TAKENGON-LintasGAYO.co : Paska bencana hidrometeorologi yang terjadi di Aceh Tengah, kondisi daerah penghasil kopi arabika terbaik di dunia ini tidak sedang baik-baik saja.
Hal itu diungkapkan oleh relawan Pemuda Gayo, Satria Darmawan, Jum’at 26 Desember 2025.
Di tengah kondisi itu, dimana akses hingga sebulan paska bencana belum sepenuhnya normal, harga kebutuhan pokok melambung tinggi, menambah penderitaan bagi korban dan masyarakat Aceh Tengah yang terdampak bencana.
“Dari kondisi itu, saya melihat belum ada kebijakan yang tepat dari pemimpin daerah dalam hal ini Bupati Aceh Tengah,” tegasnya.
Ditambahkan, dirinya hanya melihat Bupati malah sibuk sebagai influencer yang narsis di media sosial.
“Kami melihat tidak ada kebijakan yang berdampak langsung untuk kepentingan masyarakat. Warga Gayo yang terdampak terpaksa harus mencari kebutuhan logistiknya sendiri, meski harus berjalan kaki ratusan kilo meter, hanya sekedar untuk bertahan hidup,” ungkap dengan mata berkaca.
Ia melihat hal itu adalah bentuk ketidaksanggupan Bupati dalam menangani bencana, dan itu merupakan kebutaan dan ketulian dari seorang pemimpin.
“Bayangkan saja sampai saat ini tidak ada dapur umum yang tersedia, terlebih saat banyak wilayah di Aceh Tengah yang masih terisolasi dan kekurangan BBM, masyarakat yang berjalan kaki kelaparan di jalan, mereka tidak tahu mau makan dimana,” ujarnya.
Relawan Pemuda Gayo Bantu Korban Terisolir
Sedari awal, Satria sudah memprediksi bahwa pemimpin daerah pasti akan bekerja lambat di tengah dahsyatnya bencana.
Untuk itu, sejak dari awal bencana dirinya berinisiatif menggalang bantuan bagi korban yang terkena bencana di wilayah Aceh Tengah.
“Pasca bencana alam akses terputus banyak desa yang terisolasi, jelas logistik pasti menjadi masalah bagi mereka, untuk mengatasi masalah itu kami Pemuda Gayo yang ada di Banda Aceh membentuk tim relawan, dan alhamdulillah kami pertama kali sukses mendaratkan helikopter di Jagong Jeget, Konyel dan Serule, dengan membawa bantuan, pada hari keenam setelah bencana,” ujar Satria Darmawan.
“Sehari kemudian, kami mengirim bantuan dengan heli ke Kemukiman Wihni Dusun Jamat, disana saya mengusulkan kepada perangkat desa untuk membuat helipad, agar bantuan cepat sampai, karena saat itu mereka sudah mengeluhkan kekurangan logistik, dan banyak yang sakit,” tambahnya.
Setelah itu jelasnya, logistik berupa beras dan makanan cepat saji lainnya berangsur-angsur dapat di distribusikan ke desa-desa terisolir lainnya dengan mengunakan jalur udara.
“Saya menangis melihat kondisi masyarakat pasca bencana, tidak ada makanan, tidak ada listrik, tidak ada tempat tinggal, pemerintah daerah sibuk dengan wacana wacana dan wacana, dapur umum saja tidak ada,” paparnya.
Ia juga menyesalkan sikap buta dan tulinyanya pemimpin negeri ini atas saran dan terikan masyarakat korban bencana alam.
“Rumah hancur, makanan tidak ada, dimana hati nurani pemimpin negeri ini, malah sibuk dengan postingan di medsos, masyakat butuh solusi bukan hanya sekedar menjadi objek postingan, dia itu pimpinan, bukan influencer, ayolah kerja beri solusi bagi masyarakat,,” keluh Satria.
Ia juga menyampaikan saat ini tak ada suara yang lebih merdu di dengar selain teriakan turunkan Haili Yoga dari kursi Bupati.
“Karena di awal-awal bencana dia sudah meninggalkan rakyatnya, dengan ketidakmampuannya dan Pendopo Bupati digembok rapat,” tandas Satria Darmawan.
[SP]






