Manusia, Harimau, dan Kerbau: Rantai Hidup yang Tak Terpisah

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Diskusi di Banda Aceh bersama Joe Figel, peneliti konservasi harimau Sumatera, mengingatkan kita bahwa manusia, harimau, dan kerbau bukan kisah terpisah, melainkan satu rantai kehidupan ekologis, spiritual, dan kultural yang saling menentukan masa depan bersama.

Di hutan belantara Gayo, kabut pagi, sungai bening, dan hutan lebat menjadi rumah “nenek” begitu Joe Figel menyebut harimau, makhluk agung yang berjalan sunyi, meninggalkan jejak lembab, penanda bahwa rimba masih bernapas dan kehidupan tetap berdenyut di tanah basah alami.

Orang Gayo menyebut harimau dengan “regom” atau “kucing kul” bukan sekadar predator menakutkan, melainkan penjaga keseimbangan alam, ciptaan Tuhan yang berperan mengendalikan populasi satwa, menjaga hutan muda, sumber air, serta harmoni kehidupan di kawasan pegunungan bagi manusia, hewan, dan masa depan bersama.

Dalam rantai kehidupan, manusia, harimau, dan kerbau saling terhubung. Harimau mengontrol mangsa, kerbau menopang pertanian, sementara manusia diberi akal untuk menjaga batas agar rimba, sungai, ladang hidup berdampingan seimbang adil, lestari, aman, jangka panjang bersama.

Masalah muncul ketika keseimbangan terganggu. Penebangan liar, perambahan hutan, penambangan, pembukaan lahan dan jalan tanpa kendali mempersempit habitat harimau, memaksanya keluar hutan, memasuki kebun, kampung, dan memicu konflik mematikan bagi manusia, kerbau, alam, serta masa depan bersama.

Kerbau yang menjadi sandaran hidup masyarakat kerap menjadi korban. Ketakutan melahirkan balasan berupa jerat, racun, dan peluru. Dalam lingkaran ini, bukan hanya harimau terluka, tetapi juga nurani manusia serta keseimbangan ekologis sosial spiritual bersama hancur.

Padahal, kearifan masyarakat tua di Gayo memandang harimau sebagai penjaga alam. Doa, salam masuk hutan, dan sikap hormat menjaga relasi batin, mengingatkan bahwa rimba bukan milik manusia semata melainkan titipan Tuhan, generasi, masa depan, bersama, berkelanjutan, lestari.

Keyakinan spiritual tersebut menempatkan manusia setara dengan makhluk lain sebagai sesama ciptaan Tuhan. Saat pandangan ini hilang, yang lenyap bukan hanya harimau, melainkan jiwa manusia yang menghormati kehidupan alam, budaya, nilai, etika, sosial, bersama, lestari.

Menyelamatkan Harimau Sumatera berarti memulihkan kesadaran ekologis dan spiritual. Ini bukan sekadar konservasi satwa langka, melainkan ikhtiar menjaga rantai kehidupan agar manusia, kerbau, dan hutan tetap seimbang adil, lestari, aman, berkelanjutan, jangka panjang, bersama, semua.

Di Gayo, hutan adalah panggung kehidupan. Menjaga harimau berarti menjaga keseimbangan alam, martabat manusia, dan masa depan bersama, karena ketika satu putus, seluruh rantai kehidupan ikut pincang perlahan, menyakitkan, sunyi, ekologis, sosial, spiritual, kemanusiaan, kita.

(Mendale, Januari 26, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.