Oleh : Fauzan Azima*
Temperamen, menurut definisi yang sopan dan berpendidikan, adalah sifat seseorang yang mudah terbawa emosi. Perasaannya naik-turun seperti grafik harga cabai, reaktif, dan kadang ekspresif secara berlebihan. Sedikit salah, suara meninggi. Sedikit beda pendapat, alis langsung rapat seperti pagar kawat berduri.
Antonimnya jauh lebih enak didengar: kalem, tenang, stabil, easygoing, tidak mudah tersinggung, dan berkepala dingin. Pendek kata, tipe manusia yang kalau kopinya pahit, ia tambah gula, bukan banting cangkir.
Kalau disuruh memilih antara dua sifat itu, hanya orang yang sedang kurang akal sehat yang memilih temperamental. Semua orang ingin diperlakukan sebagai manusia. Tidak dihina, tidak dimarahi di depan umum, apalagi dijadikan contoh buruk di depan khalayak. Harga diri bukan aksesori. Ia melekat sejak lahir dan tidak bisa dicopot seenaknya.
Orang tua kita sejak dulu sudah bijak, meski tanpa seminar motivasi: biarlah kata marah pecah di perut, jangan di mulut. Perut itu tempat mencerna, mulut itu tempat mencetak kenangan. Sekali kata kasar keluar, ia bisa menempel seumur hidup, membangkitkan bara di dada, dan kalau dibiarkan menjadi dendam yang diwariskan.
Masalahnya, dalam praktik “Pemimpin Temperamen”, sasaran kemarahan sering tanpa tebang pilih. Dari pejabat bereselon sampai tenaga PPPK paruh waktu yang gajinya hanya Rp150 ribu per bulan. Ironisnya, cara memarahinya seolah ia digaji Rp10 juta per bulan, lengkap dengan bonus dan tunjangan emosi.
Padahal, marah itu tidak mengenal kelas sosial, tapi dampaknya sangat mengenal perasaan. Yang kecil makin ciut, yang besar pura-pura kuat, tapi sama-sama pulang membawa cerita. Apalagi saat bencana semua orang lelah; lelah tubuh, lelah jiwa. Tambah sasaran marah, ribuan urat sarafnya rusak.
Lalu bagaimana menghadapi “bangsa pemarah” ini? Saya teringat kisah di asrama Lut Tawar Jakarta. Saat anak-anak ribut adu mulut, tiba-tiba seorang nyeletuk, “Ko paden menang, te ko mugile.” Artinya: sudahlah, kau saja yang menang, karena kamu gila.
Pelajaran hidupnya sederhana tapi dalam: orang waras memang harus sering mengalah. Bukan karena kalah, tapi karena akal sehat tidak pernah cocok bertengkar dengan temperamen karena dalam hidup bermasyarakat, api hanya pantas di dapur. Di ruang publik, yang dibutuhkan justru kipas angin, bukan korek gas.
(Mendale, Januari 8, 2025)






