Oleh : Fauzan Azima*
Ini bukan kisah di kampungku. Jaraknya ratusan kilometer dari tanah Gayo yang dingin, tempat kopi diajarkan tumbuh sabar dan manusia belajar malu jika berjanji berlebihan.
Di sana, kekuasaan sedang dirawat bukan dengan kebijakan, melainkan dengan skin care politik yang rutin, telaten, dan mahal, walau hasilnya mulai kusam.
Peran eksekutif tak ubahnya air rendaman bedak dingin. Fungsinya membersihkan wajah ibu ketua sebelum tampil, bukan membersihkan persoalan.
Jika ada kebijakan salah arah, cukup diseka pelan, lalu disajikan ulang dengan senyum dingin khas dataran tinggi. Rakyat diminta percaya: “Ini cuma cuaca.”
Ibu ketua adalah peracik utama. Seperti barista di Gayo menyeduh kopi, ia tahu siapa disaring, siapa diendapkan, siapa dibuang jadi ampas.
Semua langkah mengarah ke satu panen besar: Pilkada 2029. Jika kursi legislatif bisa dihangatkan dulu, mengapa tidak sekalian diwarisi? Tidak ada salahnya naik kelas dari legislatif ke eksekutif.
Eksekutif yang merasa berkuasa sejatinya cuma alu di lesung. Bunyi mereka nyaring, tapi arah tumbukan sudah ditentukan. Sehingga para kadispun adalah orang-orang ibu ketua.
Mereka boleh berdebat keras, asal hasil akhirnya tetap halus di wajah ibu ketua. Demokrasi dijadikan kosmetik, bukan prinsip, dipakai saat perlu, disimpan saat mengganggu.
Kekuatan ibu ketua, kata orang-orang di warung kopi, bukan pada gagasan, melainkan pada penguasa bayangan yang jumlahnya tidak lebih dari tiga serta tokoh-tokoh.
Tokoh yang menokoh penting menjalar seperti akar benalu tua yang menggerogoti kopi di lereng: diam, kuat, dan membuat tanaman lain sulit hidup. Yang berbeda pendapat disebut gulma, lalu dicabut sebelum sempat berbunga.
Padahal orang Gayo paham satu hal: kabut boleh tebal, tapi matahari tak bisa dibohongi terus-menerus. Bedak dingin, jika dipoles berlebihan, justru retak saat siang. Wajah yang terlalu dijaga akhirnya kehilangan seri aslinya.
Penegasan akhir, eksekutif yang saban hari ngonten untuk pencitraan tidak lebih sebagai “skin care” ibu ketua. Tapi percayalah, skin care politik hanya meninggalkan satu kesimpulan: yang luntur bukan bedaknya, tapi kepercayaan.
(Mendale, Januari, 2026)





