Oleh : Fauzan Azima*
Di dataran tinggi, kabar beredar: Pak Ucin mulai halusinasi, bukan karena angin gunung, melainkan riuh mogok nakes, jasa medis, dan ambisi lama yang mendadak terasa dekat di kepala publik ramai.
Rumah sakit sunyi, koridor panjang menggema, tersisa sebelas nakes setia, berbagi sif siang malam, bekerja seperti akrobat, sementara tabel jasa medis berkelit, konon adil di atas kertas yang licin, rapuh.
Yang paling sayang tentu pasien, menunggu perawatan sambil menimbang nasib, sebab nyawa bukan pion catur, apalagi alat tawar jasa medis yang terasa timpang di ruang publik, moral dan nurani kolektif.
Di balik kisruh, politik belah bambu menari: satu diangkat tinggi, satu diinjak dalam-dalam, yang terinjak justru atasan Pak Ucin, katanya menghilang, menyeberang, meninggalkan kursi kosong tanpa salam, tanggung jawab, jelas.
Ketiadaan orang nomor satu memantik spekulasi warga warung kopi, apakah kabur dari tanggung jawab, atau sengaja memberi panggung, membiarkan Pak Ucin latihan mimpi besar dengan senyum poster lama, baliho kusam.
Konon, dalam halusinasinya, Pak Ucin sudah memanggil dirinya pemimpin, menata pidato cermin, menyalami bayangan, dan membagi jabatan, sementara realitas menguap bersama sif malam, siang, lelah, publik, sinis, riuh, sunyi.
Curiga pun tumbuh, skenario disusun rapi, mogok dibiarkan membesar, agar publik menyimpulkan sederhana: yang hilang tak bertanggung jawab, yang tersisa tampak bekerja, meski panggungnya retak dan naskah berulang, getir, lucu.
Parah, krisis nyawa dibingkai drama, kamera imajiner menyala, tepuk tangan bisu terdengar, sementara pasien menunggu, dan nakes berhitung tenaga, waktu, serta kesabaran di lorong sepi, etika publik, politik, banal, getir.
Humor pahit beredar, negeri seberang jadi metafora, kursi kosong berwibawa, dan Pak Ucin menulis takdir, seolah mandat turun dari kabut, bukan proses, bukan tanggung jawab yang jujur, adil, transparan, manusiawi.
Pada akhirnya, satire ini berharap waras, jasa medis dibenahi, pasien diutamakan, politik berhenti sandiwara, dan Pak Ucin menurunkan volume mimpi, kembali bekerja, sebelum halusinasi jadi kebijakan yang merugikan, publik, semua.
(Mendale, Januari 27, 2026)





