Purnama K Ruslan
Lat batat kayu atu
enti ara runtuh agih
Relawan seperti detak nadi, dalam senyap menyalakan api dalam getir sunyi memahat peradaban
Relawan seperti matahari
menyinari terus menyinari meski letih dan perih
Meski lapar lelah menerpa tubuh ringkih
O
Lat batat kayu atu
Enti ara runtuh agih
Relawan menembus gelap yang kejam dengan cahaya keihklasan
Membagi terangnya
pada tubuh tubuh yang gigil menahan sakit Relawan membelah gunung-gunung yang terluka
Menerjang longsor lumpur dan batu-batu menopang kaki kaki gemetar yang takut akan masa depan
O
Relawan melewati kepalsuan duniawi mereguk rasa duka, sunyi, tak hirau dengan sakit dan perih
Bergerak tanpa pamrih, menembus segala narasi
O
Lat batat kayu atu enti ara runtuh agih
Relawan menelan semua kepedihan
lalu menjadikannya nafas cinta menyambung harapan yang patah menjelma dalam kasih sayang
Duhai
Relawan memanggul puisi puisi para indatu Menerobos malam-malam pekat, dingin dan beku Membawa cinta dari langit semesta
O
Lat batat kayu atu
enti ara runtuh agih.[SY]
Takengon, Januari 2026.





