul Qadar. Sebuah malam yang mengajarkan bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas; bahwa satu momen keikhlasan dapat melampaui panjangnya usia tanpa makna. Betapa kita berharap dipertemukan dengan malam kemuliaan itu, dalam keadaan hati yang bersih dan jiwa yang tunduk.

Namun, Ramadhan tahun ini juga kami rasakan dalam nuansa yang berbeda. Ada haru yang menyelinap. Pada hari ketiga Ramadhan, kami kehilangan adik kandung tercinta yang telah lama berjuang melawan sakitnya. Ia berpulang ke rahmatullah, seakan Allah memilihkan waktu terbaik baginya untuk kembali—di bulan penuh ampunan.

Belum usai duka itu kami tata, sembilan hari kemudian salah satu saudara muda kami—istri dari keponakan kami—juga dipanggil menghadap Ilahi. Sehari setelahnya, seorang saudari jauh pun menyusul.

Rentetan peristiwa ini seakan menjadi pengingat yang begitu kuat: umur adalah rahasia Allah. Kematian tidak menunggu tua atau muda, sehat atau sakit. Ketika Allah berkehendak, maka “kun fayakun”, terjadilah.

Ramadhan kali ini benar-benar menjadi madrasah kesabaran. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita bernafas, tetapi tentang bagaimana setiap helaan nafas itu kita isi dengan iman dan amal kebaikan. Kematian bukan sekadar perpisahan, melainkan kepastian yang menegaskan bahwa dunia hanyalah persinggahan.

Sebagai hamba yang beriman, kita meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam ketentuan-Nya. Tidak ada yang luput dari takdir Allah.

Kesedihan adalah fitrah, namun keputusasaan bukanlah jalan orang beriman. Justru dalam duka, kita diuji untuk semakin dekat kepada-Nya. Dalam kehilangan, kita diingatkan untuk memperbaiki diri.

Ramadhan adalah momentum muhasabah. Sudahkah kita memanfaatkan sisa umur yang Allah titipkan? Sudahkah kita memperbaiki amal, meluruskan niat, dan memperbanyak istighfar? Jangan sampai kita sibuk menghitung hari Ramadhan, tetapi lupa menghitung kualitas ibadah dan kebaikan yang telah kita lakukan.

Mereka yang telah berpulang meninggalkan pesan tanpa kata: bahwa waktu kita pun terbatas. Maka selagi kesempatan masih ada, mari kita perbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Perkuat iman, teguhkan Islam, dan isi hari-hari dengan amal yang bernilai abadi.

Kita berdoa semoga Allah mengampuni segala dosa mereka yang telah mendahului kita, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga mereka memperoleh husnul khatimah, akhir yang baik dalam ridha Allah.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah anugerahkan kesabaran dan ketabahan. Semoga putra-putri yang ditinggalkan tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah, yang senantiasa mendoakan orang tuanya, menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala.

Ramadhan akan terus berjalan, dan usia kita pun terus berkurang. Duka boleh hadir, tetapi harapan tidak boleh padam. Sebab di balik setiap takdir, ada kasih sayang Allah yang tak selalu mampu kita pahami saat ini.

Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih sadar akan hakikat kehidupan. Bahwa pada akhirnya, yang kita bawa pulang hanyalah iman, amal shalih, dan doa-doa yang tulus.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Jagong Jeget, 14 Ramadhan 1447 H

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.