TAKENGON-LintasGAYO.co : Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah tidak hanya menyisakan duka dan kerusakan fisik, tetapi juga memukul keras kehidupan para seniman.
Di tengah ruang berekspresi yang lenyap, para seniman kini harus berjuang mempertahankan hidup sekaligus menjaga nyala kreativitas mereka.
Bagi banyak seniman lokal, bencana menjadi titik balik yang pahit. Aktivitas pertunjukan, pameran, hingga latihan seni terpaksa dihentikan. Kondisi ini membuat sebagian seniman kehilangan sumber penghasilan utama mereka.
“Bukan hanya soal materi, tapi juga mental. Seni adalah napas kami,” ujar Mawan salah seorang seniman daerah yang terdampak bencana.
Ia mengaku kesulitan melanjutkan berkarya di tengah situasi serba terbatas dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Namun di balik keterbatasan, semangat seniman tidak sepenuhnya padam. Sebagian dari mereka justru menjadikan bencana sebagai sumber refleksi dan inspirasi.
Lagu-lagu duka, puisi tentang kehilangan, hingga lukisan penderitaan masyarakat lahir sebagai bentuk ekspresi sekaligus terapi batin.
Sayangnya, perhatian terhadap nasib seniman sering kali luput dari prioritas penanganan pascabencana. Bantuan lebih banyak difokuskan pada kebutuhan dasar, sementara pemulihan ekosistem seni dan budaya belum menjadi perhatian serius.
Padahal, seniman memiliki peran strategis dalam proses pemulihan sosial. Melalui seni, trauma dapat diobati, semangat kebersamaan kembali ditumbuhkan, dan pesan-pesan kemanusiaan disampaikan dengan cara yang menyentuh.
Harapan pun disematkan pada pemerintah, komunitas budaya, serta para dermawan untuk turut memperhatikan keberlangsungan hidup seniman pascabencana. Dukungan berupa bantuan alat seni, ruang berekspresi, hingga program pemulihan ekonomi kreatif dinilai sangat dibutuhkan.
“Di tengah puing-puing bencana, para seniman terus bertahan. Meski karya mereka sempat terhenti, harapan untuk bangkit dan berkarya kembali tetap menyala—menjadi penanda bahwa seni selalu hidup, bahkan di saat paling gelap sekalipun,” ujar Mawan.
[Fk]





