Oleh: Ahmad Dardiri*
Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari bersejarah ini bukan sekadar mengenang jasa para pejuang yang gugur di medan laga, tetapi juga momentum untuk menyalakan kembali semangat kepahlawanan di dada generasi muda.
Bagi pelajar dan santri, kepahlawanan hari ini tidak lagi berbentuk mengangkat senjata, melainkan berjihad dengan ilmu, amal, dan akhlak.
Pahlawan Ilmu dan Akhlak
Di era digital ini, medan perjuangan bukan lagi hutan dan parit, tetapi ruang kelas, laboratorium, dan pesantren. Tantangan kita bukan penjajah bersenjata, melainkan kemalasan, kebodohan, dan degradasi moral.
Karena itu, pelajar dan santri dituntut menjadi pahlawan yang berjuang melawan kebodohan dan kelesuan spiritual.
Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini mengajarkan bahwa jihad bukan semata perang fisik, melainkan kesungguhan dalam menempuh jalan kebaikan, termasuk menuntut ilmu dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.
Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Pahawan sejati bukan yang dielu-elukan dengan tanda jasa, melainkan mereka yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat — meskipun tanpa sorotan kamera dan panggung penghargaan.
Teladan Ulama dan Cendekia
Dalam sejarah Islam, banyak ulama dan cendekiawan yang menjadi pahlawan dengan cara mereka sendiri.
Imam Al-Ghazali menegaskan, “Jihad terbesar adalah jihad melawan diri sendiri dan hawa nafsu, sebab kemenangan atas diri sendiri adalah kemenangan sejati.”
Begitu pula KH. Hasyim Asy’ari yang menanamkan nilai “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air sebagian dari iman). Bagi beliau, membela bangsa dan agama — dengan ilmu, dakwah, dan keteladanan — adalah bagian dari iman yang hidup.
Buya Hamka juga pernah berkata, “Pahlawan sejati bukanlah yang mengangkat pedang, melainkan yang mengangkat derajat bangsanya dengan ilmu dan akhlak.”
Ungkapan ini relevan bagi pelajar dan santri masa kini: ilmu adalah pedang modern, dan akhlak adalah tamengnya.
Menjadi Pahlawan di Zaman Digital
Menjadi pahlawan di era digital berarti berani berpikir jernih di tengah banjir informasi, berani jujur di tengah budaya tipu daya, dan berani belajar di tengah godaan kemalasan.
Santri dan pelajar adalah penjaga masa depan bangsa. Mereka harus menulis sejarah baru dengan tinta ilmu dan amal saleh.
Seperti pepatah Arab mengatakan: “Al-‘ilmu silāḥul mu’min” — Ilmu adalah senjata orang beriman.
Maka, siapa pun yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan menjadikan ilmunya sebagai cahaya bagi umat, dialah pahlawan sejati masa kini. []





