Catatan : Mahbub Fauzie*
Menikah itu mudah, tapi menjalani rumah tangga tidak selalu mudah. Pernikahan adalah titik awal perjalanan panjang yang penuh liku dan tantangan. Dalam perjalanan ini, bukan hanya tawa dan pelukan hangat yang kita temui, melainkan juga air mata, kekecewaan, bahkan pertengkaran.
Rumah tangga adalah sebuah dinamika, tempat di mana konflik dan perbedaan tak bisa dihindari. Namun, yang membedakan rumah tangga yang kokoh dan yang runtuh bukanlah seberapa besar masalah yang datang, melainkan bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikannya.
Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk memulai segala sesuatu dengan menyebut nama Allah, “Bismillah”. Itu bukan sekadar lafaz, tapi simbol tawakal dan kesadaran spiritual yang mendalam.
Kita sering melihat bahagia di wajah pasangan saat ijab kabul, dengan harapan rumah tangga yang langgeng, penuh cinta, dan keberkahan.
Namun, tak lama kemudian, masalah mulai muncul. Bisa karena kondisi ekonomi, campur tangan keluarga besar, komunikasi yang buruk, bahkan perselingkuhan. Semua itu adalah ujian nyata.
Pernikahan bukanlah akhir cerita cinta, melainkan awal perjuangan bersama. Tidak ada rumah tangga yang benar-benar bebas dari ujian. Bahkan para nabi pun diuji dalam rumah tangganya: Nabi Ibrahim dengan jarak dan perpisahan, Nabi Nuh dengan istri yang tidak beriman, dan Nabi Muhammad SAW dengan dinamika keluarganya.
Jadi, saat rumah tangga kita diuji, jangan langsung menyerah. Hadapi dengan ketenangan, kesabaran, dan terutama dengan “Bismillah”.
“𝐁𝐢𝐬𝐦𝐢𝐥𝐥𝐚𝐡”, 𝐒𝐢𝐦𝐛𝐨𝐥 𝐓𝐚𝐰𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥
Mengucapkan “Bismillah” bukan hanya sekadar kata, tapi sebuah penyerahan diri kepada Allah. Ketika badai melanda rumah tangga, ucapkan “Bismillah” sebagai pengingat bahwa kita tidak sendiri.
Allah adalah Maha Menyelesaikan, Maha Menenangkan, dan Maha Memberi jalan keluar. Saat konflik memuncak, saat emosi siap meledak, ucapkan “Bismillah”.
Saat akan mengambil keputusan besar, pindah rumah, berhenti bekerja, menunda kehamilan, awali dengan “Bismillah”. Kalimat ini menjadi rem bagi hawa nafsu sekaligus bahan bakar kesabaran.
Bismillah juga mengajarkan kita memahami bahwa pasangan bukan malaikat. Dia manusia biasa dengan kekurangan, sama seperti kita yang tak sempurna. Maka, saling memahami dan memaafkan adalah kunci utama agar konflik tidak berubah menjadi jurang pemisah.
Cinta yang dulu membara bisa memudar oleh rutinitas, beban hidup, dan kesibukan sehari-hari. Godaan dari luar rumah tangga pun mudah merayu mereka yang goyah.
Namun, sebelum membuat keputusan fatal, ucapkan “Bismillah”. Renungkan, apakah pasangan benar-benar seburuk itu? Ataukah kita hanya lelah dan lupa bersyukur?
Bismillah mengajarkan kita untuk berpikir jernih, menyusun ulang niat, dan membangun kembali rumah tangga dari puing perbedaan.
𝐌𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚, 𝐁𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝐤𝐡𝐭𝐢𝐚𝐫 𝐍𝐲𝐚𝐭𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚
Setelah mengucap “Bismillah,” langkah selanjutnya adalah menata rumah tangga dengan kesungguhan hati. Menata bukan hanya merapikan rumah fisik, tapi juga menata hati, komunikasi, dan harapan bersama.
Menata hati berarti menjaga keikhlasan, saling menghargai, dan menghilangkan prasangka buruk. Konflik sering muncul karena salah paham yang sebenarnya bisa diatasi dengan komunikasi yang terbuka dan jujur.
Menata komunikasi menjadi pondasi utama. Dengarkan pasangan dengan penuh perhatian, pahami perasaannya, dan beri respon yang menenangkan, bukan menyulut emosi.
Menata harapan bersama harus realistis dan sejalan. Jangan biarkan ekspektasi yang berlebihan menjadi beban dan sumber kecewa. Susun visi rumah tangga yang sehat, harmonis, dan diberkahi Allah.
Namun menata saja tidak cukup tanpa berusaha dan berikhtiar nyata. Setiap pasangan wajib aktif mencari solusi dan memperbaiki diri. Ini bisa berupa memperbaiki komunikasi, belajar mengelola emosi, memperkuat ibadah bersama, atau mencari bantuan dari orang terpercaya jika diperlukan.
Ikhtiar nyata adalah bukti keseriusan menjaga rumah tangga. Misalnya, jika masalah ekonomi menjadi ujian, berusahalah mencari rezeki halal dengan cara yang halal pula. Jika komunikasi memburuk, luangkan waktu berkualitas tanpa gangguan untuk saling menyapa hati.
Kesabaran dan istiqamah dalam berikhtiar adalah kunci. Perubahan besar butuh waktu, keteguhan, dan konsistensi agar rumah tangga menjadi tempat damai dan bahagia.
Ingatlah, kebahagiaan rumah tangga bukan hadiah semata, tapi buah dari perjuangan dua insan yang saling mencintai karena Allah. Bersama “Bismillah,” kita menapak jalan benar, yakin bahwa Allah akan membimbing setiap langkah.
Mari mulai hari ini, dengan menata hati, berusaha sebaik mungkin, dan berikhtiar sungguh-sungguh, karena rumah tangga bahagia adalah hasil kerja sama manusia dan doa, usaha dan tawakal.
Semoga Allah selalu melimpahkan kemudahan dan keberkahan bagi setiap rumah tangga di negeri ini. Aamiin.
Atu Lintang, 8 September 2025
*Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah





