Serami Era Baru

oleh

Oleh : Darmawansyah*

Serami atau serambi terkadang bermakna sama namun lain fungsi, di kalangan masyarakat pada umumnya serambi dimaknai sebagai bagian depan rumah yang menjorok keluar serta menyatu dengan bagian rumah besar yang disebut dengan selasar, pendapat demikian merupakan terjemahan makna Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Serami atau serambi yang dalam bahasa Gayo memiliki padanan makna dengan bahasa Aceh, dalam bahasa Gayo serami di terjemahkan bagian dari satu rumah besar untuk tempat berkumpul atau tempat tidur para remaja dalam satu klen. __ rawan : bagian dari satu rumah besar yang terletak di sebelah selatan, yaitu tempat berkumpul kaum laki-laki pada waktu upacara perkawinan, __ banan: bagian dari satu rumah besar yang terletak di sebelah utara sebagai tempat berkumpul kaum perempuan pada waktu upacara perkawinan.

Dalam bahasa Aceh serami di sebut dengan sramoe yang sama dengan serambi dalam Bahasa Indonesia namun diberi tambahan seperti __ reunyeuen, serambi tangga, serambi muka rumah yang menuju ke rambat (jalan ke serambi belakang) tempat duduk laki-laki; __ likot, serambi belakang yang menjadi tempat duduk perempuan. Begitulah sekilas makna serami dalam pandangan teori.

Pada masyarakat Gayo serami tidak hanya bermakna bagian rumah besar yang berada pada umah pitu ruang dengan bagian utara dan selatan, dimana bagian utara untuk anak perempuan dan sebelah selatan untuk anak laki-laki, namun pada kultur masyarakat Gayo serami juga merupakan bangunan mandiri yang terletak di suatu tempat tertentu di sebuah kampung atau desa yang dihuni para pemuda, dan ini di sebut serami bebujang atau umah serami.

Sebelum masuknya kolonialisme ke negeri Gayo masyarakat Gayo hidup dengan kebersamaan dan ikatan kekeluargaan yang erat, hingga rumah tempat tinggal mereka juga menyatu dalam satu bangunan yang di sebut umah pitu ruang atau umah time ruang.

Mereka hidup secara bersama dan berkelompok sesuai dengan kuru (keturunannya) dalam rumah tersebut. Di dalam rumah terdiri dari ayah, ibu, paman, bibi, kakek, nenek dan semua keturunan yang masih terikat darah garis keturunan ayah.

Bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu rumah inilah tersebut sebuah adat yang disebut dengan sumang, sumang merupakan pantangan yang dijadikan aturan adat yang melekat dalam masyarakat Gayo sebagai pagar agar terhindar dari praktek maksiat yang memberikan efek memalukan bagi keluarga dan belah dalam kampung tersebut.

Sumang tidak hanya berjalan pada lingkup keluarga satu keturunan namun ia juga mengikat masyarakat dalam lingkup luas yakni belah atau kampung. Oleh karenanya, aturan adat sumang inilah yang membawa pada berdirinya sebuah bangunan yang disebut serami, walaupun pada umah pitu ruang terdapat satu bagian rumah untuk tempat anak laki-laki menginap atau beristirahat yang di sebut serami rawan.

Pada masyarakat Gayo, setelah selesai melaksanakan aktivitas sehari-hari anak laki-laki atau orang tua laki-laki dan siapapun yang berjenis kelamin laki-laki tidak serta merta kembali ke rumah mereka, baik itu dari kebun, sawah atau dari manapun juga, namun mereka pergi dan beristirahat di menasah dan bahkan mereka menginap di menasah tersebut, oleh karena aktivitas yang terkadang tidak layak dilakukan oleh anak laki-laki di menasah maka dibangunlah serami sebagai tempat peristirahatan mereka.

Bagi mereka yang memiliki ikatan perkawinan dan memiliki tanggung jawab melekat sebagai seorang ayah mereka akan kembali ke umah pitu ruang dan untuk anak laki-laki yang sudah baligh tidak kembali ke rumah kecuali untuk makan dan mengganti pakaian serta hajat penting lainnya.

Serami merupakan bangunan yang digunakan sebagai pusat kegiatan pemuda di kampung atau pada belah mereka, dalam serami-lah pemuda Gayo mengembangkan aktivitas kepemudaan baik dalam bidang social, seni budaya dan keamanan, dilaksanakan berdasar kontrol seorang ketua pemuda dengan sebutan uluni bebujang.

