Oleh : Fauzan Azima*
Zaman dahulu kala, di pinggiran hutan Gayo yang berkabut dan dingin, hiduplah sebuah keluarga sederhana: ayah pemburu, ibu penenun, dan seorang anak gadis yang menjadi cahaya rumah kayu mereka. Hidup mereka tenang, sampai satu janji mengubah segalanya.
Sang ayah dikenal sebagai pemburu andal. Ia jarang membawa pulang hasil yang mengecewakan, dan lebih jarang lagi menahan diri untuk tidak membesar-besarkan ceritanya. Di kampung, namanya selalu disebut dengan nada kagum bercampur ragu.
Ketika putrinya hendak dinikahkan, ia berjanji akan menyajikan hidangan luar biasa: rusa jantan yang mengandung, masyarakat Gayo menyebutnya; “Bujang Lano manak delem.” Orang-orang terdiam. Secara adat, janji adalah kehormatan. Secara akal sehat, itu mustahil.
Hari pernikahan tiba. Tenda berdiri, doa dipanjatkan, tamu berdatangan. Namun rusa yang dijanjikan tak pernah ada. Hutan seolah menertawakan kesombongan manusia. Sang ayah berdiri dengan wajah pucat, lebih berat menanggung malu daripada memikul kayu bakar.
“Daripada malu lebih baik mati,” bisik hati sang ayah.
Malam itu ia pergi ke hutan. Bukan mencari rusa, melainkan mencari jalan keluar dari harga diri yang runtuh. Ia tak kembali. Warga berkata ia moksa.
Sejak kepergiannya dan hilang di tengah rimba, masyarakat menyebut dirinya Pawang Tue, penjaga hajat terakhir, tempat orang menyerahkan perkara yang tak lagi bisa dijelaskan.
Pawang Tue bukan sekadar legenda. Ia adalah simbol: bahwa manusia yang kalah oleh janjinya sendiri sering memilih menjadi mitos agar tak perlu lagi berhadapan dengan kenyataan. Lucunya, orang-orang tetap memanggilnya setiap kali masalah tak kunjung selesai.
Salah satu permintaan yang disandarkan padanya disebut pepiluk. Ritualnya sederhana; seserahan; awal, bertih, tenaruh dan pepanyi.
Pepiluk dipercaya bisa memanggil pulang siapa saja yang lupa jalan kembali, terutama mereka yang terlalu lama merantau dan merasa dunia lebih kecil dari ambisinya.
Di kampung itu pula lahir seorang anak bernama Tamliha. Ia cerdas, keras kepala, dan tak pernah tahan melihat sesuatu tanpa ingin mengubahnya. Karena tabiatnya yang gemar beradu dan “menendang” pendapat orang, ia dijuluki Trump-teram.
Trump merantau jauh hingga ke Amrik. Di negeri besar itu ia tumbuh menjadi sosok yang suaranya didengar banyak orang. Sebagian menganggapnya berani, sebagian lagi menganggapnya badai yang terlalu sering datang tanpa musim.
Di kampung, warga mengikuti kabarnya dari layar televisi kecil di warung kopi. Setiap kali ia berbicara keras, ada yang tersenyum bangga, ada yang menghela napas panjang. “Itu anak kita,” kata seorang tetua. “Tapi kenapa seperti lupa nada bicara orang kampung?”
Semakin tinggi ia melangkah, semakin besar pula riuh yang mengiringinya. Ia gemar membuat batas, mengukur dunia dengan garis tegas, seolah segala sesuatu bisa diselesaikan dengan suara lantang dan tangan mengepal.
Kabar tentang Trump semakin viral karena ambisi dan usaha menutupi skandalnya, ia merekayasa untuk menyerang negara-negara yang dianggap penentang dan tokoh-tokohnya ditangkap. Ia bertindak seolah Amrik sebagai polisi dunia.
Akhirnya para tetua adat berkumpul. Bukan untuk mengutuk, melainkan untuk merenung. Mereka sadar, kadang kampung terlalu cepat melepas anak-anaknya tanpa cukup menanamkan akar. “Keserahen ko ku Pawang Tue,” ucap seorang datu pelan.
Ritual pepiluk digelar. Awal, bertih, tenaruh dihidangkan dan pepanyi dikibarkan. Mantra dibaca bukan untuk mencelakai, melainkan untuk melembutkan hati. Di sela-sela doa, terselip harapan sederhana: semoga kekuasaan tak memutus ingatan akan asal.
Konon, di waktu yang hampir bersamaan, Trump mendadak terdiam di balik dinding gedung tinggi. Ia teringat suara ibunya, aroma kopi pagi, dan kabut hutan yang tak pernah memaksa siapa pun menjadi lebih dari dirinya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, ia pulang. Bukan sebagai penakluk dunia, melainkan sebagai anak yang ingin duduk kembali di bangku kayu warung kopi. Orang-orang menyambutnya dengan senyum tipis, antara lega dan geli.
“Bagaimana dunia?” tanya seorang pemuda.
Trump tersenyum kecut. “Lebih rumit dari hutan. Di hutan, kalau kita tersesat, kita yang salah. Di dunia, kalau kita tersesat, kita sering menyalahkan peta.”
Orang-orang tertawa pelan. Tidak meledak, tidak berlebihan. Tawa yang mengerti bahwa cerita ini bukan sekadar tentang satu orang, melainkan tentang siapa saja yang terlalu percaya pada janji dan kekuatan dirinya sendiri.
Sejak itu, setiap ada kabar tentang orang yang terlalu tinggi melangkah hingga lupa tanah tempat berpijak, warga cukup berbisik, “Keserahen ko ku Pawang Tue.” Bukan karena mereka tak mampu berpikir, tetapi karena mereka tahu, kadang yang perlu dipanggil pulang bukan tubuh, melainkan kesadaran.
(Mendale, Maret 3, 2026)





