Oleh Dr. Jamhuri Ungel, M.A*
Besene adalah istilah dalam bahasa Gayo yang dapat diartikan dengan bercanda atau bersenda gurau. Acara ini merupakan satu tahapan dari proses pelaksanaan mungerje/perkawinan di dalam adat Gayo yang dilaksanakan
pada malam hari, di mana pada siang harinya diadakan acara munyawahni ukum atau akad nikah. Setelah akad nikah, dalam adat Gayo biasanya langsung diadakan acara walimah atau resepsi di tempat kediaman pihak perempuan atau Inen Mayak.
Kemudian pada malam harinya diadakanlah acara besene, atau istilah lain juga sering disebut dengan acara beru-bujang.
Dikatakan dengan acara beru-bujang karena acara ini hanya boleh diikuti oleh beberu dan bebujang atau pemuda pemudi yang ada di kampung tersebut, sedangkan orang yang sudah menikah dan anak-anak tidak dibolehkan untuk mengikuti acara ini.
Menurut adat Gayo, setelah beberu dan bebujang yang ada di kampung tersebut berkumpul dalam satu ruangan, maka dihadirkanlah aman mayak dan inen mayak. Keduanya duduk sebagai pengantin baru, dan protokol memperkenalkan aman mayak kepada beberu-bebujang yang hadir pada acara ini.
Kemudian acara ini juga merupakan acara perpisahan antara inen mayak dengan beberu-bebujang yang ada di kampung tersebut karena inen mayak merupakan sahabat bermain, sahabat bercanda, sahabat dalam suka dan duka dari beberu dan bebujang sekampung.
Perkenalan aman mayak dengan beberu-bebujang kampung inen mayak sangat perlu, karena tutur atau panggilan aman mayak kepada orang-orang yang ada di kampung tersebut sangat menentukan sikap dan moral yang ditunjukkan aman mayak sebagai anggota baru di kampung.
Pada saat inen mayak telah melangsungkan akad nikah berarti dia sudah meninggalkan status sebagai gadis atau beru dalam kampung tersebut, dan menuju kepada status sebagai orang yang dituakan yang harus menjaga sikap, langkah dan tutur kata.
Setelah selesai acara perkenalan dan perpisahan yang dipandu oleh protokol, maka selanjutnya diadakan acara salam semah Fatanah oleh aman mayak dan inen mayak kepada beberu-bebujang yang hadir.
Dalam acara salam semah Fatanah ini banyak kejadian-kejadian yang terkadang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang menyedihkan, karena perpisahan antara inen mayak dengan beberu-bebujang yang ada di kampung, sehingga tidak jarang terdengar isak tangis dari mereka.
Acara ini juga boleh jadi dianggap sebagai acara plonco, atau dalam bahasa yang lebih ringan beberu dan bebujang kampung mengganggu aman mayak. Sehingga boleh jadi kalau aman mayak tidak mempunyai keberanian atau mental yang kuat, ia bisa menangis karena perilaku yang ditunjukkan oleh teman-teman sebaya mereka. Karena itulah acara ini dilarang diikuti oleh mereka-mereka yang sudah menikah atau anak-anak yang masih di bawah umur.
Acara yang sama juga dilakukan di tempat kediaman pihak aman mayak. Di mana acara di tempat aman mayak juga diadakan resepsi atau walimah pada siang hari, dan pada malam hari diadakan acara besene atau beru-bujang.
Acaranya persis sama sebagaimana yang dilakukan pada saat di tempat pihak inen mayak. Selanjutnya juga diadakan acara salam semah Fatanah antara inen mayak dan aman mayak dengan beberu- bebujang yang ada di kampung kediaman aman mayak.
Biasanya yang diganggu adalah inen mayak. Tidak jarang terjadi sampai inen mayak menangis karena senda gurau dari beberu-bebujang yang ada di kampung aman mayak. Ini adalah merupakan satu tradisi atau adat mungerje yang sudah berlangsung dari zaman dahulu dalam masyarakat atau adat Gayo sampai dengan sekarang. []






