TAKENGON-LintasGAYO.co : Aliansi Mahasiswa Bener Meriah–Aceh Tengah menunjukkan kepedulian nyata terhadap korban bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Aksi kemanusiaan ini diwujudkan melalui pembukaan dapur umum serta penggalangan donasi selama beberapa minggu terakhir.
Gerakan solidaritas tersebut menjadi bentuk empati mahasiswa terhadap keluarga, kerabat, dan saudara-saudara mereka yang terdampak bencana di wilayah Tanah Tembuni, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Dengan semangat gotong royong, para mahasiswa turun langsung ke lapangan untuk memastikan bantuan dapat tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Koordinator Lapangan, Winardi Aritanoga, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan ini.
Penggalangan donasi dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mengamen di warung kopi, pengumpulan dari rumah ke rumah, hingga donasi di berbagai tempat di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Bahkan, bantuan juga datang dari para donatur di luar Provinsi Aceh.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu proses pengumpulan donasi. Tanpa kebersamaan ini, aksi kemanusiaan tersebut tidak akan berjalan maksimal,” ujar Winardi, Sabtu 27 Desember 2025.
Dari hasil penggalangan tersebut, aliansi mahasiswa berhasil mengumpulkan sekitar lima ton logistik, yang terdiri dari beras, mie instan, makanan kering, pakaian layak pakai, serta berbagai perlengkapan dapur lainnya. Seluruh bantuan tersebut disalurkan ke wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah yang terdampak bencana.
Sementara itu, Koordinator Lapangan lainnya, Jauhar Rafi, menjelaskan bahwa pada Rabu, 17 Desember 2025, tim relawan mahasiswa berangkat dari Banda Aceh menuju Tanah Tembuni untuk menyalurkan bantuan. Perjalanan dilakukan melalui jalur Bireuen menuju Bener Meriah.
Namun, proses distribusi tidak berjalan mudah. Selama tiga hari dua malam, rombongan harus menghadapi medan berat akibat akses jalan yang terputus, khususnya di kawasan Kilometer 58, Tenge Besi, dan Umah Besi. Kendaraan roda empat tidak dapat melintas, sehingga para relawan terpaksa mengestafet dan mengangkat logistik secara manual.
“Kami bersama teman-teman berupaya semaksimal mungkin mengestafet dan menjinjing bantuan karena akses jalan tidak dapat dilalui kendaraan,” jelas Jauhar.
Dalam proses penyaluran, para mahasiswa juga mendapat sambutan hangat serta bantuan dari Yayasan Kayang Bangun Semesta dan Relawan Sopan Gayo, yang turut membantu dalam pendistribusian logistik ke lokasi terdampak.
Puncaknya, pada Senin, 22 Desember 2025, Aliansi Mahasiswa Bener Meriah–Aceh Tengah berhasil menyalurkan bantuan di Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di Kampung Rawe dan Kampung Kenawat, Kecamatan Lut Tawar.
Selain menyalurkan logistik, mereka juga mengadakan kegiatan trauma healing sebagai upaya pemulihan psikologis bagi masyarakat, khususnya anak-anak korban bencana.
Dan sebagai bentuk konsistensi gerakan kemanusiaan tersebut, pada Rabu, 24 Desember 2025, Aliansi Mahasiswa Bener Meriah–Aceh Tengah kembali melanjutkan aksi kemanusiaan di wilayah Bener Meriah, tepatnya di Kampung Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam.
Aksi kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai agen perubahan di ranah intelektual, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat saat dibutuhkan, membawa harapan dan semangat solidaritas di tengah situasi sulit.
Bencana alam yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat setempat.
Ketua IPPEMATA, Farhan Ananda, mengungkapkan rasa haru dan keprihatinannya atas musibah tersebut. Ia menegaskan bahwa masyarakat sepenuhnya menaruh harapan kepada mahasiswa sebagai ujung lidah dan perpanjangan suara rakyat.
Harapan itu terutama tertuju pada upaya penyampaian aspirasi terkait akses jalan yang terputus serta mata pencaharian masyarakat yang terdampak, khususnya sektor perkebunan yang menjadi sumber ekonomi utama warga.
Dalam kesempatan itu, Farhan juga menekankan pentingnya peran pemerintah untuk segera mempercepat proses pemulihan pascabencana agar kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan secara normal.
Senada dengan hal tersebut, Ketua HPBM, Sulthaanika Arta Noga, menyampaikan bahwa bantuan donasi yang dibawa dari Banda Aceh memang belum sepenuhnya merata.
Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan tahap awal dari aksi kemanusiaan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu pemerintah, baik dalam aspek tanggap darurat maupun ketahanan pangan.
Setelah melihat langsung kondisi di Aceh Tengah dan Bener Meriah, Sulthaanika menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Ia menekankan bahwa bencana ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan mahasiswa untuk bersatu dalam memulihkan daerah terdampak, terutama dari sisi ekonomi, aksesibilitas, dan pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah BEM Nusantara yang juga Presiden Mahasiswa UGP, Asraf, menyampaikan harapan besar kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat agar segera mengambil langkah nyata untuk membuka kembali akses darat.
Menurutnya, terputusnya jalur transportasi telah menyulitkan masyarakat dalam memperoleh kebutuhan logistik dan kebutuhan pokok lainnya.
Asraf menegaskan bahwa, pembukaan akses darat bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan langkah konkret untuk menyelamatkan perekonomian masyarakat.
Akses tersebut merupakan jantung kehidupan warga, yang menopang aktivitas sosial, ekonomi, dan distribusi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, percepatan pemulihan akses dan infrastruktur menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi.
[SP]





