Keluarga Bahagia Yang Pandai Bersyukur dan Berterima Kasih

oleh

Oleh : Mahbub Fauzie*

Kebahagiaan seseorang dan keluarga bukan didapat dari kemewahan dan keberlimangan harta benda. Juga bukan ditentukan oleh banyaknya uang yang dimiliki dan juga bukan diperolehnya dari sekadar tampilan-tampilan fisik yang menggoda, semisal mempunyai istri cantik manis jelita atau memiliki suami gagah tampan mempesona.

Kebahagiaan juga tidak bisa diukur dan dikira dengan sesuatu yang berwujud barang nyata dan yang nampak saja. Namun, sebagaimana sering diyakini bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan seberapa pandai dan pintar seseorang dan anggota keluarga itu bisa selalu bersyukur dan berterima kasih atas segala nikmat Allah SWT dan berkat kebaikan sesama.

Pada realitas kehidupan sehari-hari dapat dilihat apa yang sering terjadi, betapa banyak orang yang nampaknya bahagia karena memiliki harta yang berlimpah ruah, namun ternyata yang bersangkutan justru merasakan sesuatu yang sebaliknya, tidak bahagia.

Sementara banyak orang yang terlihat nampaknya penuh dengan penderitaan dan kesusahan, ternyata justru mereka merasa bahagia. Istilah jawa-nya “sawang sinawang” kehidupan seseorang tidak sekira yang dirasakan oleh orang tersebut. Dipandang dan dikira sepertinya orang itu nampak enak, rupanya “onak” yang orang itu rasa!

Setiap orang dan juga keluarga memiliki masalah, cobaan dan juga ujian, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Banyak orang mengira dan berpikir, bahwa cobaan dan ujian hanyalah berupa penderitaan dan kesusahan, padahal banyak orang dan keluarga yang justru tidak bisa dan rapuh untuk bertahan ketika mendapat cobaan berbagai kenikmatan.

Ada kisah tentang keluarga yang bisa bertahan ketika dalam kesempitan, namun sebaliknya justru berantakan manakala mereka sudah berada pada kondisi di puncak kesenangan. Saat susah menderita hidupnya, mereka bisa eksis dan elegan dengan keadaan yang menderanya. Sebaliknya, saat terlihat mapan dan makmur, malah amburadul dan hancur-hancuran pola hidupnya.

Kisah yang lain, dapat dilihat bahwa ada keluarga saat susah dan serba kekurangan, mereka nampak rukun dan damai serta taat beribadah kepada Allah SWT. Tapi saat jaya dan penuh nikmat duniawi dengan terpenuhi segala keinginannya, justru sering ribut di keluarga dan ingkar pada Sang Pencipta.

Ternyata benar, bahwa kebahagiaan seseorang dan keluarga berada pada sejauh mana orang itu dan juga keluarga serta anggotanya tersebut bisa bersyukur atas segala nikmat yang diterima dan dirasakan setiap saat. Dalam kondisi dan situasi apapun, ada rasa syukur. Syukur kepada Sang Pemberi Nikmat, yakni Allah Yang Maha Rahman dan Rahim.

Ada beberapa kalimat bijak yang sering disebutkan antara lain: “Bahagia bukan berarti memiliki semua yang kita cintai, tapi bahagia itu adalah mencintai semua yang kita miliki.” Itu berarti, bahwa mencintai atas semua yang dimiliki berarti juga sebagai rasa syukur. Itulah di antara ‘mata air’ dari sumber bahagia.

Kalimat hikmah lain, diungkapkan bahwa; “Kunci dari segala kebahagiaan adalah bersyukur. Jika mendapat nikmat yang banyak ia bersyukur, demikian juga jika sedikit atau bahkan ketika tidak mendapatkanya pun, ia juga tetap bersyukur. Maka tiadalah celah baginya kesedihan dalam hidupnya. Ia selalu bahagia.”

Nah, demikianlah dalam kehidupan keluarga. Bila keluarga dalam kondisi limpahan nikmat, maka ajak seluruh anggota keluarga untuk bersyukur. Bersyukur meliputi ucapan dan perbuatan. Ucapkan syukur pada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat, dengan lafadz “Alhamdulillahirabbil ‘alamin.” Tingkatkan rasa syukur dan manfaatkan nikmat itu dijalan-Nya, misal nikmat harta, bersedekahlah dan berbagilah dengan sesama.

Bersyukur Kepada Allah SWT: Berterima Kasih Kepada Sesama

Dalam kehidupan habluminannas, hubungan sesama manusia juga demikian. Ucapkan terima kasih pada manusia-manusia yang telah menghantarkan kita pada nikmat tersebut, seberapapun kecilnya nikmat atau kebaikan yang mereka berikan.

Suami pandai berterima kasih atas jasa dan peran isteri dan isteri pintar berterima kasih atas jasa dan peran suami hingga mendapatkan nikmat tersebut. Juga anggota keluarga yang lainnya. Ciptakan suasana pandai dan berterima kasih atas kebaikan sesama!

