Menata Masalah Dalam Keluarga

oleh

Oleh : Sadri AW*

Keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrarahmah, adalah harapan semua orang yang akan dan telah memasuki gerbang pernikahan.

Kata-kata ini sangat mudah diucapkan dan dibayangkan, namun terkadang arti dan maknanya tidak kita ketahui sama sekali, tapi untuk mencapainya tak segampang yang kita ucapkan atau kita bayangkan tersebut. Membangun keluarga sakinah adalah sebuah proses.

Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tanpa masalah, tapi lebih kepada adanya keterampilan untuk menata masalah yang terjadi didalamnya.

Secara garis besar, ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yakni mencegah terjadinya konflik, menata masalah bila terlanjur berlangsung dan membangun kembali perdamaian setelah konflik reda.

Ada hal lain yang perlu untuk kita pahami, yaitu bagaimana meminimalkan permasalahan di keluarga. Setidaknya ada tiga hal penting yang patut dicermati berkaitan dengan masalah ini.

Pertama, siap dengan hal yang tidak kita duga.
Hidup akan terasa mudah apabila semua yang terjadi sesuai dengan harapan. Setiap kita akan selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Namun bagaimanapun gelombang setiap orang itu berbeda-beda. Lagi pula tidak semua orang harus berfikir sama dengan kita. Maka, mau tidak mau kita harus mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak sampai muncul dan merusak.

Bisa jadi pasangan kita tidak se-ideal yang kita impikan. Kita harus berlapang dada andaikata apa yang kita idamkan ternyata tidak ada pada diri pasangan kita.

Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci ternyata malah terdapat dalam diri pasangan kita,tentunya kita pun harus memiliki kesabaran ekstra untuk menyikapinya.

Ada rasa ikhlas menerima kekurangan dari pasangan kita bukan hanya kelebihannya karena, kalau hanya menerima kelebihan itu semua orang menerima/peduli tapi, tidak dengan kekurangan sifatnya spesialis yaitu datangnya dari pasangan.

Diibaratkkan kesempurnaan itu datangnya dari hati yang ikhlas menerima atas segala kekurangan yang kita miliki. Itulah, sedikit cara bagi kita agar senantiasa siap dengan hal yang tak terduga.

Kedua, memperbanyak pesan diri. Tindak lanjut dari kesiapan menghadapi perbedaan adalah dengan memperbanyak pesan diri.karena pada dasarnya kita datang dari keluarga dan karakter yang berbeda.

Semakin pasangan kita mengetahui tabiat dan kebiasaan kita, maka akan semakin siap pula ia menghadapi kita. Misalnya, apabila isteri kita terbiasa mendengkur ketika tidur, maka agar suami siap menghadapi kebiasaan itu.

Sang istri dapat mengatakan “Pak, kata orang kalau tidur saya itu suka mendengkur. Jadi Bapak siap-siap saja, karena sebetulnya saya sendiri juga tidak berniat mendengkur.”

Seorang suami pun bisa mengatakan keinginannya pada sang istri. Misalnya ketika suami ingin bangun malam, ia bisa mengatakan : “Kalau jam tiga saya suka bangun untuk shalat tahajud, saya tak ingin ada suara yang mengganggu”. Begitu juga dengan selera makan atau kesukaan.

Melalui pesan diri seperti itu diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akibat tidak saling memahami nilai-nilai dari pasangan hidupnya. Sangat mungkin seseorang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan. Disinilah perlunya kita belajar memberitahukan apa yang kita inginkan. Inilah esensi dari pesan diri.

Dengan mempertegas pesan diri diharapkan peluang konflik tidak membesar, karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita.Jangan sungkan untuk menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita, justru dengan keterbukaan seperti itu pasangan kita akan lebih mudah dalam menerima diri kita.

Tentu dengan saling terbuka masalah yang dihadapi akan lebih mudah dijernihkan, dibandingkan bila masing-masing saling menutup diri,Sebab ketertutupan pada akhirnya hanya akan membuat potensi masalah akan menjadi lebih besar.

Masing-masing akan dongkol, marah atau benci terhadap tingkah pasangannya yang tidak ia sepakati. Padahal kalau saja semua itu didiskusikan bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan dan potensi konflik pun menjadi minimal.

Ketiga, tegakkan peraturan. Dalam menjalani bahtera rumah tangga diperlukan pula aturan-aturan yang jelas dan disepakati bersama tanpa aturan. Keharmonisan keluarga dan pemahaman akan hak dan kewajiban serta tanggung jawab akan sangat sulit terwujud. Jadi adanya peraturan dalam keluarga menjadi hal penting yang juga harus dibicarakan bersama pasangan kita.

Misalnya sang istri kita jarang mematikan kran setelah menggunakannya. Hal itu bisa membuat suami dongkol disisi lain boleh jadi sang istri malah tidak merasa bersalah sama sekali. Sebab dia berasal dari keluarga pedesaan yang terbiasa menggunakan pancuran yang tidak pernah ditutup.

Begitu pula pada anak-anak kita harus mensosialisasikan peraturan apapun yang diberlakukan dalam keluarga. Peraturan yang dibuat tentu saja tidak harus kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua anggota keluarga.

Semakin tahu peraturan maka peluang untuk berbuat kesalahan yang bisa merugikan akan anggota keluarga yang lain pun akan semakin sedikit. Yang jelas, peraturan apa pun yang dibuat harus benar-benar mencerminkan keinginan bersama yang dilandasi akhlak mulia.

Kata para filsafat “Bebas Tapi Punya Aturan – Dari Pada Punya Aturan Tapi Berprilaku Bebas.” Nah, selamat berusaha meminimalkan masalah dalam keluarga disamping masalah pandemi covid-19 yang belum beranjak dari tengah-tengah kita. Semoga kita sabar dan tawakal serta ikhtiar menjadi jalan pertolongan Allah bagi terbentuknya keluarga yang kita idamkan.Wallahu a’lam.

*Penghulu di KUA Kecamatan Timang Gajah

 

Comments

comments