Kesadaran Masyarakat, Kunci Utama Atasi Genangan Air Takengon

oleh

Catatan Mahbub Fauzie (Warga Masyarakat Aceh Tengah)

Setiap kali hujan deras turun di Takengon, genangan air di sejumlah ruas jalan menjadi pemandangan yang seolah sudah “biasa”. Masyarakat mengeluh, pengendara berhati-hati, dan lalu lintas tersendat.

Namun setelah air surut, semua kembali seperti semula, seolah tak terjadi apa-apa. Pola ini berulang dari tahun ke tahun. Pertanyaannya, sampai kapan kita hanya menjadi penonton dari persoalan yang sesungguhnya bisa dicegah bersama?

Memang, tanggung jawab utama pembangunan infrastruktur berada di tangan pemeeintah. Namun, jika kita jujur, tidak sedikit masalah drainase justru bersumber dari perilaku kita sendiri sebagai warga kota.

Saluran air yang tersumbat bukan hanya akibat ukuran drainase yang kecil, tetapi karena sampah rumah tangga, plastik, botol, dan sisa material bangunan yang dibuang sembarangan ke parit.

Kebiasaan menutup saluran air dengan semen tanpa memperhatikan jalur pembuangan juga memperparah kondisi. Air hujan kehilangan ruang untuk mengalir, lalu meluap ke jalan dan rumah.

Fenomena ini bukan semata persoalan teknis, melainkan cermin dari rendahnya kesadaran lingkungan di tingkat individu dan komunitas.

Sudah saatnya masyarakat Takengon membangun civic responsibility, yakni tanggung jawab kewargaan yang berlandaskan kepedulian terhadap lingkungan bersama.

Setiap rumah tangga seharusnya merasa memiliki lingkungan tempat tinggalnya. Membersihkan parit, tidak membuang sampah sembarangan, dan memastikan saluran air tidak tersumbat adalah tindakan sederhana namun berdampak besar.

Budaya gotong royong yang dahulu menjadi ciri khas masyarakat Gayo perlu dihidupkan kembali. Kegiatan membersihkan parit dan selokan sepekan sekali bisa menjadi ajang kebersamaan dan pembelajaran sosial. Pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan dapat menjadi penggerak untuk menumbuhkan kembali tradisi baik ini.

Selain itu, edukasi lingkungan perlu diperkuat sejak dini. Anak-anak di sekolah perlu dikenalkan pada pentingnya menjaga kebersihan dan memahami akibat dari sampah yang dibuang sembarangan. Generasi muda harus tumbuh dengan kesadaran bahwa lingkungan yang bersih adalah hak sekaligus tanggung jawab mereka.

Dalam Islam, menjaga kebersihan bukan hanya urusan estetika, tapi bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Maka, menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air sejatinya juga merupakan wujud keimanan dan ibadah sosial. Setiap sampah yang diangkat dari parit, setiap saluran yang dibersihkan, adalah bagian dari amal kebajikan.

Kota yang bersih dan bebas genangan bukan hanya hasil kerja pemerintah, melainkan hasil gotong royong seluruh warganya.

Bila setiap orang mau memulai dari halaman sendiri, maka seluruh kota akan ikut bersih. Bila setiap warga peduli pada parit di depan rumahnya, maka banjir kecil di jalan-jalan Takengon akan tinggal kenangan.

Kesadaran adalah awal dari perubahan. Takengon tidak akan menjadi kota yang tertib dan tangguh jika warganya masih membuang sampah sembarangan.

Mari kita mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat. Sebab, kota yang bersih bukan dicapai oleh peraturan semata, tetapi oleh kesadaran dan kepedulian bersama. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.