Dalam hadis riwayat Tarmidzi disebutkan bahwa “Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterimakasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah SWT”. Bersyukur juga ditunjukkan dalam perbuatan yang disukai oleh sang pemberi nikmat. Bohong dan penuh dusta sekiranya mengaku bersyukur, tapi malah menggunakan nikmat untuk hal-hal yang dimurkai oleh pemberi nikmat.

Selanjutnya, selain adanya rasa bersyukur atas segala nikmat Allah SWT dan berterima kasih kepada sesama hingga mendapatkan nikmat tersebut. Kunci kebahagiaan juga bisa diraih dengan pandainya dan pintarnya seseorang dan keluarga itu untuk bisa bersabar atas segala ujian dan cobaan.

Apabila keluarga sedang diuji dan dicoba oleh ketidaksenangan, maka bersabarlah. Bersabar adalah menerima ketidaksenangan dengan penuh kesadaran bahwa itulah yang terbaik baginya.Bersabar tidak sekadar menerima apa adanya, tanpa mau berusaha untuk bangkit dan introspeksi diri atau muhasabah..

Bersabar juga bukan berarti putus asa, atau bahasa jawanya “mutung”. Pesimis untuk bangkit dari keterpurukan, bukanlah bersabar namanya. Sabar artinya harus berupaya dan berusaha ke arah yang lebih baik. Ada ikhtiar di balik kesabaran, tidak pasrah begitu saja. Bilamana ujian berupa sakit, maka sabar akan diikuti dengan ikhtiar mencari obat dan kesembuhan.

Apabila ujian itu berupa kesempitan dan kesulitan materi, maka sabar mesti diikuti dengan ikhtiar yakni giat bekerja. Bila ujian berupa belum mendapat pekerjaan, maka sabar adalah terus berupaya mencari atau menciptakan pekerjaan. Tidak ongkang-ongkang kaki atau malas tak ketulungan!

Demikianlah, bersyukur, berterima kasih dan bersabar adalah kunci menciptakan kebahagian. Semua perkara, baik kenikmatan maupun kesengsaraan, bisa membuat orang yang pandai bersyukur, berterima kasih dan bersabar pasti akan merasakan kebahagian. Sulit memang untuk berlaku yang demikian, hanya orang-orang yang pandai dan pintar bersyukur, berterima kasih serta bersabarlah yang bisa!

*Etos Bersyukur: Keluarga Sejahtera*

Banyak pengalaman dan kenyataan yang menunjukkan bahwa rasa syukur dan rasa terima kasih berhubungan kuat dengan upaya meningkatkan kesejahteraan seseorang dan keluarga. Bahkan ada studi penelitian yang membuktikan yang mendapati bahwa rasa syukur karena menghargai hal baik yang terjadi dan mengakui hal itu datang dari orang lain baik untuk kesejahteraan.

Orang yang memiliki rasa syukur dan kerap mengucapkan terima kasih kepada orang lain memiliki emosi positif yang lebih baik seperti kebahagiaan, optimisme, semangat dan kegembiraan. Menurut penelitian ini ada beberapa alasan yang membuat bersyukur berhubungan kuat dengan kesejahteraan. Orang yang bersyukur adalah orang yang penuh semangat bangkit.

Orang yang bersyukur cenderung melihat kebaikan atau hal positif dari sebuah masalah. Orang yang bersyukur juga cenderung membentuk hubungan yang saling mendukung. Misalnya, saat mengucapkan terima kasih kepada orang lain maka akan tercipta hubungan untuk perbaikan di masa depan.

Mengucapkan terima kasih juga merupakan bentuk yang dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang. Rasa terima kasih merupakan bentuk penghargaan untuk menghormati dan mengakui orang lain, tidak terkecuali dalam keluarga.

Untuk itu, dalam kondisi apapun, cobalah untuk selalu pandai bersyukur kepada Allah SWT. Dan dalam situasi apapun, juga tidak lupa mengucapkan terima kasih pada orang di sekitar yang terkait dengan situasi itu. Jangan malah menggerutu tiada menentu hingga mendapat jalan buntu. Jangan lupa pula untuk selalu mengucapkan terima kasih kepada suami, istri, anak, orang tua, kerabat, dan teman atas apa yang sudah mereka lakukan.

Akhirnya, diyakini bahwa bersyukur dan berterimakasih adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Kemudian, untuk selalu bersabar dalam segala keadaan adalah penguat kunci itu. Karena sesungguhnya, rasa syukur itu diwujudkan melalui pengamalan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa syukur akan memantapkan ketakwaan dan keimanan (aqidah), seiring sejalan semakin meningkat pengamalan ibadah dan juga semakin baik juga akhlakul karimah. Tiga pilar penting Syariat Islam, yakni Aqidah, Ibadah dan Akhlak menjadi lebih mantap terwujud dalam keluarga yang pandai bersyukur, berterima kasih dan bersyabar. Inilah kunci keluarga bahagia!

Sebagai simpulan atas ulasan di atas, ada baiknya direnungkan peringatan Allah SWT tentang Syukur Nikmat dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, yang artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim:7).

*Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Kec. Pegasing, Serta Salah Seorang Fasilisitor Bimbingan Perkawinan Bagi Calon Pengantin pada Kankemenag Kab. Aceh Tengah

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.