Menggapai Keberkahan dalam Keluarga dengan Halal-nya Nafkah

oleh

Catatan Jumat Mahbub Fauzie*

Keberkahan di dalam keluarga tidak terlepas dari nafkah dan rezeki yang halal. Diyakini, bahwa dalam kehalalan nafkah dan rezeki, ada keberkahan yang akan mewarnai kehidupan keluarga tersebut.

Keberkahan merupakan sesuatu yang sangat berharga daripada jumlah uang dan harta yang diperoleh dan dimiliki oleh keluarga tersebut. Keberkahan merupakan nikmat dan karunia yang memungkinkan keluarga untuk senantiasa berada dalam penjagaan ekstra dan perlindungan Allah SWT.

Memastikan bahwa harta yang diperoleh itu merupakan nafkah dan rezeki yang halal, baik halal dalam bentuk nilai barang dan zatnya maupun cara mendapatkannya adalah bentuk kasih sayang seorang muslim bagi keluarga yang dinafkahi dari rezeki tersebut.

Memberikan nafkah dari rezki yang halal adalah manifestasi dari menyayangi keluarga dalam bidang ekonomi, dalam rangka menyelamatkan keluarga dari anacman api neraka seperti yang tersirat dalam Al-Qur’an pada surah At-Thamrin ayat 6 : “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu“.

Menyayangi keluarga bukan berarti lantas menghalalkan segala cara, menerabas aturan Allah SWT untuk memperoleh rezeki hingga harus ‘menebas’ dan ‘melalap’ hak orang lain. Naif dan miris jika dalam hal ini ada ujaran yang terucap: “Di zaman sekarang, yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Itu adalah ungkapan yang pesimistik menyesatkan dan sikap putus asa yang harus dienyahkan, jika ingin selamat di dunia dan akhirat terkait perolehan rezeki dan nafkah yang halal.

Apabila memang benar-benar menyayangi keluarga, maka dipastikan setiap butir, setiap keping dan setiap serpih pundi-pundi rezeki yang dibawa ke rumah dan menjadi nafkah keluarga adalah halal adanya. Sayangilah diri sendiri dan keluarga kita dengan mencari rezeki yang halal, semoga kita selalu dapat mendapat Ridha Allah SWT. Keberkahan dan kebahagiaan dalam keluarga akan didapat dari rezeki dan nafkah yang halal.

Dalam perspektif agama Islam, diajarkan bahwa mencari rezeki dengan tujuan untuk memenuhi nafkah keluarga bagi seorang suami sebagai kepala keluarga adalah merupakan kewajiban yang bernilai ibadah dan sekaligus ladang ibadah sosial untuk menuai pahala dari Allah SWT, agar bernilai ibadah maka ada tiga syarat yang perlu diperhatikan oleh seorang suami dalam mencari rezeki:

Pertama, diniatkan karena mematuhi perintah Allah SWT. Kedua, memperhatikan metode atau cara memperoleh rezeki itu. Harus dipastikan dari cara yang halal, dan jika ragu akan halal-haramya, maka metode dan cara itu harus dievaluasi terlebih dahulu dan bertanya kepada ahli yang mengetahui hukum halal-haram, dan Ketiga, memanfaatkan dan menggunakan rezeki yang diperolehnya pada jalan-jalan yang dridhai Allah SWT, seperti memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga, biaya pendidikan anak-anak, menunaikan haji atau umrah jika sudah mampu, berinfak, bersedekah atau mengeluarkan zakatnya jika nishab dan haulnya telah memenuhi syarat.

Apapun profesi dan pekerjaan seseorang yang penghasilannya menjadi sumber nafkah dan rezekinya, tentu harus memperhatikan kehalalan nafkah dan rezeki tersebut. Terlebih lagi jika disadari bahwa penghasilan yang diperoleh dari profesi dan pekerjaannya itu merupakan sumber nafkah yang utama. Baik sebagai pedagang, petani, buruh, pengusaha, atau orang sebagai yang bekerja di lembaga pemerintahan seperti pegawai negeri, honorer, tentara dan polisi atau profesi yang lainnya.

Bekerja sesuai dengan tugas dan pokok fungsinya sesuai profesi dan pekerjaannya tentu saja sangat berkonsekwensi dengan nilai keberkahan penghasilannya. Sebagai pegawai negeri, misalnya, jika gaji yang diterima, besar atau kecil akan berkah jika Ia benar-benar bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi serta benar dalam menjalankan tugasnya sesuai profesi, hak yang diterima seimbang dan sesuai dengan kewajiban yang dikerjakan. Demikian juga bagi seorang tentara dan polisi, gaji dan hak-hak yang diterima sebagai imbalan dari pekerjaannya akan sangat berkah.

Sebagai pedagang, sebagai petani, atau sebagai buruh, jika dalam pekerjaannya itu benar dan tidak mengusik dan merugikan pihak lain, maka untung dan penghasilannya juga akan sangat terasa berkahnya. Mungkin hasil usahanya tidak terlalu banyak, namun pengaruh rezeki yang halal tersebut akan mendatangkan kebahagiaan keluarga yang hakiki (keluarga sakinah mawadah wa rahmah), anak-anak tumbuh menjadi generasi yang shalih-shalihah, cerdas, terampil, kuat, berbakti pada orangtua dan menjadi generasi yang mampu memberikan kotribusi terhadap Islam, umat, bangsa dan negaranya.

