Cinta Keluarga Untuk Meraih Cinta Allah

oleh

Oleh : Syahri Ramadhan, S.H.I*

Keluarga merupakan unit terkecil didalam masyarakat, baik sebuah keluarga maka baik juga masyarakatnya secara umum serta baik didalam bernegara. Setiap orang pasti mendambakan memiliki keluarga bahagia dan harmonis. Namun yang jadi pertanyaan, bagaimanakah keluarga dikatakan bahagia?

Ketika ada orang yang menikah, Rasulullah SAW selalu membaca doa sebagaimana “barakallahulaka, wa baraka’alaika, wajama’a bainakuma fii khair” yang artinya “Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.” (HR.Ahmad 3:451).

Dari doa tersebut, kita bisa melihat bahwa Rasulullah tidak mengatakan supaya suatu keluarga jadi kaya-raya, melainkan agar diberkahi Allah SWT. Maksudnya berkah adalah hidupnya selalu dikarunia Allah, rezeki yang tercukupi dan bisa membawa kebaikan.

Diakhir Ramadhan tahun ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk meraih cinta Allah lewat kita mencintai keluarga sebagaimana Rasulullah pernah bersabda ‘Khairukum khairukum li ahlihi wa ana khairukum li ahlii’ yang artinya “Orang terbaik diantara kamu adalah dia yang terbaik dalam hal berlaku baik terhadap ahli (penghuni) rumahnya dan aku adalah yang terbaik dari antara kalian dalam hal berlaku baik terhadap keluarganya (HR. Ibnu Hibban).

Terlebih fadhilah ramadhan setiap umat muslim yang melakukan kebaikan akan mendapat ganjaran pahala berlipat ganda dari Allah seperti hadist Rasulullah Diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah, Nabi saw., “Setiap amalan kebaikan anak Adam (manusia) akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.

“Allah Ta’ala berfirman ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi’.” (H.R. Bukhari)

Dari uaraian tersebut sangat memungkinkan Allah mencintai makhluknya jika dia mencintai ahli keluarganya karena Allah, yang menjadi fokus didalam keluarga adalah orang tua, suami dan istri serta anak-anak.

Setiap kepala keluarga yang berangkat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga merupakan jihad di jalan Allah sebagaimana hadist Rasulullah “Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.” (HR Thabrani).

Disamping kita mengejar fadhilah ramadhan yang luarbiasa pahalanya, terlebih diakhir Allah berkenan menurunkan berbagai nikmat dan anugerah, mulai dari diturunkannya Alquran, Malam Kemuliaan (Lailatul Qadr), Semua nikmat dan anugerah itu sesungguhnya merupakan cinta dan kasih sayang Allah. Firman Allah: “Kasih sayang-Ku melingkupi segala yang ada” (Al-A’raf: 156).

Pahala kebaikan yang berlipat ganda, kasih sayang, hingga limpahan ampunan. Juga kita berusaha untuk bisa meraih cinta Allah melalui kebaikan yang kita lakukan kepada Orang tua, suami dan istri serta anak-anak.

Terlebih pada saat ini besar tantangan bagi kita dalam lingkup terkecil didalam masyarakat harus mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang luarbiasa dan sedang kita hadapi, yaitu pandemi covid-19, sebagaimana kita ketahui Pandemi covid-19 bermula di kota Wuhan, Tiongkok akhir 2019 masuk ke Indonesia pada awal maret 2020.

Pandemi covid-19 berpengaruh kepada berbagai aspek kehidupan, tatanan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, agama serta unit terkecil yang berdampak besar adalah keluarga.

Cinta Allah amatlah luas, sebagai makhluk yang beriman sudah sepantasnya kita mengejar apa yang dicintai oleh Allah seperti berbakti kepada orang tua merupakan cara manusia untuk dapat meraih cinta Allah sebagaimana hadist Rasulullah dari Abdullah bin Amr radliallahu `anhuma dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Ridha Allah terdapat pada ridha orang tua, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Dengan pengertian lain ketika seseorang mampu membahagiakan orang tuanya maka Allah akan mencintainya, mengingat saat ini sudah berada pada penghujung Ramadhan dan akan menghadapi lebaran, mudah-mudahan kita mampu memberikan yang terbaik untuk orang tua kita menurut kemampuan kita.

Buah tangan berupa materi adalah yang tidak terlalu diharapkan oleh orang tua tetapi pemberian anak terhadap orang tua memiliki nilai pahala yang besar disisi Allah, orong tua mengharapkan kedatangan dan senyuman kita yang membuat mereka bahagia, bagi mereka anak tetaplah anak kecilnya walaupun dia sudah dewasa dimata mereka tetap anak-anak.

Suami dan istri hal yang tidak bisa dipisahkan didalam kehidupan manusia, menikah sama dengan menyempurnakan separuh agama. Berbagai kenikmatan di surga sepertinya belum cukup bagi Nabi Adam ‘alaihis-salaam. Itulah sebabnya Allah menciptakan ibu kita Hawa untuk mendampinginya.

Jika kita melihat sejarah sesungguhnya karya-karya besar orang sukses lahir ketika seluruh energi di dalam dirinya bersinergi dengan sumber energi di luar dirinya, yakni dukungan dari orang-orang terdekat. Bagi seorang suami, istri adalah salah satu sumber energi itu. Seorang suami bisa memperoleh ketenangan dan gairah hidup dari seorang istri.

Juga kenyamanan, keberanian, keamanan, dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan seluruh energinya di luar rumah dan mengumpulkannya kembali di dalam rumah. Rumah tidak sekadar tempat berteduh secara fisik, tetapi tempat berlabuh lahir dan batin.

Sumber menu ruhani dan jasmani. Ketika seorang suami atau istri mencintai pasangannya karea kecintaannya kepada Allah niscaya Allah akan menyintainya pula sebagaimana Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Sudah menjadi fitrah manusia akan mencintai anaknya, namun demikian tuntunan agama telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam salah satu sabdanya beliau pernah menunjukkan rasa cintanya kepada Fatimah putrinya,

“Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barang siapa yang mendustainya berarti mendustaiku dan barang siapa yang mengganggunya berarti ia menggangguku” (HR Bukhari).

Hakikat cinta anak adalah dengan cara mencintai mereka sesuai dengan kehendak Allah, tidak menelantarkan mereka, tapi juga tidak mencintainya berlebihan sampai membuat kita tergelincir pada murka Allah.

Seperti firman Allah “Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anakanak kalian hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar” (QS al- Anfal: 28).

Pada bahagian yang lain bahwa anak merupakan aset terbesar didalam hidup orang tua disamping menyejukkan hati kedua orang tuanya juga menjadi bekal di akhirat kelak sebagaimana sabda Rasulullah Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).

Mudah-mudahan di akhir ramadhan tahun ini kita mendapatkan cinta Allah lewat kita mencintai keluarga dengan ketentuan cinta kepada Allah adalah yang utama dan mencintai keluarga atas dasar kecintaan kita kepada Allah, sebagimana Rasulullah bersabda “Orang-orang yang ada rasa Rahim akan dirahmati oleh Tuhan yang maha Rahman, yang memberikan berkat dan Mahatinggi. Sayangilah orang-orang yang di bumi supaya kamu disayangi pula oleh yang di langit.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi).

*Anggota Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Bener Meriah

Comments

comments