Tiga Hikmah Gerhana Bulan

oleh

Oleh : Muhammad Yasin Jumadi, Lc*

Ketika terjadi gerhana bulan atau mahari, maka Nabi Muhammad Saw. memerintahkan kita untuk bertakbir, berdoa, shalat gerhana dan bersedekah. Sebagaimana penjelasan dalam banyak hadis, di antaranya:

عن عائشة أم المؤمنين قالت: قالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: إنَّ الشَّمْسَ والقَمَرَ آيَتانِ مِن آياتِ اللَّهِ، لا يَخْسِفانِ لِمَوْتِ أحَدٍ ولا لِحَياتِهِ، فإذا رَأَيْتُمْ ذلكَ، فادْعُوا اللَّهَ، وكَبِّرُوا وصَلُّوا وتَصَدَّقُوا. ثُمَّ قالَ: يا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ واللَّهِ ما مِن أحَدٍ أغْيَرُ مِنَ اللَّهِ أنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أوْ تَزْنِيَ أمَتُهُ، يا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ واللَّهِ لو تَعْلَمُونَ ما أعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا ولبَكَيْتُمْ كَثِيرًا. (صحيح البخاري).

Artinya: Dari Aisyah Ummul Mukminin berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah. Keduanya tidak gerhana karena meninggalnya seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah pada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah.” Kemudian Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah, Allah sangat benci degnan hamba-Nya yang melakukan zina, baik laki-laki maupun perempuan. Wahai umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku tahu, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari).

Sangat banyak hikmah dari gerhana bulan, di antaranya ada tiga, yaitu:

Pertama: Alam Mengingatkan untuk Mendalami Tekhnologi

Ilmu tentang bulan dan matahari dikaji dalam ilmu astronomi. Dan ilmu astronomi ini sangat erat kaitannya dengan agama Islam. Bahkan ulama-ulama Islam di zaman dahulu terus mendalami ilmu astronomi adalah untuk sempurna beribadah kepada Allah.

Di antara ibadah yang terkait dengan gerak matahari adalah shalat. Allah Swt. berfirman:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (الإسراء: 78).

Artinya: “Tegakkanlah shalat ketika tergelincirnya matahari hingga malam hari dan shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu adalah shalat yang disaksikan.” (QS. al-Isra’: 78).

Di antara ibadah yang terkait dengan gerak bulan adalah puasa Ramadhan. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ… (البقرة: 186).

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Quran yang menjadi petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk tersebut dan pembeda. Maka, barangsiapa yang telah menyaksikan bulan, maka hendaklah ia berpuasa…” (QS. al-Baqarah: 186)

Di antara ibadah yang terkait dengan gerak bulan sabit adalah ibadah Haji. Allah Swt. berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ… (البقرة: 189).

Artinya: “Mereka bertanya tentang bulan sabit, maka jawablah bahwa bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (untuk ibadah) haji.)… (QS. al-Baqarah: 198).

Karena kaitan erat antara ilmu astronomi ini, maka para ulama kita terdahulu terus mendalami ilmu astronomi ini dengan tujuan agar sempurna ibadah. Maka, mulailah ditemukan teleskop-teleskop dengan beragam namanya. Mulailah muncul ulama-ulama astronomi sejak awal-awal masa kejayaan Islam. Di antara tokoh astronomi yang sangat spektakuler adalah Abu Ja’far Muhammad al-Khawarizmi al-Hanafi.

Ia adalah seorang pemimpin dari Baitul Hikmah yang merupakan pusat riset di masa Khalifah al-Ma’mun. Tidak hanya ahli astronomi, ia juga ahli geografi dimana ia telah berasil membuat 70 peta. Ia juga ahli matematika yang telah menemukan tulisan angka dan menemukan huruf nol. Ia telah melahirkan teori al-Jabar dan algoritma.

Komputer lahir dengan tekhnologi cara kerja algoritma. Internet, samrtphone, website, google, youtube, GPS, semua bekerja dengan prosedur algoritma. Foto selfie pun yang menggunakakan tenkhnologi kecerdasa buatan (artificial intelligence) yang disingkat dengan AI juga menggunakan algoritma. Dengan adanya AI ini, maka setiap foto yang diambil bisa dilayout secara otomatis, seperti menghaluskan kulit, mengeceilkan pori-pori dan lainnya. Bahkan lebih dari itu, tekhnologi ini merupakan tekhnologi pembelajar, di mana semakin hari hasil foto semakin baik. Dan tekhnologi ini bekerja dengan pola Algoritma. Bayangkan jika algoritma tidak pernah ditemukan, maka semua ini akan tidak ada.

Dan algoritma ini ditemukan oleh seorang ilmuwan muslim. Maka, setiap tekhnologi yang dipakai untuk kebaikan dengan menggunakan algoritma, maka amal kebaikannya akan jariyah mengalir kepada al-Khawarizmi al-Hanafi.

Maka, ini menjadi motivasi untuk umat Islam terus mendalami ilmu astronomi, geografi, matematika dan ilmu alam lainnya. Dengan dengan itu kita bisa beribadah dengan sempurna, sebagaimana motivasi dari para tokoh Islam di zaman dahulu.

Kedua : Alam Mengingatkan Tujuan Hidup untuk Beribadah

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (الإسراء: 44)

Bertasbih kepada Allah tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi serta yang siapa saja yang ada di antara keduanya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih kepada Allah, akan tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka. Sungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Pengampun. (QS. al-Isra: 44).

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (الحج: 18).

Artinya: “Apakah engkau tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa-apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Hajj: 18).

Dua ayat ini dan juga beberapa ayat lain yang serupa menunjukkan bahwa alam semesta beribadah kepada Allah, bertasbih, bersujud, taat kepada Allah. Maka selayaknya manusia yang lebih mulia dari pada alam hendaknya juga taat kepada Allah Swt.

Ketiga : Gerhana Bulan Mengingatkan Hari Kiamat

فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ (7) وَخَسَفَ الْقَمَرُ (8) وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ (9) يَقُولُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ (10) كَلَّا لَا وَزَرَ (11) إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ (12) يُنَبَّأُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ (13)( القيامة)

Artinya: Ketika pandangan mata terbelalak (ketakutan) (7). Rembulan hilang cahayanya (8). Matahari dan rembulan dikumpulkan (cahaya keduanya sama-sama hilang) (9). Saat itu manusia bertanya, “Kemana tempat lari? (10). Tidak! Tidak ada tempat berlindung! (11). Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu (12). Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya (13). (QS. al-Qiyamah).

Dalam surah al-Qiayah ayat 8 menunjukkan bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah hilangnya cahaya bulan. Maka, setika cahaya bulan hilang pada gerhana bulan, maka hal ini mengingatkan kita kepada hari kiamat. Membuat kita lebih mempersiapkan diri untuk mati, untuk berjalan jauh menuju negeri akhirat dan berjumpa dengan Allah Swt. []

Comments

comments