Oleh : Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL (Rektor IAIN Takengon)
Dalam Ramadhan banyak aspek yg dikaji dan diamalkan baik dari aspek ibadah dan sosial serta nilai yang muncul. Nilai sabar, peduli, penolong dan lainnya merupakan faktor yg diharapkan akan terasah selama sebulan penuh.
Kehadiran Ramadhan bukanlah hanya untuk Ramadhan saja melainkan menyiapkan bekal bagi keberlangsungan hidup ,manusia. Artinya kebaikan itu bukan hanya selama Ramadhan saja melainkan selamanya.
Mental yang berkembang dalam kepribadian manusia banyak sekali dengan varian yang berbeda. seperti gaya hidup boros dan omongan kotor sering terlihat dalam keseharian.
Hal tersebut tentu bukan bukanlah target ramadhan. Karena itu, kebersahajaan dan kebersamaan merupakan harapan yang terbina selama sebulan puasa. Hubungan dan suasana dalam keluarga, tetangga dan masyarakat akan menjadi lebih nyaman.
Salah satu faktor memunculkan kenyaman dalam kehidupan pribadi mau pun masyarakat tentu menjaga lisan. Kalau dikaitkan dengan puasa, lisan yang manakah menjadi lebih dominan. Tentu jawabannya lisan yang membuat orang lain menjadi nyaman dan tenteram.
Bila Cerewet adalah bawaan tetapi nyamankah pihak lain. Realitas sosial seringkali memberikan seleksi yg ketat siapakah yang bertahan dalam kehidupan yang lebih luas.
Artinya lisan yang produktif menjadi harapan yg urgen sebagai kehidupan jangka panjang. Nyelotuk penyakit lisan tanpa kontrol merupakan reaksi dari hati. Namun bila hal tersebut bisa terkontrol maka dengan sendirinya kenyamanan pihak lain akan terjaga.
Dalam kehidupan sosial, pribadi yang pemarah misalnya, sering menjadi kurang diminati dan hubungan sosial menjadi kurang produktif. Sebaliknya pribadi yang adem dan tenang menjadi lebih produktif dan kontsruktif.
Pembelajaran sosial tersebut tentu perwujudan dari kehendak ajaran agama sehingga setiap lisan menjadi terjaga dan ketenangan dalam suatu komunitas akan muncul dan ketenangan lebih terjamin. Pada posisi seperti ini harga diri semua pihak pun akan terjaga dan semangat kerja akan terus meningkat.
Banyak sekali orang yang berpuasa mendapat pahala yg terbatas tanpa menyebutnya tidak berpahala karena lisan tidak dijaga; namimah, qawla dzurr, pemarah, penyebar fitnah, penyebar hoaks dan sebagainya.
Hal ini telah diingatkan oleh ajaran agama yang termaktub dalam sumber yang konkrit, seperti al Quran dan Hadits. Ungkapan hifzhul lisan, siddiq, berkata baik dan sebagainya, sering ditemukan dan disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Untuk Ramadhan tahun ini diharapkan, masing-masing kita menargetkan diri dengan menciptakan dan mewujudkan sebuah nilai kehidupan dalam bermasyarakat dengan menjaga lisan sehingga pahala besar dan masyarakat menjadi tenteram dapat diraih…semoga !





