Refleksi Ramadhan di Tanah Gayo: Dari Musibah Menuju Kebangkitan yang Hakiki

oleh

Oleh Mahbub Fauzie (Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Menyambut bulan suci Ramadhan—Syahrul Mubarok, bulan penuh keberkahan—kita diajak memasuki ruang batin yang lebih hening.

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum introspeksi, bulan kontemplatif, bulan muhasabah, bulan kejujuran, bulan optimisme, sekaligus bulan kebangkitan.

Ramadhan tahun 1447 Hijriyah ini, Bulan Suci Puasa hadir dalam suasana yang berbeda bagi masyarakat Aceh Tengah, khususnya di kampung-kampung terdampak bencana hidrometeorologi. Luka akibat banjir dan longsor belum sepenuhnya pulih.

Rumah-rumah masih banyak dalam kondisi darurat. Sawah dan kebun masih rusak. Trauma masih tersisa di benak anak-anak dan para orang tua. Di sinilah Ramadhan menemukan relevansinya.

Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah Kolektif

Ramadhan mengajarkan kejujuran—jujur pada diri sendiri, jujur pada amanah, jujur dalam pelayanan. Dalam konteks pascabencana, kejujuran berarti berani mengakui kekurangan dalam sistem mitigasi, lambannya respons, atau belum tuntasnya penangan kerusakan.

Muhasabah tidak berhenti pada individu, tetapi juga kolektif: pemerintah, aparatur kampung, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat.

Kita perlu bertanya dengan jernih: sudahkah penanganan pascabencana menyentuh aspek fisik, sosial, ekonomi, dan psikologis warga secara utuh? Sudahkah kampung-kampung terdampak diberdayakan kembali sebagai pusat kebangkitan? Ramadhan mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran.

Bulan ini melatih integritas. Puasa adalah ibadah yang tak terlihat; hanya Allah dan diri kita yang tahu. Spirit ini seharusnya menjiwai tata kelola penanganan pascabencana.

Anggaran harus dikelola dengan amanah. Bantuan harus tepat sasaran. Program pemulihan harus berbasis kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar laporan administratif.

Kejujuran dalam data kerusakan, kejujuran dalam penetapan prioritas, serta transparansi dalam penggunaan dana adalah fondasi kebangkitan yang berkelanjutan. Tanpa itu, optimisme hanya akan menjadi slogan.

Setiap magrib mengajarkan harapan. Setelah menahan lapar dan dahaga, ada waktu berbuka. Begitu pula musibah: ia bukan akhir, melainkan fase menuju penguatan. Masyarakat Gayo telah berulang kali ditempa oleh sejarah dan alam. Dari ujian itulah lahir ketangguhan.

Optimisme Ramadhan bukan optimisme kosong, tetapi optimisme yang disertai kerja nyata: memperbaiki rumah, membersihkan sawah, menata ulang komoditas pertanian yang lebih adaptif, memperkuat ketahanan pangan, dan membangun sistem mitigasi yang lebih baik.

Dinas teknis, aparatur kampung, hingga relawan harus bergerak dalam satu orkestrasi. Pemerintah menjadi dirigen, masyarakat menjadi penggerak, dan nilai-nilai Ramadhan menjadi ruhnya.

Bencana tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengguncang jiwa. Karena itu, pemulihan ruhiyah menjadi bagian penting dari rehabilitasi. Masjid dan meunasah harus kembali menjadi pusat penguatan batin: tempat pengajian, ruang dialog, serta pusat trauma healing berbasis spiritual.

Semangat pelayanan berbasis masjid yang telah digalakkan di Masjid Agung Ruhama’ perlu diperluas hingga ke kampung-kampung terdampak. Ramadhan adalah momentum tepat untuk menghidupkan kembali peran imam kampung, tokoh adat, dan lembaga keagamaan sebagai penenang sekaligus penguat harapan.

Bangkit dalam Makna yang Sesungguhnya

Bangkit bukan berarti melupakan luka, tetapi mengelolanya menjadi energi perubahan. Bangkit bukan sekadar membangun kembali fisik yang rusak, melainkan membangun kesadaran baru tentang pentingnya mitigasi, tata ruang, dan solidaritas sosial.

Ramadhan mengajarkan disiplin, empati, dan kepedulian. Orang yang berpuasa merasakan lapar, agar memahami derita sesama. Dalam konteks pascabencana, empati harus melahirkan kebijakan yang berpihak, gotong royong yang nyata, dan keberanian menata ulang prioritas pembangunan.

Kita berharap, Ramadhan tahun ini menjadi titik balik: dari respons insidental menuju sistem yang lebih tangguh; dari kepedulian sesaat menuju solidaritas berkelanjutan; dari sekadar bertahan menuju kemandirian.

Syahrul Mubarok adalah bulan perubahan. Jika nilai-nilainya sungguh kita hidupkan—kejujuran, muhasabah, optimisme, dan kerja nyata—maka penanganan pascabencana bukan hanya proses rehabilitasi, tetapi jalan menuju kebangkitan Aceh Tengah yang lebih kuat, lebih jujur, dan lebih berkeadaban.

Semoga Ramadhan tahun ini bukan hanya kita lalui, tetapi benar-benar kita maknai sebagai momentum bangkit bersama. Marhaban yaa Ramadhan… []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.