Sejarah Masuknya Islam ke Gayo dan Perbedaan Kampung dengan Kute

oleh

Oleh : Syamsuddin AS*

Masyarakat Gayo telah memeluk agama Islam, jauh sebelum Belanda masuk ke Aceh. Konon Islam masuk ke tanah Gayo dibawa oleh seorang ulama yang disebut-sebut berasal dari Pereulak bernama MALIKUL ISHAQ. Beliau masuk ke Gayo dengan cara menulusuri sungai Wih Ni Jemer yang di dalam peta disebut dengan nama Krueng Jambo Aye.

Dari Peurelak Malikul Ishaq berjalan kaki menuju hulu sungai di daerah Gayo Deret. Setelah sekian lama menelusuri tepian sungai, beliau tiba di sebuah pemukiman yang didiami beberapa kelompok masyarakat Gayo keturunan Datu Merah Mege. Sang ulama memutuskan untuk menetap dan bermukim di daerah tersebut.

Dari tempat ini, Malikul Ishaq mulai mengajar tentang agama islam dan menyebarkannya kepada masyarakat setempat yang sebelumnya masih menganut agama atau kepercayaan animisme yang bercampur dengan ajaran Hindu.

Berita tentang Malikul Ishaq tersiar hingga ke kampung-kampung yang jauh. Bahkan ketenarannya sampai ke daerah Gayo Lut dan Gayo Lues, sehingga membuat penasaran banyak orang. Kedatangan Malikul Ishaq yang mengajarkan agama Islam yang diturunkan melalau Nabi Muhammad SAW, membuat masyarakat Gayo beramai-ramai memeluk agama Islam dan meninggalkan agama atau kepercayaan yang sebelumnya mereka anut.

Belakangan, tempat bermukimnya Malikul Ishaq mulai dikenal dengan nama kampung Ishaq yang kemudian berubah menjadi kampung Isaq. Nama terakhir inilah yang sampai sekarang menjadi nama resmi kampung tersebut. Saat ini, orang-orang yang bermukim atau menetap di daerah ini maupun yang berasal dari kampung Isaq disebut atau dikatakan sebagai URANG ISAQ.

Mengenai Malikul Ishaq, selanjutnya tidak diperoleh keterangan apakah beliau menetap di Isaq hingga akhir hayatnya atau pergi daerah lain. Hanya ada dugaan bahwa Malikul Ishaq yang datang ke Gayo Deret selain untuk menyebarkan ajaran Islam juga untuk melihat tanah leluhurnya yaitu saudara-saudara dari Datu Merah Mege yang pergi dari Gayo dan tidak pernah lagi kembali diduga Malikul Ishaq adalah salah seorang keturunannya.

Sebagai catatan, berdasarkan cerita turun temurun, kami Urang Isaq meyakini kebanyakan dari kami adalah keturunan dari anak bungsu Muyang Mersa yang bernama Datu MERAH MEGE.

Menurut cerita yang kami dengar dari para pendahulu kami, anak-anak Muyang Mersa yang lain yaitu saudara-saudara dari Datu Merah Mege, mulai dari Merah Silu, Merah Johar, Merah Pupuk, Merah Putih, Merah Caga, Merah Item, Merah Jernang dan lain-lain pergi mengembara meninggalkan kampung asal dan tidak pernah lagi kembali ke Gayo.

Konon mereka ada yang menetap di Meureudu, Pasai, Banda Aceh, Peureulak dan lain-lain. Entah kebetulan atau memang itu orang yang sama, Malikul Saleh, raja pertama kerajaan Samudra Pasai yang disejarah resmi Indonesia disebut sebagai kerajaan Islam pertama di nusantara.

Sebelum menjadi raja, Malikul Saleh juga bernama Merah Silu, seperti nama dari salah seorang saudara Datu Merah Mege yang pergi merantau. Inilah alasan dari munculnya dugaan kalau Malikul Ishaq adalah keturunan dari salah seorang saudara Datu Merah Mege yang pergi mengembara itu.

Kemudian di Isaq sendiri, tidak ada catatan resmi yang bisa menjadi bukti siapa saja keturunan Malikul Ishaq di Isaq. Tgk. H. Ashaluddin, ayah saya, pernah mengatakan kalau kami dari Kuru Imem adalah keturunan langsung dari Malikul Ishaq, tapi tentu saja kami tidak berani mengklaim kalau pernyataan ini 100% benar karena kami sendiri sama sekali tidak bisa menunjukkan bukti selain cerita dari orangtua.

Sepeninggal Malikul Ishaq, masyarakat Isaq hidup rukun dan damai saling harga menghargai, horma-menghormati sesuai dengam ajaran yang disampaikan oleh Malikul Ishaq. Para pendatang (Tamu) sangat dimuliakan, dihargai dan diperhatikan. Apabila pendatang tersebut ingin menetap di Isaq, masyarakat akan memberikan tanah untuk tempat perumahan dan bergotong royong membuat rumahnya.

Penghidupan masyarakat Isaq dapat dikatakan berkecukupan. Hampir semua kebutuhan pokok seperti beras, kelapa, garam, gula pinang dan sirih, ada dan mudah didapat. Begitu juga ikan dan daging Rusa. Ini berbeda dengan yang dialami oleh masyarakat Gayo Lut yang bermukim disekitar danau Laut Tawar yang udaranya sangat dingin sehingga kelapa dan pinang, kalaupun bisa tumbuh akan tetapi tidak dapat menghasilkan buah.

Kampung (desa) asal kami, orang-orang Kuru Imem, terletak di salah satu sudut kampung Isaq, di lereng sebuah gunung yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Di desa ini mengalir sungai kecil yang bermuara ke sungai Wihni Jemer, sungai kecil ini bernama Wihni Rayang.

Warga ataupun penduduk desa ini membuat pagar yang kokoh disekeliling Kampung dari bambu cangduri sehingga kampung ini sekilas menyerupai kompleks perumahan atau Tangsi, atau kubu karena di kelilingi dengan pagar pengaman yang kokoh. Mereka membangun pagar ini untuk menjaga dan menghindari gangguan Harimau dan gangguan lainnya.

Urang Isaq menyebut pemukiman seperti ini dengan sebutan KUTE, sehingga Kute yang terletak di Wihni Rayang ini dinamai dengan nama KUTE RAYANG.

Berjarak sekitar satu kilometer dari Kute Rayang ke arah hulu Wihni Jemer, terdapat beberapa kute lagi yaitu Kute Keramil, Kute Riyem dan Kute Robel. Wilayah dari keempat kute inilah yang disebut dengan nama kampung Isaq, demikian juga dengan masyarakatnya, masyarakat dari keempat kampung inilah yang disebut sebagai urang Isaq.

Di Isaq, Kampung Kute Rayang yang merupakan kampung tempat lahirnya para leluhur kami dari generasi ke generasi ini disebut kampung Asal yang juga sering disebut dengan panggilan « kampung » saja.

Meski karena keterbatasan informasi dan tidak adanya catatan tentang silsilah keturunan, kami tidak tahu lagi siapa nama leluhur kami mulai dari regel ke atas di mana mereka lahir dan seterusnya, tapi yang jelas, sejak muyang, datu, awan dan ama saya, mereka semua lahir dan dibesarkan di kampung Kute Rayang.

*Penulis adalah Kepala Panti Asuhan Yayasan Noordeen berasal dari Kute Rayang, Isaq

Comments

comments