Orang Aceh, Ayo Melek Sejarah

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

“Gere akan rugi, gere akan hancur sesara jema, ike jema ini betehe harga dirie dan derjet dirie. Untuk mubetehi derjet dirinte seni, dan untuk mubetehi sahan sebetule kite seni, urang Gayo seni, turah kite betehi mulo, sahan awante, kune perjuanganne dan kune sejarahe,” demikian preamble ceramah kebudayaan, Tengku Ilyas Leubee pada 26 Oktober 1976 di Banda Aceh.

Terjemahan bebas ceramah dalam bahasa Gayo itu, “Beruntunglah orang yang mengetahui harga dirinya dan derajat dirinya dengan mengetahui sejarah dan perjuangan nenek moyangnya.”

Kesimpulan Mantan Menteri Keadilan Aceh Merdeka itu berdasarkan kata-kata hikmah dalam bahasa Arab, “Mahalakamruhun arafa qadra nafsihi” yang setiap insan melakoninya bergantung kepada fikiran, perjalanan hidup dan “karma” yang berlaku pada dirinya.

Sebagian orang Aceh “menterjemahkan” kalimat itu, dengan berjuang angkat senjata serta bergerilya untuk membumikan ideologi Aceh Merdeka di bumi Serambi Mekah ini. Keyakinan mereka, hanya dengan berperanglah Aceh akan bisa mencapai harga diri dan derajatnya kembali.

Romantisme sejarah, khususnya pada kejayaan Kesultanan Iskandar Muda telah terpatri di kepala orang Aceh dan keinginan untuk mengulang kemegahan itu membuatnya orang Aceh rela mati, berdarah-darah dan mengucurkan keringat dan air mata asal kembali kepada torehan kehebatan indatu kita dalam menata negeri ini.

Tentu saja tidak mudah kembali ke zaman keemasan itu. Bukan dengan ungkapan “sim salabim”. Semua butuh proses yang bukan terletak pada kekuatan bedil karena terbukti sejak berdirinya DI/TII sampai kepada “zaman” GAM tidak mampu mengembalikan Aceh sebagai negara berdaulat.

Kita harus mengurai sejarah Aceh sepanjang masa dengan jujur. Tidak boleh ada interest pribadi dan kelompok di dalam kajiannya. Ternyata penyebab kemunduran peradaban Aceh seiring dengan kemerosotan moral orang Aceh sendiri.

Kita selalu berkata “Aceh bumo Aulia” tetapi kita tidak berusaha “mengauliakan” diri dengan kata, perbuatan dan dalam bersikap. Sehingga kita hidup seperti orang termakan sumpah dari masa ke masa yang akibatnya derajat dan harga diri orang Aceh pun semakin rendah.

Derajat dan harga diri orang Aceh telah pun hilang sejak tahun 1920. Mereka yang lahir pada era tersebut telah mengalami krisis identitas. Selamjutnya generasi yang dilahirkan adalah generasi “ember bocor” yang kemudian melahirkan generasi “gelas kotor”.

Kita adalah generasi turunannya, yaitu generasi “tiga butir telor” yang diberi tanda 1, 2, dan 3, lalu dipecahkan dalam satu wadah dan diaduk-aduk, sehingga kita tidak tahu lagi mana telor 1, 2 dan 3.

Begitulah keadaan hari ini, kita telah mengalami penyakit krisis identitas stadium IV. Tidak heran pada zaman kita masih banyak berkeliaran para pembenci, fanatik buta, sombong, kejam, bengis dan tidak ada kasih sayang.

Berdasarkan pengalaman hidup, bacaan dalam kitab suci, kenyataan alam dan sosial serta sejarah, bukankah seharusnya lebih faham bahwa mereka yang melanggengkan keburukan hatinya akan musnah dan terhina. Sayangnya kita yang hidup di ujung zaman ini masih saja memelihara sifat buruk.

Hikmah melek sejarah itu adalah ibarat pergerakan jarum jam yang searah. Kalau ada pergerakan yang melawan arah itu bermakna sebuah kesalahan. Seperti itulah kita menata hidup agar terarah, sehingga tidak salah dengan bercermin kepada sejarah agar hidup punya derajat dan harga diri.

(Mendale, 10 Juni 2021)

Comments

comments