Oleh : Marah Halim*
Hujan tak henti beberapa hari (apakah sampai 6 hari atau lebih atau kurang, penulis tidak ingat pasti) di akhir bulan November 2025. Puncaknya di tanggal 26, Sumatera khususnya Aceh dilanda bencana banjir dan tanah longsor, jembatan-jembatan penghubung utama antara kabupaten ambruk bak kerupuk, jalan-jalan beraspal hotmix pecah bagai keripik; ya itu baru sebulan setengah yang lalu, tapi kita mudah lupa.
Kita lupa betapa susahnya keadaan ketika itu. Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues total terisolasi. Listrik mati, BBM langka, beras tak ada, kehidupan balik zaman behaula. Kita lupa, berhari-hari warga ketiga kabupaten itu harus berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk menukar hasil bumi dengan beras.
Kita mulai lupa dan seolah mulai terbiasa dengan barak-barak penampungan pengungsi; kita seperti melihat biasa-biasa saja lahan-lahan pertanian tertimbun tanah dan harus di-“rukah” lagi agar bisa berfungsi lagi. Ya, kita memang mudah sekali lupa.
Dalam gejala mulai lupa itu, kita mulai tidak concern lagi membicarakan akar penyebab bencana ini. Penyebabnya mudah dan sangat-sangat mudah menemukan akar penyebabnya; yakni “akar” juga; turun gunungnya akar-akar pohon yang telah dipotong batang, cabang dan daunnya; padahal daun dan batang juga mutlak untuk kelangsungan hidup pohon.
Orang kita hanya perlu batangnya, akarnya dibiarkan mati dan lapuk; apalagi daunnya hanya jadi rongsokan di tengah hutan. Itulah gambaran perlakuan orang kita, tak perlu cari kambing putih menyalahkan orang lain.
Bagaikan, maaf, pemerkosa, kita hanya mau enaknya saja dan tak peduli sama sekali dengan korban. Itulah yang terjadi setelah berpuluh tahun. Di kampung penulis sendiri, dengan mata kepala langsung, penulis melihat proses penebangan demi penebangan 30 tahun yang lalu; orang kita buat perkebunan kopi di puncak gunung dan bukit, yang lebat hutannya masih perawan; tapi tak ada upaya sama sekali mencegah penebangan itu; padahal itu lokasi itu terlihat dari kantor Bupati.
Gelondongan kayu yang turun kemarin itu bukanlah hasil “pemerkosaan” hutan setahun yang lalu; itu adalah buah dari penebangan 30 tahun yang lalu itu. Akar-akar tanpa batang dan daun pada akhirnya renta dan menemui ajalnya; saat itulah jasanya menahan air di puncak-puncak yang tak terjangkau sembarang orang, pelan-pelan, sedikit-demi sedikit runtuh. Beratnya bobot air hujan pada tanggal 26 November itu hanya jadi faktor pemacu saja untuk mempercepat gelondongan kayu itu menyusul batangnya yang sudah jadi papan-papan dan tiang rumah kita.
Masih perlu berapa kali bencana lagi untuk menyadarkan kita. Mengapa orang kita belum juga bisa merubah paradigma ekstensifikasi menjadi intensifikasi? Mengapa kita tidak belajar dari saudara-saudara kita yang datang jauh lebih belakangan dari kita? Mereka berpikir intensif; sanggup menghidupi keluarganya hanya dengan gerobak martabak dan kue pancung seukuran 60 x 150 cm. Mereka bisa hidup dengan ruko 4 x 12 m; yang mereka incar adalah persimpangan jalan, dimana ada jalan dan persimpangan mereka telah lebih dulu “menyegel”-nya.
Mereka bisa hidup dari rasa lapar orang dengan berjualan makanan, minuman; atau menjual jasa untuk orang yang telah gondrong rambutnya, jual jasa untuk orang yang bolong tapak sepatu atau sandal-nya; jual jasa pada orang yang perlu ditempah baju dan celananya. Mereka jual jasa pada orang kita yang rusak mobil atau motornya.
Mereka tidak perlu “memperkosa” hutan dan danau yang indah itu, mereka cukup menunggu mereka-mereka itu datang ke persimpangan-persimpangan dengan perut yang lapar, rambut yang gondrong, pakaian yang robek, sepatu yang bolong.
Tapi orang kita tidak mau belajar dari saudara-saudara kita yang dari pesisir itu. Orang kita masih merasa superior hanya karena merasa nenek moyangnya dulu lebih awal mendiami dataran tinggi itu.
Merasa gunung-gunung dan bukit-bukit itu bertambah luas. Setiap kali mereka menjual kebun yang telah mereka rintis dari nol, mereka akan naik ke puncak gunung dan bukit lagi; meneropong gunung dan bukit mana lagi yang “masih perawan”. []






