Oleh : Fauzan Azima*
Orang-orang tua di Gayo mengenal konsep anasir opat: tanoh, wih, kuyu, dan rara. Ia bukan sekadar unsur alam, melainkan pengetahuan tentang siklus bencana.
Tanoh adalah tanah, wih adalah air, kuyu adalah angin, dan rara adalah api. Keempatnya diyakini bergerak bergiliran, saling memanggil, dan tak pernah berdiri sendiri.
Dalam pandangan orang tua Gayo, alam tidak datang menghukum, melainkan memberi isyarat. Bencana hadir ketika keseimbangan anasir terganggu oleh tabiat manusia.
Sejarah mencatat, gempa bumi hampir selalu diikuti tanah runtuh. Tanoh yang bergeser memanggil wih, lalu air bah turun tanpa permisi.
Dari gunung maupun laut, banjir bandang datang sebagai kelanjutan. Air tidak sekadar mengalir, tetapi membawa pesan bahwa fase telah berganti.
Setelah air, kuyu mengambil peran. Angin menguat, badai laut beralih ke darat, memukul pesisir dan memaksa manusia kembali waspada.
Aceh kini berada pada fase badai laut. Ombak meninggi, cuaca ekstrem berulang, dan nelayan membaca tanda yang sama seperti leluhur mereka.
Isyarat badai menguat bukan ramalan mistik. Ia terbaca dari perubahan iklim, kerusakan pesisir, dan laut yang kehilangan keseimbangannya.
Jika kuyu dibiarkan liar, rara akan menyusul. Angin kencang yang kering membawa api, dan kebakaran menjadi bencana berikutnya dalam pergiliran.
Begitulah anasir opat bekerja: satu membuka jalan bagi yang lain. Alam bergerak sistematis, sementara manusia sering membaca secara terputus-putus.
Masalahnya bukan pada datangnya bencana, melainkan pada kegagalan kita memahami siklus. Pengetahuan lokal kerap disisihkan oleh kesombongan modern.
Padahal, orang tua Gayo telah lama mengajarkan kewaspadaan. Mereka menyelaraskan hidup dengan alam, bukan menantangnya dengan rakus.
Hari ini, Aceh diminta waspada. Bukan sekadar imbauan cuaca, tetapi peringatan kultural yang lahir dari ingatan panjang masyarakat.
Langkah antisipasi harus diperkuat: perlindungan pesisir, kesiapsiagaan warga, jalur evakuasi, serta kejujuran pemimpin dalam membaca risiko.
Tanpa itu, kita hanya akan sibuk menghitung korban setelah badai berlalu. Alam tidak pernah ingkar, manusialah yang sering lupa.
Anasir opat mengingatkan kita satu hal penting: bencana bukan kejadian tunggal, melainkan rangkaian. Membacanya utuh adalah syarat untuk selamat. []
(Mendale, Januari 19, 2026)






