Oleh Hammaddin Aman Fatih*
Setiap penguasa (Presiden, Gubernur atau Bupati) muncul, tidak terlepas dari andil tim sukses Sepak terjang tim sukses selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju kekuasaan. Mereka bekerja di balik layar, menyusun strategi, membangun komunikasi, menggerakkan dukungan, hingga memastikan kemenangan dapat diraih.
Dalam dinamika politik dan kepemimpinan, tim sukses sering menjadi penentu arah, bukan hanya sebelum kemenangan, tetapi juga setelahnya.
Tidak jarang, sebagian tim sukses terjebak dalam romantika kemenangan. Kedekatan dengan kekuasaan berubah menjadi klaim jasa, bahkan tuntutan posisi. Jika profesionalisme tergeser oleh balas budi, maka yang muncul adalah praktik kedekatan, bukan kelayakan.
Dampaknya, kualitas tata kelola melemah dan kepercayaan publik perlahan menurun. Dan dalam proses waktu ada tim-tim sukses menjelma berubah wujut menjadi penjilat dan maklar kekuasaan atau obral jabatan yang ditukar dengan fulus.
Kekuasaan pada hakikatnya adalah amanah, alat untuk mengatur, melayani, dan menyejahterakan. Namun dalam praktiknya, kekuasaan sering kali berkelindan dengan kepentingan. Ketika kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan lebih dominan daripada kepentingan publik, maka arah kekuasaan bergeser: dari pengabdian menjadi penguasaan, dari pelayanan menjadi pengendalian.
Kepentingan tidak selalu salah. Ia menjadi energi yang mendorong lahirnya kebijakan dan keputusan. Tetapi kepentingan yang tidak dibingkai oleh etika dan tanggung jawab akan melahirkan penyimpangan: kebijakan yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, keputusan yang menguntungkan segelintir orang, serta hilangnya kepercayaan publik. Di titik inilah kekuasaan kehilangan legitimasi moralnya.
Kekuasan dan Krtikan
Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan yang terlalu lama bersekutu dengan kepentingan sempit cenderung melahirkan lingkaran elitis, di mana kritik dianggap ancaman, loyalitas dibeli, dan kebenaran dikaburkan. Dalam situasi demikian, rakyat hanya menjadi objek, bukan subjek pembangunan. Kekuasaan berjalan, tetapi keadilan tertatih.
Karena itu, menjaga jarak yang sehat antara kekuasaan dan kepentingan pribadi adalah keharusan. Transparansi, akuntabilitas, dan keberanian menerima kritik merupakan penyangga utama agar kekuasaan tetap berada di rel pengabdian. Pemimpin sejati bukan yang bebas dari kepentingan, melainkan yang mampu menundukkan kepentingannya demi kebaikan bersama.
Kekuasaan dan kritikan ibarat dua sisi dari mata uang yang sama tidak terpisahkan, saling menguji, sekaligus saling menjaga. Kekuasaan tanpa kritikan cenderung berjalan tanpa arah, merasa selalu benar, dan berpotensi menjauh dari kepentingan rakyat. Sementara kritikan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi sekadar kebisingan yang kehilangan makna. Di antara keduanya, demokrasi dan keadilan menemukan ruang hidupnya.
Kritikan sejatinya bukan ancaman bagi kekuasaan, melainkan cermin. Ia memantulkan realitas yang mungkin tidak terlihat dari balik meja kekuasaan. Melalui kritikan, kebijakan dapat diperbaiki, kesalahan dapat dikoreksi, dan arah pembangunan dapat diluruskan. Kekuasaan yang matang tidak alergi terhadap suara berbeda, karena ia sadar bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari tepuk tangan, tetapi sering muncul dari keberanian mengoreksi.
Namun, tidak semua kritikan lahir dari niat membangun. Ada kritikan yang digerakkan oleh kepentingan, emosi, bahkan prasangka. Karena itu, kritikan yang sehat harus berpijak pada data, etika, dan tujuan perbaikan. Kritikan bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menegakkan; bukan untuk memperkeruh, tetapi untuk menjernihkan.
Di sisi lain, penguasa yang bijak memahami bahwa kekuasaan bukan tentang membungkam suara, melainkan mendengar dan menimbang. Ketika ruang kritikan ditutup, yang tumbuh adalah ketakutan dan kepalsuan. Sebaliknya, ketika kritikan diberi tempat, kepercayaan publik akan menguat, dan legitimasi kekuasaan semakin kokoh.
Penjilat Dilingkaran Kekuasaan
Di setiap pusat kekuasaan, selalu ada dua tipe orang: mereka yang berani berkata jujur, dan mereka yang memilih menjadi penjilat. Kelompok kedua sering tampil paling dekat, paling setia, dan paling lantang memuji. Namun, kesetiaan semu itu kerap dibangun bukan atas dasar integritas, melainkan kepentingan pribadi. Dalam lingkaran kekuasaan, penjilat bukan sekadar penggembira, tetapi bisa menjadi racun yang perlahan merusak kualitas kepemimpinan.
Penjilat hidup dari sanjungan dan kepura-puraan. Mereka menghaluskan kesalahan pemimpin, menutup-nutupi fakta, dan memelintir realitas agar tampak indah di telinga penguasa. Akibatnya, pemimpin kehilangan cermin untuk bercermin. Kebijakan yang seharusnya dikoreksi justru dipertahankan, kritik yang seharusnya didengar malah dianggap ancaman. Kekuasaan pun berjalan dalam ilusi, bukan dalam kesadaran.
Lebih berbahaya lagi, penjilat sering mematikan suara orang-orang jujur. Mereka menciptakan suasana di mana keberanian dianggap pembangkangan, dan kejujuran dicap sebagai ketidaksetiaan. Dalam iklim seperti ini, kompetensi kalah oleh kedekatan, dan etika kalah oleh kepentingan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi alat pelayanan publik berubah menjadi panggung kepentingan sempit.
Penutup
Pada akhirnya, kekuasaan akan diuji oleh waktu: apakah ia menjadi jembatan kemaslahatan atau justru tembok ketidakadilan. Di sanalah integritas menemukan maknanya, bahwa kekuasaan bukan tentang seberapa lama bertahan, tetapi seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.
Kekuasaan dan kritikan harus berjalan dalam keseimbangan. Kekuasaan membutuhkan kritikan agar tetap lurus, dan kritikan membutuhkan kebijaksanaan agar tetap bermakna. Dari dialog yang jujur antara keduanya, lahir pemerintahan yang tidak hanya kuat, tetapi juga adil dan dipercaya.
Karena itu, pemimpin sejati bukanlah yang dikelilingi pujian, melainkan yang berani membuka ruang kritik. Sebab, masa depan sebuah kekuasaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak penjilat di sekelilingnya, tetapi oleh seberapa kuat keberanian untuk mendengar kebenaran, meski pahit. Tanpa itu, kekuasaan hanya akan berjalan menuju kehancurannya sendiri, perlahan namun pasti.
*Penulis adalah antropolog, penulis buku People of the Coffee dan Opini Cekgu serta sedang dalam proses menyiapkan penerbitan buku dengan judul “Dibalik Papan Tulis’…







