Penulis: Dr. Budiyono, S.Hut, M.Si – Dosen Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih
UGP adalah anak kandung masyarakat Aceh Tengah, lahir dari semangat kolektif untuk memiliki universitas sendiri. Ia dibangun dengan harapan besar: menjadi rumah ilmu, tempat lahirnya pemimpin, dan kebanggaan daerah. Tetapi kini, wajah UGP tampak muram.
Kekacauan manajemen, belum saling terkait arah pemikiran yayasan dan rektorat, serta terpinggirkannya suara akademisi dan mahasiswa membuat kampus ini seakan kehilangan arah.
Pertanyaannya: apakah kita rela membiarkan cita-cita luhur pendirian UGP terkubur oleh ego dan kepentingan sempit, ataukah kita berani berdiri bersama untuk menyalakan kembali obor perubahan?
Paragraf ini bukan sekadar refleksi, melainkan ajakan agar setiap pembaca ikut menyuarakan pandangan, memberi opini, dan mendorong lahirnya energi kolektif untuk perubahan.
Karena sejatinya, universitas tidak akan pernah maju hanya dengan segelintir orang yang berkuasa di yayasan atau rektorat. UGP akan bangkit jika seluruh elemen—dosen, mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah—berani duduk bersama, menyatukan visi, dan menyusun langkah nyata.
Inilah saatnya kita menegaskan kembali bahwa UGP adalah milik bersama, dan masa depannya bergantung pada keberanian kita untuk menyingkirkan ego, membuka ruang dialog, serta merumuskan roadmap perubahan yang bisa mempercepat akselerasi menuju universitas unggul.
Kronologis Berdirinya UGP
- 1986 – Yayasan Gajah Putih Takengon didirikan melalui Akte Notaris Hajjah Zahara Pohan, SH di Banda Aceh.
- 1990 – Yayasan diperkuat kembali dengan Akte Notaris Usman, SH.
- 2008 – Universitas Gajah Putih resmi memperoleh izin operasional dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
UGP berdiri bukan sekadar sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai simbol perjuangan masyarakat Gayo untuk memiliki pusat ilmu pengetahuan di tanah sendiri.
Peran Pemerintah Daerah dan Tantangan Dukungan
Sejarah berdirinya UGP tidak bisa dilepaskan dari peran penting pemerintah daerah. Pemerintah bersama masyarakat Gayo adalah pendiri utama yang melahirkan universitas ini sebagai simbol perjuangan dan kemandirian pendidikan.
Namun, ironisnya, dukungan pemerintah daerah saat ini terasa lemah dan tidak konsisten. Padahal, tanpa dukungan penuh dari pemerintah, UGP akan kesulitan melakukan akselerasi menuju universitas yang unggul.
Kelahiran UGP adalah buah dari cita-cita kolektif, maka keberlanjutannya pun harus dijaga dengan komitmen yang sama.
Roadmap Perubahan untuk Akselerasi
Sudah saatnya semua pihak duduk bersama: yayasan, rektorat, dosen, mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah. Kita perlu menyusun roadmap perubahan yang jelas, terukur, dan berorientasi pada masa depan. Roadmap ini harus mencakup:
1. Reformasi Tata Kelola – Menata ulang hubungan yayasan dan rektorat dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
2. Forum Dialog Terbuka – Membuka ruang komunikasi reguler antar semua elemen kampus dan masyarakat.
3. Penguatan Kapasitas Akademik – Mendorong riset, publikasi, dan kreativitas mahasiswa.
4. Kolaborasi Eksternal – Menjalin kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, NGO, dan universitas lain.
5. Kepemimpinan Visioner – Menempatkan figur pemimpin yang mampu menjadi teladan, inspirasi, dan pemersatu.
Dengan roadmap ini, UGP bisa bergerak lebih cepat, bukan hanya bertahan, tetapi menjadi institusi pendidikan yang mampu melakukan akselerasi bagi kemajuan daerah.
Suara Dosen dan Mahasiswa
Sebagaimana pesan Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.” Mahasiswa UGP harus berani bersuara, menjadi motor perubahan, dan menjaga idealisme sebagai energi perbaikan. Dosen pun menginginkan ruang akademik yang sehat, transparan, dan mendukung pengembangan ilmu.
Harapan Masyarakat dan Stakeholder
Willem Iskander, tokoh pendidikan Sumatera, pernah berpesan: “Belajar itu bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk masyarakat.”
Pesan ini menegaskan bahwa UGP adalah milik masyarakat luas, bukan segelintir orang. Stakeholder pendidikan berharap UGP menjadi motor perubahan sosial yang nyata.
Narasi Bersama
UGP bukan milik yayasan atau rektorat semata. Ia adalah milik kita semua: dosen, mahasiswa, masyarakat, dan stakeholder pendidikan. Seperti kata R.A. Kartini, “Habis gelap terbitlah terang.” Saatnya kita bergandeng tangan, menyingkirkan ego, dan menatap masa depan dengan visi yang lebih besar: menjadikan UGP sebagai pusat keunggulan dan kebanggaan daerah.
Penutup
Kini, waktunya bukan lagi sekadar berbicara, melainkan bertindak. Pemerintah daerah, yayasan, rektorat, dosen, mahasiswa, dan masyarakat harus menyadari bahwa UGP berada di persimpangan jalan: apakah dibiarkan terpuruk, atau bersama-sama kita dorong untuk bangkit.
Jangan biarkan sejarah perjuangan pendirian UGP menjadi sia-sia. Mari kita jadikan universitas ini sebagai mercusuar pendidikan, kebanggaan Gayo, dan motor kemajuan Daerah Dataran Tinggi Gayo. Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu; perubahan hanya akan lahir jika kita berani melangkah sekarang. []





