Masuk Pintu Dimensi, Susuri Terowongan Waktu Menuju Black Hole

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Tengku Ibrahim atau Tengku Tapa adalah panglima perang dari Gayo dalam melawan penjajah Belanda, yang relatif lengkap memiliki ilmu perang; dari ilmu langkah, kebal, penimul, penglimun, pelayang, uris, sarang bedil dan ilmu pedang dikuasai.

Cucu Datok Gayo itu telah beberapa kali lolos dari kepungan dan serangan musuh, namun naasnya di Kuta Piyadah, beliau syahid diterjang peluru senjata pasukan Belanda. Meskipun jasadnya tidak pernah ditemukan, tetapi secara syariat dimakamkan bersama dengan 40 pasukannya yang syahid di Matang Ano, Seuneddon, Aceh Utara.

Sebagai mana halnya dengan Tengku Tapa, demikian juga Tengku Ilyas Leubee salah seorang pahlawan perang kemerdekaan melawan agresi Belanda, tokoh DI/TII dan Perdama Menteri serta Menteri Keadilan Aceh Merdeka juga telah cukup makan asam garam dalam dunia perang, juga syahid pada 16 Mei 1982 di daerah Pandrah, Jeunib, Kabupaten Bireuen.

Tokoh-tokoh di abad ini yang syahid adalah Panglima GAM Tengku Abdullah Syafi’i, Komandan Operasi Wilayah Peureulak Tengku Ishaq Daud, Panglima Muda Daerah I Wilayah Linge Pang Amri dan ribuan, bahkan lebih pasukan yang syahid memang sudah takdir “panggung sandiwaranya” demikian jalannya.

Penyebab syahid seseorang dalam perang bukan sekedar sebab. Semua itu ada rasionalisasinya; yakni, posisi para pejuang itu terlalu jauh dari “pintu dimensi” sebagai kawasan keramat yang berdaulat. Pintu dimensi adalah tempat keramat yang merupakan salah satu dari “tiga keramat,” disamping orang keramat dan makam keramat.

Manusia Mante selalu bermain-main dekat dengan pintu dimensi, sehingga sulit bagi kita untuk melihat bentuk aslinya. Kebanyakan dari kita hanya mampu mereka-reka wajahnya. Begitupun satwa di dalam hutan sering keluar masuk pintu dimensi untuk bisa selamat dari para pemburu.

Makhluk hidup yang mengetahui dan sering keluar masuk pintu dimensi hidupnya menjadi “setengah ghaib”. Kawanan gajah di daerah Pintu Rime Gayo sebagai contoh nyata dari “kesetengahghaiban” satwa. Di saat mereka masih berkumpul ditembak dengan meriam pun tidak akan mencederainya.

Sehingga mitigasi konflik satwa-manusia, khususnya dengan kawanan gajah, hendaknya tidak mengikuti cara Afrika; membuat parit, mengusir dengan petasan dan kawat listrik, tetapi lebih kepada ritual spiritual yang tidak memandang gajah sebagai satwa liar, melainkan mereka juga makhluk Allah yang punya hak hidup, seperti kita manusia.

Satwa-satwa di seluruh hutan Aceh menjelang kematiannya yang normal, bukan karena dibunuh, mereka pergi ke “Padang Sribulen” di daerah Gunung Leuser melalui jalan pintas, masuk melalui “pintu dimensi” melewati “terowongan waktu” atau “the time tunnel.”

Perbandingan waktu melewati pintu ghaib dan “the time tunnel” dengan dunia kita, bisa jadi, sehari waktu di sana sama dengan setahun waktu pada dunia kita. Jadi tidak perlu heran, kalau orang-orang tua kita, setiap hari Jum’at mereka bisa shalat di Mekah.

Tidak perlu heran juga kalau seseorang bisa berada dalam dua tempat dalam waktu yang tidak jauh berbeda karena mereka sudah mengetahui pintu-pintu dan terowongan waktu. Itulah yang orang tua kita maksud dengan “ilmu melipat dunia.”

Pintu dimensi dan terowongan waktu juga sebagai tempat keluar masuk Manusia Bunian; baik Manusia Bunian kebenaran (beragama Islam) maupun Manusia Bunian Limunan (tidak beragama Islam) dari “alam mereka” ke alam kita. Sebagian dari Bangsa Manusia Bunian itu masuk ke dunia kita dengan pesawat UFO alias piring terbang.

Tengku Jema’at atau Abang Tengku Alus sebelum banjir bandang di Kampung Rawe, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah sedang berada di sana, sedangkan dalam waktu itu juga sedang berada di Kampung Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Sehingga tidak jarang orang-orang berdebat tentang keberadaan Tengku Alus. Satu pihak menyatakan di sana, pihak lain menyatakan sedang berada di sini.

Hanya lewat pintu dimensi dan terowongan waktu saja seseorang bisa menebus “Black Hole” atau lubang hitam yang menurut ilmuwan NASA adalah medan gravitasi sangat kuat. Saking kuatnya, cahaya pun tidak bisa menghindar dari sedotan.

“Black hole” terbentuk ketika sebuah bintang besar mulai habis usianya akibat kehabisan energi dan bahan bakar. Meski tidak terlihat, black hole memiliki magnet tingkat tinggi. Secara akal sehat dengan teknologi apapun yang kita kenal saat ini, tidak mungkin manusia bisa sampai ke sana.

Ada apa dengan “Black Hole”? Dia adalah tempat di mana disimpan semacam “Black Box” atau kotak hitam yang berisi rekaman seluruh hidup dan kehidupan. Beberapa detik saja waktu di sana, bisa jadi seribu tahun rekaman sejarah dunia dan diri yang tercatat dengan jelas.

Sungguh bahagia yang tiada tara, bagi orang-orang yang dilebihkan kemampuannya untuk mengetahui pintu dimensi dan terowongan waktu untuk bisa menembus “black hole” dengan maksud menata kehidupan yang lebih baik dari pelajaran sejarah yang kelam di masa lalu.

(Mendale, 14 April 2021)

Comments

comments