Oleh : Fauzan Azima*
Kalau bukan karena bulan Ramadhan, mungkin saya tak pernah sungguh-sungguh menoleh kepada epos Ramayana. Namun hari ini, kisah Rama terasa seperti kritik halus terhadap arah kebijakan daerah yang kadang kehilangan rasa.
Rama rela meninggalkan tahta demi menjaga amanah. Bandingkan dengan sebagian elite lokal yang justru mempertahankan kursi dengan segala cara. Seolah jabatan adalah hak milik pribadi, bukan titipan rakyat yang bisa dicabut kapan saja.
Dalam adat Gayo, pemimpin terikat oleh sumang, rasa malu yang menjaga batas. Tetapi kebijakan yang lahir tanpa transparansi anggaran, tanpa partisipasi publik, dan minim evaluasi, menunjukkan bahwa rasa malu itu mulai menipis.
Kita menyaksikan proyek fisik dibangun tergesa, namun pelayanan dasar tersendat. Jalan mungkin diaspal, tetapi akses pendidikan dan kesehatan belum merata. Apakah ini cinta kepada rakyat, atau sekadar cinta pada angka-angka laporan?
Rama tidak menjadikan bantuan sebagai transaksi. Ia membantu tanpa menghitung imbalan politik. Di daerah kita, dukungan sering dibalas posisi, dan kritik dibalas pengucilan. Musyawarah berubah menjadi formalitas, bukan ruang mendengar sungguh-sungguh.
Jika seluruh isi Al-Qur’an diperas hingga tinggal sarinya, yang menetes adalah cinta. Cinta itu seharusnya tampak dalam kebijakan anggaran yang berpihak pada petani, nelayan, guru honorer, dan korban bencana.
Puasa Ramadhan melatih kita menahan diri. Namun apakah para pengambil keputusan juga menahan diri dari godaan mark-up, perjalanan dinas berlebihan, dan program yang lebih mementingkan pencitraan daripada keberlanjutan manfaat?
Tanoh Gayo tidak kekurangan potensi, tetapi sering kekurangan keberanian moral. Keberanian untuk berkata tidak pada kepentingan sempit, dan ya pada kepentingan jangka panjang. Kepemimpinan tanpa integritas hanya melahirkan kebijakan tambal sulam.
Kisah pengorbanan mengajarkan bahwa cinta dibuktikan lewat tindakan, bukan slogan. Spanduk Ramadhan mudah dipasang, tetapi keberpihakan pada rakyat kecil jauh lebih sulit diwujudkan dalam dokumen APBK dan peraturan daerah.
Menjelang Syawal, pertanyaannya sederhana: apakah Ramadhan melunakkan hati para pemimpin daerah, atau hanya menambah agenda seremonial? Tanpa cinta yang nyata, kebijakan akan kering, dan rakyat kembali menanggung kecewa.
Rama membebaskan Shinta dengan keberanian dan konsistensi. Tanoh Gayo hari ini membutuhkan keberanian serupa, membebaskan kebijakan dari kepentingan sempit, membersihkan birokrasi dari praktik tak sehat, dan mengembalikan marwah kepemimpinan sebagai amanah.
Jika Ramadhan benar-benar menjadi Ramadhan Cinta, maka setelah takbir berkumandang, yang berubah bukan hanya pakaian kita, tetapi juga cara kita memimpin, mengawasi, dan mempertanggungjawabkan setiap rupiah uang rakyat.
(Mendale, Pebruari 21, 2026)






