Pondasi Utama Pernikahan

oleh

Oleh : Roni Haldi*

Ada orang yang belum melangkah ke jenjang pernikahan sudah dihantui segunung masalah di kepalanya. Apakah aku nanti mampu membahagiakan pasangan ku? Apakah dia mampu membahagiakan ku kelak? Sedangkan yang sudah melafazkan ijab qabul pun masih menyisakan setumpuk besar persoalan dalam dirinya. Sepertinya istriku tidak paham akan keinginan ku.., Suamiku kurang perasa terhadap apa yang aku inginkan darinya.., bagaimana cara kami bisa bahagia? Bagaimana agar biduk rumah tangga ini berlayar melewati ganasnya ombak di lautan kehidupan?

Setiap orang yang akan merubah status di Kartu Tanda Penduduk nya atau KTP dari belum kawin menjadi kawin menginginkan kebahagiaan. Begitu juga dengan mereka yang sudah atau sedang menjalani kehidupan rumah tangga atau sudah menikah juga mendambakan sebuah keluarga yang bahagia.

Bahagia itu tak datang hadir dengan sendirinya seperti air hujan yang turun dari langit membasahi bumi yang kekeringan. Air hujan saja punya proses dan tahapan yang dilalui hingga awan putih di hembus digerakkan angin berkumpul menghitam hingga menghasilkan rintik-rintik hujan.

Begitu juga dengan memperoleh sebuah kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga, perlu usaha yang mesti dilakukan oleh mereka yang akan membangun mahligai rumah tangga dan bagi kedua suami istri yang sedang membangun mahligai rumah tangga agar kebahagiaan itu nyata ada dalam rumah tangga mereka.

Ketahuilah wahai yang akan dan sudah menikah, setiap bangunan rumah yang tampak indah dari luar dan menghasilkan ketenangan jiwa dan ketentraman diri bagi penghuninya di dalam di mulai dari pondasi yang kuat lagi kokoh. Pondasi yang menopang beratnya beban kehidupan rumah tangga.

Pondasi yang menahan segala bentuk kegoncangan yang ditimbulkan oleh goyangan perselisihan dan ketidakcocokan. Pondasi yang meneguhkan kesucian ikatan pernikahan. Pondasi yang merawat cinta dan kasih sayang hingga jasad berpindah alam. Itulah pondasi pertama dan paling utama yang menjamin agar bahagia tak hanya sekedar lewat menyapa kita.

Fondasi pertama dan paling utama untuk mendapatkan kebahagiaan itu adalah baiknya spiritual, yaitu keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Sifat taat kepada Allah menjadi kontrol dalam setiap langkah hidup. Ketundukan kepada Allah dijadikan sebagai penimbang bila keraguan datang membayang.

Ketaatan kepada Allah SWT menjadi kompas penentu arah kehidupan agar tak keluar melenceng dari titik koordinat yang telah ditetapkan-Nya. Dengan ketaatan kepada Allah SWT akan menghasilkan kedekatan sehingga melahirkan sikap merasa selalu dalam pengawasan-Nya hingga kekerasan dan semua perilaku buruk perusak penghancur bangunan rumah tangga tak terjadi. Serta kedekatan dengan Allah menjadikan diri kedua suami dan istri selalu diliputi ketenangan jiwa dan kedamaian rasa.

Manusia yang paling bahagia dalam hidupnya adalah mereka yang paling bertaqwa kepada Allah. Orang yang dekat dengan Allah akan merasakan keamanan karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya.

Orang paling taat kepada Allah akan memiliki tingkat kesabaran terhadap berbagai macam cabaran dan cobaan hingga semua onak dan duri penghalang kebahagiaan rumah tangga mampu di angkat dibersihkan. Kepada mereka ini Allah mengaruniakan ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, yang tidak dirasakan oleh mereka yang tidak bertaqwa.

Kebahagiaan itu letaknya dalam ketaatan kepada Allah. Tidak ada kebahagiaan dalam kemaksiatan dan pembangkangan terhadap Allah. Bisa jadi ada manusia merasa bahagia dengan kecurangan dan kejahatan yang dilakukan, namun itu pasti bercorak sementara dan pasti berakhir dengan keburukan dan penyesalan berkepanjangan.

Bisa jadi ada orang yang merasa bahagia dengan tindakan kemaksiatan serta penyelewengan yang dilakukan, namun itu kebahagiaan semu bak fatamorgana di tengah gurun nan gersang. Bahagia yang mereka dapatkan hanyalah sebentar saja, sedangkan penyesalan mereka akan sangat panjang, dunia hingga akhirat kelak.

Orang-orang yang beriman, kehidupan mereka selalu berada dalam kebaikan, oleh karena itu mereka selalu bahagia. Apabila mendapatkan nikmat, mereka bersyukur. Apabila mendapatkan ujian, mereka bersabar. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam telah mengingatkan dalam sabdanya :

“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidaklah menetapkan bagi seorang mukmin suatu ketentuan melainkan itu baik baginya. Hal ini tidaklah mungkin kita jumpai kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa suatu kesempitan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” [HR. Muslim].

Orang-orang yang beriman dan bertaqwa, akan mendapatkan berkah “dari langit dan bumi”, artinya langit dan bumi tidak akan memberikan kemudharatan kepada mereka. Oleh karena itu mereka akan selalu bahagia. Allah Ta’ala telah berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96).

Orang-orang yang bertaqwa, mendapatkan kemudahan dan jalan keluar dari setiap permasalahan, bahkan mendapatkan rejeki dari arah yang tiada diduga. Oleh karena itu mereka akan selalu bahagia. Allah Ta’ala telah berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq: 2 – 3).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia, baik rezeki dunia dan rezeki akhirat”.

Bagi yang akan menikah, melangkah lah dengan penuh keyakinan. Buang jauh-jauh keraguan yang datang dari ketakutan tak peroleh kebahagiaan. Penuhi hati mu dengan keyakinan bukan keraguan, karena janji Allah SWT itu pasti. Mulai lah dengan memperbaiki diri dengan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala, karena keduanya itu pondasi kebahagiaan sebuah pernikahan.

Dan bagi yang sedang mengemudi biduk rumah tangga berlayar di tengah lautan kehidupan, kayuh terus biduk rumah tangga mu jangan pernah kalian turunkan jangkar karena biduk belum sampai ke tepian tujuan. Perjalanan masih sangat panjang, tiada siapa yang tahu kapan berakhir sampai ke tepian tujuan.

Lewati badai dan ganasnya ombak kehidupan dengan penuh kesabaran dan saling berpegangan agar biduk rumah tangga tetap melaju walau tertatih perlahan. Kunci keberhasilan dan keselamatan biduk rumah tangga hingga ke ujung tujuan adalah ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Karena keduanya itu pondasi kebahagiaan sebuah pernikahan.

*Kepala KUA Susoh, Aceh Barat Daya

Comments

comments