Oleh : Yudi Gayo*
Politik kerap dipahami sebagai ruang pengabdian bagi kepentingan bersama. Namun dalam praktiknya, ia sering menjelma menjadi panggung narasi, simbol, dan wacana yang tampak heroik di permukaan, tetapi kosong di dalam.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan publik, rakyat disuguhi drama konflik yang seolah penting, mendesak, dan menentukan masa depan bersama.
Pada kenyataannya, segelintir orang memanfaatkan kondisi sosial, ekonomi, atau krisis tertentu sebagai momentum untuk mencapai keinginan mereka sendiri.
Isu-isu yang diangkat bukan lahir dari kebutuhan nyata rakyat, melainkan dikemas sedemikian rupa agar tampak sebagai aspirasi publik.
Ketakutan diproduksi, kemarahan diarahkan, dan harapan dijanjikan, semua demi legitimasi kepentingan sempit.
Politik kemudian tidak lagi menjadi alat penyelesaian masalah, melainkan instrumen manipulasi keadaan.
Akibatnya, masalah yang terjadi tidak pernah benar-benar menyentuh rakyat, Perdebatan selesai di meja kopi, keputusan berputar di lingkar pelaku, sementara kehidupan masyarakat tetap berjalan seperti seharusanya.
Rakyat hanya menjadi latar, bukan tujuan. Dalam kondisi seperti ini, politik kehilangan makna substansialnya dan berubah menjadi sekadar permainan kepentingan yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari.
Kendati Pun demikian, Hal sejauh ini harus kita pahami, jika ego yang terus-menerus menyelimuti dan terobsesi dengan keadaan, akan berdampak buruk dikemudian hari pastinya.
Sebab itu Pelaku akan terus mencari momentum-momentum dan selalu melumuri kepentingan-kepentingannya yang akan dijalankan sebagai Misi Pertukaran. Ungkapnya
Namun tentunya semua orang memiliki strategi masing-masing, orang yang mungkin dianggap tidak alot dalam melihat atau memahami situasi padahal berpura-pura bodoh agar dapat mengelabui lawannya. []





