Oleh: Ahmad Syafiq Sidqi (Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Kalijaga Yogyakarta, asal Jagong Jeget Aceh Tengah)
Bencana yang melanda Sumatera dan Aceh dalam penghujung Novemver 2025 lalu meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Di sebagian wilayah terdampak rumah-rumah terendam banjir, lahan pertanian rusak parah, jembatan-jembatan putus, dan aktivitas warga lumpuh total.
Jalan-jalan yang biasanya ramai berubah menjadi genangan luas, sementara sekolah dan berbagai fasilitas umum tak lagi dapat digunakan. Kehidupan sehari-hari masyarakat terguncang, terutama mereka yang menggantungkan hidup dari hasil bumi.
Bagi saya, seorang mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya dari Jagong Jeget, sekaligus anak rantau yang tinggal jauh dari kampung halaman, kabar tentang bencana ini bukan sekadar informasi biasa.
Setiap berita yang datang dari tanah kelahiran terasa seperti pukulan emosional yang menghadirkan kegelisahan mendalam. Jarak yang membentang membuat saya dan anak-anak rantau lainnya tak mampu hadir secara langsung untuk membantu keluarga.
Kami hanya bisa memantau melalui media sosial, menunggu kabar lewat sambungan telepon, atau membaca berita dari media daring. Namun, rasa cemas tak pernah benar-benar reda. Hati terus diliputi kekhawatiran akan kondisi orang tua, saudara, dan tetangga yang sedang berjuang menghadapi bencana.
Keresahan anak rantau kian membesar ketika komunikasi tidak selalu berjalan lancar. Gangguan sinyal dan padamnya listrik di kampung halaman sering membuat kabar datang terlambat. Dalam situasi seperti ini, rasa tidak berdaya semakin terasa.
Keinginan untuk pulang begitu kuat, tetapi keterbatasan jarak, kewajiban kuliah, pekerjaan, serta akses transportasi membuat langkah itu sulit diwujudkan.
Pada akhirnya, doa menjadi satu-satunya penghubung yang paling setia antara hati anak rantau dan kampung halaman. Sementara itu, derasnya arus berita di media sosial tentang parahnya bencana justru kerap menambah kecemasan dan kegundahan.
Meski terpisah oleh jarak, solidaritas tidak pernah padam. Anak-anak rantau berusaha menggalang donasi, mengirimkan bantuan, atau setidaknya menyebarkan informasi agar perhatian publik tertuju pada bencana di Sumatera, khususnya Kabupaten Aceh Tengah.
Kami menyadari bahwa kehadiran fisik mungkin tak selalu memungkinkan, namun kepedulian tetap bisa diwujudkan melalui dukungan moral dan materi. Banjir dan longsor ini menjadi pengingat bahwa ikatan emosional dengan kampung halaman tidak pernah terputus, sejauh apa pun jarak memisahkan.
Yogyakarta, tempat kami menimba ilmu, menjadi salah satu potret nyata tingginya solidaritas dan kepedulian sosial.
Berbagai komunitas, organisasi kampus, masyarakat umum, hingga pemerintah daerah turut bergerak menggalang bantuan bagi korban bencana Sumatra-Aceh. Bahkan, banyak warung makan yang menyediakan makanan gratis bagi mahasiswa dengan alamat KTP Sumatra dan Aceh. Kepedulian ini menjadi penguat batin bagi anak rantau di tengah kegelisahan yang mereka rasakan.
Bencana banjir dan longsor di Sumatra-Aceh tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga mengguncang sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung terendam air, memaksa banyak keluarga mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan kondisi serba terbatas. Kehilangan tempat tinggal bukan sekadar kehilangan atap, melainkan juga hilangnya rasa aman dan kenyamanan yang menjadi fondasi kehidupan sehari-hari.
Dampak bencana ini terasa semakin berat bagi para petani. Sawah dan kebun yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Gayo terendam banjir, menimbulkan kerugian besar.
Tanaman kopi—komoditas unggulan Aceh Tengah—mengalami kerusakan serius dan terancam gagal panen. Akibatnya, pendapatan masyarakat menurun drastis, sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi.
Selain kerugian ekonomi, bencana juga melahirkan persoalan sosial yang kompleks. Anak-anak kehilangan ruang belajar karena sekolah terendam atau dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian.
Aktivitas masyarakat terhenti, pasar tradisional tidak beroperasi, dan banyak akses jalan terputus. Kondisi ini menghadirkan duka mendalam, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup pada aktivitas harian di kampung.
Lebih jauh, bencana ini menguji ketahanan mental masyarakat. Hidup dalam ketidakpastian, dengan rumah rusak dan lahan pertanian hancur, membuat sebagian warga diliputi rasa putus asa. Namun, di tengah keterpurukan itu, semangat gotong royong tetap tumbuh.
Warga saling membantu, berbagi makanan, dan menguatkan satu sama lain di lokasi pengungsian. Solidaritas inilah yang menjaga harapan tetap menyala, meski banjir telah merenggut banyak hal berharga.
Bagi anak rantau, setiap kabar dari kampung halaman selalu menjadi momen yang menegangkan. Komunikasi yang terbatas, sinyal yang sering terputus, serta listrik yang padam membuat informasi tidak selalu sampai tepat waktu.
Berjam-jam, bahkan berhari-hari, harus dilalui hanya untuk memastikan keadaan keluarga. Ketidakpastian ini menambah beban psikologis, karena segala kekhawatiran hanya bisa dibayangkan tanpa mampu disaksikan secara langsung.
Keresahan anak rantau bukan semata rasa cemas terhadap keluarga, tetapi juga rasa bersalah karena tidak bisa hadir di saat-saat paling sulit. Ada kerinduan untuk berdiri di samping orang tua, membantu membersihkan rumah, atau sekadar memberikan pelukan penguat. Semua itu terpaksa digantikan dengan kata-kata penghibur melalui telepon atau pesan singkat.
Pada akhirnya, keresahan anak rantau menjadi cermin betapa kuatnya ikatan emosional dengan kampung halaman. Jarak memang membatasi langkah, tetapi tidak pernah mampu memutuskan rasa cinta dan kepedulian.
Bencana banjir dan longsor di Sumatra-Aceh bukan hanya ujian bagi mereka yang terdampak langsung, tetapi juga bagi anak rantau yang harus menanggung beban emosional dari kejauhan.
Bencana ini menyisakan duka yang mendalam, terutama bagi anak rantau yang hanya bisa merasakan kegelisahan dari jauh. Namun, jarak bukanlah penghalang untuk peduli. Doa, dukungan, dan solidaritas menjadi jembatan yang menghubungkan hati dengan kampung halaman.
Tragedi ini seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa kebersamaan dan kepedulian adalah kekuatan yang mampu melampaui jarak, sekaligus pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana di masa depan. []






