Oleh : Marah Halim*
Hingga tahun 2005, di UIN Ar-Raniry terdapat suatu program pendidikan khusus setelah mendapat ijazah Sarjana, prorgam belajar tersebut dinamai Studi Purna Ulama (SPU), sebuah program yang sangat diminati oleh siapa saja yang baru menyelesaikan studi di IAIN (UIN) Ar-Raniry.
Tidak semua orang yang berminat diterima karena kuotanya terbatas, hanya untuk 30 orang untuk satu angkatan. Penulis sendiri adalah angkatan tahun 2000.
Hanya ada 3 materi yang dijejal pada program tersebut, yakni Bahasa Inggris, bahasa Arab, dan Pemikiran Islam. Yang mengajarnya adalah para punggawa IAIN Ar-Raniry ketika itu.
Penulis bersyukur masih berkesempatan kuliah dengan Prof. Shafwan Idris, Rektor IAIN saat itu yang kini sudah almarhum. Juga ada Prof. Yusni Saby, juga pernah menjadi Rektor IAIN/UIN Ar-Raniry. Juga Prof. Al-Yasa’ Abubakar; ketiga mereka mengampu mata kuliah Pemikiran Islam.
Bahasa Inggris diampu oleh punggawa LDC ketika itu, yakni Prof. Luthfi Aunie dan Dr. Mustafa AR, sedangkan Bahasa Arab diampu oleh Prof. Azman Ismail dan Dr. Usman Husein.
Yang hendak penulis nukilkan dalam tulisan ini adalah cerita dari Prof. Yusni Saby ketika mengisi Perkuliahan Pemikiran Islam. Dalam salah satu sesi perkuliahan dengan beliau, beliau menceritakan pengalamannya ketika kuliah di Amerika.
Salah seorang rekan kuliahnya adalah seorang Yahudi. Temannya itu pernah bercerita, ketika perang dunia ke-2, saat orang-orang Yahudi dipersekusi oleh Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler, di pengungsian-pengungsian setiap ibu-ibu rumah tangga memelihara ayam untuk kebutuhan gizi keluarga.
Mengapa ayam dan bukan yang lain? Alasannya karena kandungan gizi yang ada pada ayam cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga di samping rasanya yang enak. Ayam juga mudah dipelihara dan cepat pertumbuhnnya.
Dagingnya bisa diolah menjadi aneka rupa olahan, baik dagingnya sendiri maupun dicampur dengan yang lain. Ayam juga bukan tipe yang milih-milih makanan; ia termasuk pemakan semua, mulai dari tumbuhan hingga daging, baik yang segar atau sudah basi; di antara alasan ibu kita pelihara ayam salah satunya adalah untuk “pemakan ni amur”; sisa-sisa makanan yang mubazir kalau dibuang begitu saja.
Belajar dari cerita singkat di atas, tanpa perlu mempersoalkan “unsur” Yahudi dalam cerita tersebut, yang perlu diambil dan diadopsi oleh para keluarga yang sedang dalam pengungsian saat ini di berbagai fasilitas penampungan maupun di tenda-tenda, maka jangan lupa memelihara ayam. Selain ayam, yang paling mudah dipelihara adalah bebek, apalagi dengan adanya lumpur, wahana yang disukai oleh unggas ini. Salah satu jenis bebek yang sarat daging adalah entok.
Instansi terkait perlu mempertimbangkan hal ini, karena untuk mengentaskan para korban dari derita pengungsian, mereka harus diberi “kail” untuk bisa memancing ikan. Tidak mungkin selamanya mereka bergantung pada bantuan dan donasi.
Masyarakat Gayo bukan tipikal orang yang bergantung pada orang lain dan salah satu pantangan mereka sesungguhnya adalah menengadahkan tangan meminta sedekah.
Kondisi terpaksa-lah yang membuat mereka kali ini harus menerima bantuan dari sana-sini untuk bertahan hidup. Memelihara ayam dan bebek adalah strategi bertahan hidup yang sangat cocok dengan alam mereka.
Jika menungkinkan, instansi terkait dan donatur perlu juga mempertimbangkan untuk memberikan bibit-bibit ternak besar seperti kambing dan sapi/kerbau; atau bibit palawija karena kebanyakan masyarakat Gayo yang menjadi korban bencana alam itu adalah para petani dan peternak.
Jangan sampai karena mengungsi para korban kekurangan gizi. Jika gizi terpenuhi, para korban bisa memulihkan ekonomi keluarga. Dengan gizi yang cukup mereka bisa berpikir jernih; memikirkan strategi untuk survive. Dengan pikiran yang jernih mereka juga akan mampu memilih cara, strategi, dan taktik untuk bertahan hidup dan melewati masa-masa sulit ini dengan gemilang. []





