Oleh : Fauzan Azima*
Tragedi Arakundo, atau yang juga dikenal sebagai Tragedi Idi Cut, terjadi pada 3 Februari 1999 di Idi Cut, Aceh Timur. Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan luka kolektif yang menegaskan betapa rapuhnya kemanusiaan ketika kekerasan mengambil alih akal sehat dan nurani.
Masa lalu memang takdir yang tak bisa diulang atau dihapus. Ia telah terjadi, menetap dalam ingatan, dan membentuk siapa kita hari ini. Namun sejarah bukan untuk diratapi tanpa akhir, melainkan untuk dibaca dengan jernih agar kita tak tersesat di jalan yang sama.
Dua puluh tujuh tahun telah berlalu sejak denting ketakutan menggema di tanah Arakundo. Waktu mungkin bergerak, generasi silih berganti, tetapi sejarah tetap aktual. Ia hadir setiap kali nurani kita disentuh oleh kabar kekerasan atau kebencian yang mengancam persaudaraan.
Setiap tahun peringatan digelar. Doa dibacakan, bunga ditabur, kisah diceritakan kembali. Namun sesungguhnya, kita memperingati untuk “melupakan,” bukan melupakan peristiwanya, melainkan melupakan dendamnya. Kita menjaga ingatan, tetapi melepaskan amarah yang dapat menumbuhkan luka baru.
Berdamai dengan sejarah bukan berarti membenarkan kesalahan, apalagi menutup mata terhadap ketidakadilan. Berdamai adalah keberanian menerima bahwa kekerasan tak pernah menjadi jawaban. Ia hanya menyisakan kehilangan, trauma, dan warisan getir bagi anak cucu bangsa.
Tragedi Arakundo mengajarkan bahwa kemanusiaan lebih tinggi dari segala kepentingan. Identitas, ideologi, atau perbedaan pandangan tak seharusnya menghapus empati. Ketika sesama anak bangsa saling melukai, yang runtuh bukan hanya tubuh, tetapi juga kepercayaan dan harapan bersama.
Belajar dari masa lalu berarti membangun masa depan dengan kesadaran baru. Bahwa kekerasan, dalam alasan apa pun, tak boleh lagi mendapat ruang. Bahwa perbedaan harus dikelola dengan dialog, bukan dengan senjata atau kebencian yang diwariskan turun-temurun.
Maka memperingati Tragedi Arakundo adalah komitmen moral. Kita mengingat agar tak mengulang. Kita menundukkan kepala untuk para korban, sekaligus menegakkan hati untuk menjaga kedamaian. Sejarah boleh pahit, tetapi masa depan harus kita maniskan dengan saling memaafkan dan menghormati.
(Idi Cut, Pebruari 14, 2026)







