Oleh : Hammaddin Aman Fatih*
Dataran tinggi tanah Gayo yang dikenal dengan keindahan alam, kesejukan udara, dan kearifan lokalnya kembali diuji oleh bencana banjir bandang dan longsor.
Peristiwa ini bukan sekadar musibah alam yang datang tiba-tiba, melainkan alarm keras atas relasi manusia dengan lingkungannya yang kian rapuh.
Hutan yang dulu menjadi benteng alami atau benteng terakhir kehidupan, kini banyak kehilangan fungsinya akibat pembukaan lahan yang tak terkendali, sementara tata ruang sering diabaikan demi kepentingan sesaat. (lihat link https://lintasgayo.co/2024/08/19/hutan-benteng-terakhir-kehidupan/)
Banjir bandang dan longsor yang terjadi mulai diakhir bulan november yang lalu menyisakan luka mendalam: jembatan terputus, akses transportasi terputus, rumah hancur, lahan pertanian rusak, akses pendidikan dan ekonomi terputus, bahkan nyawa melayang. Tidak pernah terpikir akan sedahsyat itu yang akan terjadi.
Apakah kita menyalahkan alam. Alam tidak pernah “marah” tanpa sebab; manusialah yang kerap abai terhadap batas-batas ekologis. Keangkuhan segelintir orang yang terlalu kita diamkan selama ini. Akhirnya meminta tumbal. Akankah kita diamkan juga kedepannya ??? https://lintasgayo.co/2025/08/22/hutan-gundul-danau-menyusut/)
Dampak Bencana bagi Masa Depan
Bencana alam bukan sekadar peristiwa sesaat yang merusak rumah, lahan, dan infrastruktur, tetapi meninggalkan jejak panjang bagi masa depan manusia. Ketika banjir, longsor, gempa, atau kekeringan terjadi, yang hilang bukan hanya harta benda, melainkan juga rasa aman, kesempatan belajar, dan keberlanjutan hidup generasi berikutnya.
Anak-anak yang terputus pendidikannya, petani yang kehilangan lahan produktif, serta masyarakat yang terpaksa berpindah tempat adalah potret nyata bagaimana bencana dapat memutus rantai harapan.
Dalam jangka panjang, bencana berulang memperlebar jurang ketimpangan sosial dan ekonomi. Daerah terdampak sering kali terjebak dalam siklus pemulihan tanpa akhir, sementara investasi pada pendidikan, kesehatan, dan inovasi terabaikan.
Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan mitigasi yang serius dan berkeadilan, bencana akan menggerus kualitas sumber daya manusia dan memperlambat pembangunan, menjadikan masa depan penuh ketidakpastian.
Namun, bencana juga dapat menjadi titik balik kesadaran kolektif. Ia memaksa kita menata ulang cara memandang alam, pembangunan, dan tanggung jawab antargenerasi. Masa depan tidak ditentukan oleh seberapa sering bencana datang, melainkan oleh seberapa bijak manusia belajar darinya.
Memperkuat mitigasi, menjaga lingkungan, dan menanamkan nilai kepedulian sejak dini. Dari sanalah harapan masa depan yang lebih tangguh dapat dibangun.
Tindakan ke Depan Menghadapi Bencana
Menghadapi bencana tidak cukup dengan reaksi darurat setelah kejadian, tetapi menuntut tindakan visioner sebelum bencana itu datang. Masa depan yang aman hanya dapat dibangun melalui perubahan cara pandang: dari budaya menunggu bantuan menuju budaya kesiapsiagaan.
Edukasi kebencanaan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dimulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas, agar setiap individu memahami risiko dan tahu cara menyelamatkan diri serta orang lain.
Tindakan ke depan juga menuntut keberanian menata ulang arah pembangunan. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan memperbesar risiko bencana.
Karena itu, kebijakan tata ruang, perlindungan hutan dan daerah resapan air, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan harus ditegakkan secara konsisten. Mitigasi struktural dan nonstruktural perlu berjalan beriringan, didukung oleh sains, teknologi, dan kearifan lokal.
Pada akhirnya, menghadapi bencana adalah soal tanggung jawab bersama. Pemerintah, dunia pendidikan, tokoh masyarakat, dan warga harus bergerak dalam satu kesadaran kolektif bahwa keselamatan generasi mendatang bergantung pada keputusan hari ini.
Dengan kesiapan, kepedulian, dan keberanian berubah, bencana tidak lagi semata menjadi ancaman, melainkan pengingat untuk membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkeadilan.
Bencana dan Pendidikan
Bencana alam kerap dipahami sebagai persoalan fisik dan kemanusiaan, namun dampaknya terhadap pendidikan sering luput dari perhatian. Ketika bencana terjadi, sekolah rusak, proses belajar terhenti, dan anak-anak kehilangan ruang aman untuk tumbuh.
Dalam situasi ini, pendidikan menjadi sektor yang paling rentan, padahal justru pendidikanlah yang dibutuhkan untuk memulihkan harapan dan menata masa depan pascabencana.
Lebih dari sekadar korban, pendidikan seharusnya diposisikan sebagai garda depan pengurangan risiko bencana. Sekolah memiliki peran strategis menanamkan literasi kebencanaan, kepedulian lingkungan, dan karakter tangguh pada peserta didik.
Kurikulum yang peka terhadap konteks lokal, latihan kesiapsiagaan, serta keteladanan pendidik akan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menghadapi krisis.
Pada akhirnya, hubungan bencana dan pendidikan adalah hubungan sebab-akibat yang saling memengaruhi. Bencana yang tidak dikelola dengan baik akan merusak masa depan pendidikan, sementara pendidikan yang kuat dan berorientasi keberlanjutan dapat meminimalkan dampak bencana.
Menjaga pendidikan tetap hidup di tengah dan setelah bencana bukan sekadar kewajiban moral, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan bangsa.
Ke depan, Tanah Gayo membutuhkan keberanian untuk berubah. Penegakan aturan lingkungan harus tegas, rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai harus menjadi prioritas, serta kearifan lokal dalam menjaga alam perlu dihidupkan kembali.
Sekolah, tokoh adat, dan pemerintah mesti berjalan seiring menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan. Banjir bandang dan longsor di Tanah Gayo seharusnya menjadi titik balik, dari sekadar berduka menuju tekad kolektif untuk merawat bumi yang selama ini setia memberi kehidupan.
*Penulis adalah hanya seorang antropolog dan pemerhati masalah sosial yang berdomisili di seputaran kota Takengon






