Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Besinte berasal dari kata sinte ditambah awalan ‘be’ sehingga menjadi besinte. Dalam bahasa Indonesia kata kerja ditambah awalan ber, sebagai contoh jalan menjadi berjalan, hanya saja dalam bahasa Gayo huruf ‘r’ yang ada dalam kata itu tidak dibaca sehingga dia menjadi kata besinte.
Contoh lain bisa kita sebutkan seperti bersisu dalam bahasa Gayo dibaca dengan besisu, jadi ‘r’ nya tidak dibaca. Kata besinte ini bermakna bersama-sama, bekerja bersama, atau juga melaksanakan hajatan. Jadi besinte adalah melepas hajatan atau melaksanakan hajatan.
Arti kata besinte berbeda dengan gotong royong. Kalau istilah gotong royong adalah pekerjaan milik bersama dikerjakan secara bersama-sama, contohnya bergotong-royong membersihkan menasah, membersihkan jalan.
Itu artinya menasah adalah milik bersama kemudian dibersihkan secara bersama-sama, atau membersihkan jalan, jalan yang dibersihkan adalah milik bersama dan dibersihkan secara bersama-sama.
Sedangkan besinte adalah hajatan atau pada dasarnya pekerjaan itu adalah milik individual atau milik keluarga tertentu kemudian dikerjakan secara bersama-sama, atau pekerjaan tersebut dilaksanakan secara bersama-sama.
Sedangkan kata-kata yang mempunyai makna bekerja sama-sama atau bekerja bersama di dalam masyarakat Gayo itu ada beberapa kata, di antaranya adalah kata bejamu, mango lo atau mangan ongkosen.
Semua kata-kata ini menunjukkan kepada sebuah pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan secara bersama-sama.
Perbedaannya adalah kalau kata besinte mempunyai arti yaitu hajatan atau pekerjaan milik seseorang yang dikerjakan secara bersama-sama dengan tidak mengharap upah, juga tidak mengharap balasan kehadiran yang memiliki hajat pada waktu atau saat kita melaksanakan hajat di suatu saat.
Artinya kita yang tidak memiliki hajatan dan melakukan sinte tidak berharap akan balasan dari yang memiliki hajatan tersebut.
Sedangkan kata-kata bejamu atau bertamu dalam melaksanakan pekerjaan di dalam masyarakat Gayo ini bisa saja tamu atau jamu yang kita undang untuk melaksanakan pekerjaan, mereka akan kita berikan upah, atau boleh jadi ketika kita tidak memberikan upah maka suatu saat kita akan mengganti jasa atau hari yang dia luangkan untuk mengerjakan pekerjaan kita, sehingga pada saat dia membutuhkan maka kita wajib mendatangi atau melakukan perbuatan yang dikehendaki oleh pemilik pekerjaan tersebut.
Untuk pekerjaan hajatan yang sifatnya bejamu ongkosen, maka tamu yang mengerjakan pekerjaan akan diberi ongkos atau upah.
Sedangkan bejamu mango lo adalah mengajak atau mengundang orang untuk melakukan pekerjaan dengan menghitung jumlah hari dan suatu saat kita mengganti melakukan pekerjaan di tempat orang tersebut dengan jumlah hari sama. Untuk mango lo tidak menghitung jenis dan volume pekerjaan.
Karena itu tidak semua pekerjaan yang dilakukan secara bersama-sama dikatakan dengan besinte, sedangkan besinte dalam masyarakat Gayo dilakukan pada dua hal yaitu sinte morip dan Sinte mate.
Artinya adalah hajatan atau pekerjaan yang dilakukan secara bersama yang berhubungan dengan kehidupan atau hajatan yang berhubungan dengan perkawinan atau juga sunat Rasul dan lain-lain.
Kemudian sinte mate adalah pelaksanaan tajhiz mayat mulai dari awal sampai kepada akhir dari prosesi.
Dalam masyarakat Gayo kita sering mendengar ungkapan ketika seseorang ingin menikahkan anak mereka, mereka mengatakan kami male besinte, atau juga kita bisa mengatakan untuk orang lain si Polan male besinte, atau juga orang mengatakan dengan bahasa yang sama yaitu kami male muluwahi sinte, karena ini semua adalah kata-kata yang digunakan untuk pekerjaan yang akan dilakukan.
Ungkapan ini tidak berlaku kepada sinte mate, tidak ada orang yang mengatakan bahwa kami male besinte, dalam hal ini tidak ada ungkapan kami mau melaksanakan tajhiz mayat atau tidak ada juga kita dapatkan kata-kata kami nge muluwahi sinte untuk pelaksanaan tajhiz mayat yang sudah selesai dilakukan.
Jadi kata besinte juga harus disesuaikan dengan konteks, apakah untuk sinte murip ataj sinte mate.
Dalam tulisan ini kita akan lebih fokus membahas tentang sinte murip, khususnya sinte mungerje. Sinte mungerje adalah sebuah prosesi hajatan yang dilakukan oleh seseorang atau satu keluarga, kemudian juga dilakukan oleh keluarga besar serta menjadi pekerjaan bersama antara keluarga inti, keluarga besar dan seluruh belah atau suku atau kampung.
Artinya pekerjaan ini tidak hanya dilakukan oleh individu atau keluarga atau keluarga besar secara mandiri tetapi dikerjakan juga olehaparatkampung seperti reje, petue dan imem beserta keseluruhan masyarakat belah atau masyarakat kampung.
Acara besinte mungerje ini biasanya diawali oleh tahapan keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, artinya mereka ini bersepakat ingin menikahkan anak mereka. Setelah mereka sepakat lalu memberitahu kepada keluarga besar, utamanya keluarga ayah dan keluarga ibu.
Dan selanjutnya pekerjaan besinte ini diserahkan kepada aparat kampung beserta seluruh masyarakat, sehingga akhirnya pekerjaan ini menjadi tanggung jawab bersama dalam satu belah dan satu kampung.
Dan tidak ada lagi orang-orang yang meminta upah dan orang-orang yang memberi upah terhadap pekerjaan yang dilakukan selama masa besinte.
Ini dilakukan oleh semua orang dengan sukarela tanpa beban dan intinya adalah kebersamaan. Sedangkan kebutuhan yang bersifat material, utamanya yang berhubungan dengan belanja atau uang, ini menjadi tanggung jawab empuni sinte.
Sedangkan pekerjaan yang memerlukan tenaga seperti membuat dapur untuk memasak, membuat benten, mencari kayu bakar, mencari sayur-sayuran, menyebar undangan kepada saudara-saudara yang berada di luar kampung.
Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawab bersama. Selanjutnya kaum ibu menyiapkan masakan selama berlangsungnya acara besinte, baik acaranya berlangsung satu hari, dua hari, atau tiga hari tergantung kepada besar kecilnya acara. Pekerjaan bersama ini dilakukan sampai selesai.
Pekerjaan besinte ini diakhiri dengan bekerja bersama dengan merusakni benten, mencuci piring serta alat-alat masak yang lain, menyimpan barang-barang yang dipakai selama besinte, dan mengembalikan barang-barang pinjaman dari orang lain. Semua pekerjaan terakhir ini mengikutsertakan aman mayak dan inen mayak. []