Peran pemuda Gayo sebagai kedeng pantas pegerni kampung dijalakan dengan seksama hingga pemuda dulu memiliki rasa mukemel (malu) jika apa yang mereka lakukan tidak layak untuk di dengar atau dipandang mata baik itu berupa ucapan maupun perbuatan. Diantara ciri khas pemuda Gayo dahulu adalah, dantaranya:

  1. Pemuda Gayo dahulu hidup dengan memegang aturan adat dengan semboyan negeri terpancang denie terlangis nahma teraku bela mutan, apa pun yang terjadi pemuda sebagai pemegang kendali keamanan kampung atau belah menjadi ujung tombak dalam menampis mara yang dapat mengakibatkan nama baik kampung tercoreng.
  2. Pemuda dahulu hidup dengan kebersamaan terutama kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan aktivitas bermain dengan berkelompok sesuai dengan karakter mereka masing-masing, anak laki-laki bermain kelereng, memancing, main letep, dan lain sebagainya, begitu juga dengan anak perempuannya bermain dengan permainan mereka.
  3. Komunikasi pemuda dahulu dilakukan dengan direct communication atau komunikasi langsung antara satu dan lainnya sehingga makna kata yang disampikan dapat dipahami saat itu juga.
  4. Silaturahmi merupakan alat komunikasi yang dilakukan secara intens dalam kehidupan pemuda dahulu hingga menjalin ikatan yang erat antara satu pemuda dengan pemuda lainnya dan tidak sedikit antar pemuda menjadi saudara angkat bagaikan saudara kadung hingga tuanya dan sampai anak keturunan mereka.
  5. Dalam kehidupan sosial pemuda, kontrol sosial yang dilakukan orang tua berjalan dengan baik, dimana dalam satu kampung tanggung jawab orang tua dalam membina generasi muda tidak hanya pada tanggung jawab keluarga saja, namun satu orang tua mempunyai tanggung jawab membina generasi muda seisi kampungnya, oleh karenanya saat itu tersebutlah kalimat ‘anak mu anak ku dan anak ku anak mu’.

Seiring perjalanan waktu dimana pemuda gayo saat ini hidup dengan serami-nya masing-masing, serami mereka tidak berada di satu kampong atau desa, bahkan sudah melewati batas kampung dengan kehidupan yang jauh dari karakter pemuda Gayo pada dasarnya, diantaranya:

  • Tempat berkumpulnya pemuda tidak berada pada satu tempat yang ada di kampungnya, bahkan tempat berkumpul tersebut berada di luar kampung dengan kondisi bertemunya beberapa pemuda dan bahkan belah yang tidak di kenal lagi asal-muasalnya.
  • Pemuda Gayo saat ini tidak lagi memegang semboyan negeri terpancang denie terlangis nahma teraku bela mutan. Apa pun yang terjadi pada dirinya dan kampungnya tidak menjadi tanggung jawab mereka kecuali ada ‘kepentingan lain’.
  • Bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat tanpa ada aturan yang mengikat mengakibatkan beberapa generasi muda Gayo menikah dengan saudara satu kuru-nya dan bahkan masih terikat darah antara satu dan lainnya.
  • Komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi tidak langsung (indirect communication) yakni komuniasi dengan menggunakan alat bantu yang terkadang tidak menyampaikan makna yang jelas dan berada di tempat-tempat tertutup serta dapat menimbulkan prilaku maksiat (sumang) baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.
  • Hubungan silaturahmi bukan murni persahabatan namun ada tujuan tertentu yang diharapkan antar individu (balance).
  • Ketika mereka berkumpul dalam satu ‘serami’ mereka, aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas masing-masing dengan alat tegnologi yang mereka miliki (HP), dalam hal ini perbuatan mereka adalah perbuatan hampa dimana badannya di tempat namun pikiran dan rasanya melayang jauh di alam abstrak.
  • Kontrol sosial orang tua terhadap anak tidak berjalan dengan baik, dikarenakan orang tua tidak mengenal dengan siapa anaknya berteman dan dari belah atau kampung mana asal-muasal teman anak-anak mereka.

Serami era baru adalah serami dengan aktivitas yang abstrak, dilakukan oleh pemuda yang sama yakni pemuda Gayo dengan wujud aktivitas yang minus nilai budaya yang mengikat marwah kesukuan (pemuda Gayo terkenal dengan pemuda beradab), menghilangkan ikatan kekerabatan dalam satu kuru dan belah serta kehilangan wujud jati diri pemuda dalam masyarakatnya (bebujang ken kedeng pantas pegerni kampong penamat manat negeri terpancang denie terlangis nahma teraku bela mutan). Allahu a’lam.

*Penulis adalah Staf Tenaga Kependidikan pada MTsN 7 Aceh Tengah.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.