BANDA ACEH-LintasGAYO.co : Aliansi Mahasiswa Bener Meriah–Aceh Tengah secara resmi menutup kegiatan dapur umum yang telah beroperasi selama lebih dari satu bulan pasca bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, serta sejumlah wilayah lain di Provinsi Aceh.
Penutupan ini menandai berakhirnya salah satu bentuk aksi kemanusiaan mahasiswa yang lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi sosial dan ekonomi mahasiswa terdampak bencana.
Dapur umum tersebut didirikan sebagai respons cepat atas dampak bencana alam yang tidak hanya merusak infrastruktur dan pemukiman warga di daerah terdampak, tetapi juga memberikan efek domino terhadap mahasiswa asal Bener Meriah dan Aceh Tengah yang sedang menempuh pendidikan di Banda Aceh.
Terputusnya akses listrik dan jaringan komunikasi di kampung halaman menyebabkan banyak mahasiswa tidak dapat menerima kiriman kebutuhan hidup dari orang tua dalam jangka waktu yang cukup lama.
Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Bener Meriah–Aceh Tengah, Hidayatun Nahar, menjelaskan bahwa pembukaan dapur umum merupakan hasil konsolidasi dan kesepakatan bersama seluruh mahasiswa Aceh Tengah dan Bener Meriah yang berkuliah di Banda Aceh.
Konsolidasi tersebut melibatkan tiga paguyuban besar, yakni PERMATA UIN Ar-Raniry (Persatuan Mahasiswa Aceh Tengah Bener Meriah), HPBM (Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Bener Meriah), serta IPPEMATA (Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Aceh Tengah).
“Dapur umum ini kami dirikan sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sesama mahasiswa. Kondisi pasca bencana membuat banyak kawan-kawan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena terhambatnya bantuan dari keluarga di daerah. Oleh karena itu, kami berinisiatif untuk saling membantu melalui dapur umum,” ujar Hidayatun dalam keterangannya.
Ia menambahkan, dapur umum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyediaan makanan, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi, solidaritas, dan penguatan moral bagi mahasiswa terdampak bencana. Dalam situasi darurat, kebersamaan dinilai menjadi modal utama untuk bertahan dan bangkit.
Kegiatan dapur umum mulai berjalan pada Rabu, 26 November 2025, dengan mengandalkan donasi dari berbagai pihak, baik individu maupun kelompok, yang turut menunjukkan kepedulian terhadap kondisi mahasiswa Aceh Tengah dan Bener Meriah. Bantuan yang diterima berupa bahan pokok makanan dan kebutuhan logistik lainnya yang kemudian dikelola secara mandiri oleh mahasiswa.
Selama lebih dari satu bulan beroperasi, dapur umum ini secara konsisten menyediakan konsumsi harian bagi mahasiswa yang membutuhkan. Seluruh proses pengelolaan, mulai dari pengadaan bahan, pengolahan makanan, hingga pendistribusian, dilakukan secara gotong royong oleh para relawan mahasiswa dari berbagai paguyuban.
Koordinator Lapangan Dapur Umum, Zikri Yanda, dalam pernyataannya pada Rabu, 31 Desember 2025, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak apabila selama pelaksanaan dapur umum terdapat kekurangan, baik dari sisi pelayanan maupun teknis pelaksanaan.
“Kami menyadari bahwa dalam pelaksanaannya masih terdapat keterbatasan. Untuk itu, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak. Namun demikian, kami juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh donatur dan pihak-pihak yang telah berpartisipasi serta mendukung keberlangsungan dapur umum ini,” kata Zikri.
Ia menegaskan bahwa dukungan logistik berupa bahan pokok makanan yang diberikan sangat membantu dalam menopang kebutuhan mahasiswa pasca bencana banjir dan longsor. Menurutnya, tanpa partisipasi berbagai pihak, dapur umum tersebut tidak akan mampu berjalan secara berkelanjutan.
Penutupan dapur umum ini dilakukan seiring dengan mulai membaiknya kondisi di daerah terdampak serta pulihnya akses komunikasi dan distribusi bantuan. Meski demikian, Aliansi Mahasiswa Bener Meriah–Aceh Tengah menegaskan bahwa semangat solidaritas dan kepedulian sosial akan tetap dijaga dan diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan kemanusiaan lainnya di masa mendatang.
Melalui aksi ini, aliansi mahasiswa berharap dapat menjadi contoh bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen sosial yang responsif terhadap kondisi masyarakat dan sesama, khususnya dalam situasi krisis dan bencana alam.
[SP]





