Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, M.A*
Mah Kero adalah suatu tahapan proses pernikahan (mungerje) dalam adat Gayo yang merupakan tahapan terakhir dari semua rangkaian dan tahapan acara pernikahan.
Mah kero merupakan acara silaturahmi antara aman mayak dan inen mayak dengan keluarga pihak ayah (pakcik/bibik, cik kul, bibik kul, cik ucak, bibik ucak). Acara ini biasa dilakukan ketika inen mayak sudah sah dan menjadi bagian dari keluarga suami atau belah dari suami.
Acara mah kero ini aman mayak dan inen mayak ditemani (diantar) oleh ayah dan ibu (ama dan ine) dari aman mayak. Mereka berkunjung ke keluarga ayah (ama) dari pihak aman mayak sambil membawa nasi beserta lauknya dalam rantang dengan berjalan kaki karena pada masa itu (sebelum tahun 80-an) belum banyak kendaraan, terkadang menempuh jarak yang sangat jauh dan waktu yang lama.
Dalam perjalanan ini aman mayak mengenakan pakaian lengkap yaitu memakai celana panjang, kain sarung selutut, memakai kemeja putih, baju jas dan mengenakan peci hitam serta sendal semi kulit.
Demikian juga dengan inen Mayak mengenakan baju kebaya, pawak opoh panyang pakek stagen, selop jingket, wok besempol ditutupi kerudung. Perjalanan ini ditempuh dengan sudah payah karena pakaian yang dikenakan, sehingga menjadi ungkapan (pengaluten) bagi mereka yang jalannya lambat “nem pedi remalam nge lagu inen mayak”.
Apalagi saat itu jalan-jalan belum di aspal dan masih berbatu-batu. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya inen mayak berjalan pada saat itu, demikian juga dengan aman mayak yang baru pertama sekali memakai baju jas dan sendal baru, dan rantang ditenteng secara bergantian sampai ke tujuan yaitu rumah salah seorang dari keluarga ayah.
Sesampainya di tempat tujuan keluarga ama menyiapkan nasi dan makanan tambahan, kemudian mereka makan bersama. Apabila aman mayak dan inen Mayak tidak diantar ke rumah keluarga ama mereka akan marah karena dianggap tidak dihargai oleh sebagai keluarga ama. Setelah makan dan membereskan semua perlengkapan makan kemudian mereka bercerita sejenak.
Kemudian ama, ine, aman mayak dan onen mayak pamit pulang. Kunjungan ini dilakukan untuk keluarga ama secara bergantian baik berurut atau acak.
Silaturrahmi seperti diatas saat ini dilakukan secara berbeda, aman mayak dan inen mayak pergi berdua dengan mengenderai motor, sedangkan orang tua (ama ine) tidak lagi ikut serta.
Pakaian yang dikenakan lebih simpel, aman mayak mengenakan pakaian biasa dan inen mayak mengenakan pakaian muslimah. Mereka tetap membawa nasi dan lauk dan keluarga yang dikunjungi tepak menyiapkan nasi, lauk dan makanan tambahan lainnya, untuk selanjutnya dimakan bersama.
Kendati terjadi perubahan pelaksanaan mah kero namun tetap mengandung nilai silaturrahmi dan penghargaan kepada keluarga ama, yang sebenarnya mereka adalah walindari aman mayak dan inen mayak. []