Oleh karena itu, bagi siapapun, pentingnya menyadari bahwa setiap harta yang diperoleh harus dengan cara yang halal. Selanjutnya, sesuai dengan hal ketiga dari point di atas agar rezeki yang diperoleh bisa bernilai ibadah, maka cara memanfaatkan dan juga membelanjakannya pun juga untuk hal-hal yang halal dan baik. Misal untuk memenuhi kebutuhan keluarga; baik sandang, pangan maupun papan yang berupa kebutuhan pokok, untuk biaya pendidikan atau untuk ibadah sosial lain seperti berzakat, sedekah dan lain-lain.

Di akhirat kelak, untuk masalah harta, kita harus mempertanggung jawabkan darimana harta tersebut kita peroleh dan untuk apa dibelanjakan. Sebelum kita melakukan perencanaan dan pengelolaan akan harta dan uang kita, maka yang pertama sekali harus dilakukan meyakinkan bahwa harta yang kita miliki telah halal adanya dan telah ditunaikan hak-hak orang lain yang ada dalam harta tersebut.

Walaupun uang dan harta yang diperoleh itu adalah hak rezeki kita atas pekerjaan kita dan penghasilan dari profesi kita sendiri, namun itu juga amanah Allah SWT yang harus kita pertanggungjawabkan kepada-Nya. Untuk itu, kita harus dapat membuat perencanaan dan pengelolaan dari harta kita sebagai ikhtiar kita dalam bersikap amanah terhadap harta tersebut.

Dalam hadits Nabi, diriwayatkan bahwa setiap pagi Rasulullah SAW selalu berdoa: “Ya Allah, Aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal shalih yang diterima.” (HR Ahmad). Kalau kita perhatikan doa ini, kita melihat betapa Rasulullah sangat perhatian akan hal ini. Karena hal inilah yang senantiasa beliau pinta setiap pagi, ketika akan memulai aktivitas di hari tersebut. Salah satu permintaan yang beliau ucapkan adalah permintaan rezeki yang halal. Rasulullah sangat menaruh perhatian yang besar pada rezeki yang halal. Dan itu tentunya mempunyai ‘pesan khusus’ bagi para kepala keluarga harus bekerja keras mencari rezeki yang halal dan menjauhi rezeki yang haram.

Dalam Surah Al-Maidah ayat 88, Allah SWT memerintahkan kita untuk menjemput rezeki dengan cara yang halal. Sebagaimana firman-Nya: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita semua untuk mencari rezeki yang halal. Halal dalam bentuk fisik benda atau rezeki tersebut dan halal dalam cara untuk mendapatkannya. Allah SWT yang telah memerintahkan kepada kita. Dan seandainya kita ingin menjadi seorang yang beriman dan mencapai derajat takwa, maka jalan yang telah Allah tetapkan adalah seseorang harus mencari rezeki yang halal.

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa mencari rezeki yang halal itu bernilai ibadahdan berpahala di sisi Allah SWT. Ini sesuai dengan hadits, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim).

Ketika kita bersedekah untuk kepentingan dakhwa Islam, kepentingan kaum muslimin, atau memberikan sebagian penghasilan kita kepada kedua orang tua kita, atau menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin, agar semuanya bernilai pahala di sisi Allah, harus dari hasil yang halal. Karena Allah tidak menerima kecuali dari yang halal. Jangankan sedekah kepada orang lain, infak atau nafkah yang kita berikan kepada keluarga kita, atau bahkan kepada diri kita sendiri, akan bernilai pahala ketika kita memperoleh harta tersebut dari jalan yang halal.

Nabi SAW bersabda: “Sebaik-baik usaha adalah usaha seorang dari tangannya sendiri, dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk usaha kalian.” Kemudian beliau melanjutkan, Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqah.” (HR. Ibnu Majah).

Sebaliknya, ketika kita mengeluarkan rezeki dari usaha yang haram, maka lelah dan letih kita tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diterima di sisi Allah sebagai amalan shaleh.

Diyakini juga bahwa agar harapan dan doa kita dikabulkan oleh Allah SWT, maka rezeki halal sangat harus kita perhatikan. Dijelaskan oleh Nabi kita SAW dalam sabdanya: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali apa-apa yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mumin dengan apa yang telah diperintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, ‘wahai para rasul, makanlah kalian dari apa yang baik-baik, dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuat’.

Dan Allah berfirman, ‘wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik, yang telah Kami rezekikan kepada kalian’. Kemudian Rasulullah menggambarkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, nampak bekas perjalanan tersebut di sekujur tubuhnya, penuh debu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru ya rabb ya rabb, sedangkan makanannya adalah haram, minumannya adalah haram, dan pakaiannya adalah haram, dia tumbuh dari sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dijawab?.” (HR. Muslim).

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keberkahan yang tercurah dalam keluarga, tidak terlepas dari kehalalan nafkah dan rezeki yang diperoleh dan dimiliki oleh keluarga tersebut. Keberkahan akan bisa berwujud pada suasana keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Keluarga bahagia yang semua anggotanya senantiasa pandai bersyukur atas segala nikmat Allah SWT. Aamiin.

*Penghulu Madya / Kepala KUA Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah

Comments

comments