Menonjol Sejak Kecil, Subhandy Jadi Sekda di Usia yang Relatif Muda

oleh

Oleh : Tim Redaksi*

Kemarin Sabtu 6 Maret 2021, teka-teki tentang siapa yang akan menjadi Sekda Aceh Tengah terjawab sudah, Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar melantik Subhandhy, AP., M.Si sebagai pemegang jabatan tertinggi dalam struktur ASN Kabupaten Aceh Tengah, setelah sebelumnya sempat bersaing ketat dengan dua kandidat lain, Amir Hamzah yang menjabat sebagai Kepala Bappeda dan Harun Manzola Asisten Ekonomi dan Pembangunan di kabupaten Aceh Tengah.

Sebelum akhirnya benar-benar dilantik, sebenarnya Subhandy terbilang under dog, dari hitung-hitungan yang kita dengar dalam perbincangan berbagai kalangan masyarakat pemerhati politik Aceh Tengah, sebenarnya dua nama lain, Amir Hamzah dan Harun Manzola lebih diunggulkan dibandingkan alumni Lemhanas ini.

Alasan yang paling banyak dikemukakan adalah pengalaman, karena dari segi usia, Subhandy yang lahir pada tanggal 27 Desember 1975 ini memang jauh lebih muda dibandingkan dengan dua kandidat lain yang lahir di tahun 1960-an.

Padahal meski kalau dibandingkan dengan dua kandidat lain Subhandy terbilang muda, tapi sebenarnya, kalau kita melihat usia pemimpin dunia saat ini, usia seperti Subhandy sebenarnya bisa dikatakan adalah usia matang sebagai pemimpin.

Barrack Hussein Obama, mantan presiden Amerika yang pernah 5 tahun tinggal di Indonesia, pertama kali dilantik menjadi presiden di usia yang kurang lebih sama dengan Subhandy. Presiden Prancis, Emanuel Macron, Perdana Menteri Canada, Justin Trudeau dan perdana menteri Selandia Baru, Jacinda Arden malah lebih muda dari itu.

Apalagi kalau kita menilik pengalaman karir Subhandy sebagai ASN yang seluruhnya dia habiskan di kabupaten Aceh Tengah, yang terhitung sejak dia menamatkan pendidikannya di STPDN Jatinangor pada tanggal 6 Juni 1998, kurang dari sebulan setelah lengsernya Soeharto.

Setamat dari STPDN Subhandy langsung mengabdi di Pemkab Aceh Tengah yang saat itu dipimpin oleh bupati Mustafa M. Tamy, tak sampai dua tahun pada tanggal 24 Desember 1999, 3 hari menjelang ulang tahunnya yang ke 24, dia dilantik menjadi Sekcam Bintang dengan eselon IV a. Lalu, setahun berikutnya dia diangkat menjadi Kasubbag Kesra, lalu menjadi Kasubbag Rumah Tangga bagian umum di Setdakab dan pada tanggal 20 Mei 2003, dia dilantik menjadi lurah Takengon Timur.

Berikutnya, dia menyandang jabatan camat sebanyak tiga kali di tiga kecamatan. Linge, Bintang dan Kecamatan Lut Tawar yang baru dimekarkan dari kecamatan Kota Takengon.

Lepas dari camat Lut Tawar, Subhandy diangkat menjadi Sekwan, lalu berturut-turut menjadi staf ahli bidang pemerintahan dan asisten administrasi umum, keduanya di Setdakab Aceh Tengah.

Ketika Shabela Abubakar terpilih sebagai bupati, dia menunjuk Subhandy menjadi Kadis PUPR yang hanya dia jabat setahun lebih, yang kemudian setelah itu dia kembali ditarik menjadi staf ahli di Setdakab, kali ini di bidang kemasyarakatan dan SDM.

Dari rekam jejaknya, bisa dilihat kalau karir Subhandy di pemerintahan memang sangat kompleks ditambah dengan latar belakang pendidikannya, pria kelahiran kampung Asir-asir yang mendapat gelar magisternya di Konsep Otonomi dan Pembangungan Lokal Universitas Indonesia ini memang sangat pantas untuk diberi amanah mengembang jabatan ini.

Beberapa orang yang tidak mengenalnya sejak lama, banyak yang heran melihat lejitan karir Subhandy di pemerintahan dan meragukan kemampuannya menghadapi tekanan.

Tapi bagi orang-orang yang mengenalnya sejak kecil, baik itu pihak keluarga maupun teman-teman masa kecilnya, sama sekali tidak kaget dengan pencapaian Subhandy saat ini.

Subhandy adalah putra keenam dari 7 bersaudara dari pasangan almarhum H. Mustafa Isa dan almarhumah Hj.Mardhiah. Lima saudara di atasnya semuanya perempuan. Jarak usia Subhandy dengan kakak tertuanya terpaut 10 tahun lebih.

Sebagai anak lelaki pertama di keluarga, Subhandy adalah anak yang sangat ditunggu kelahirannya dan di pundaknya diletakkan berjuta harapan dari orangtuanya.

Tidak sedikit, anak yang diberi beban seperti ini hancur masa depannya karena tidak kuat menanggung beban harapan, atau jatuh menjadi anak manja yang semua kemauannya harus dituruti. Tapi Subhandy tidak seperti itu.

Kepada LintasGAYO.co, Emi Takarida, kakak tertuanya menceritakan, sejak kecil, dari sisi akademik Subhandy memang sudah terlihat berbeda dengan kelima kakaknya. Kalau kelima kakaknya, di sekolah terbilang sebagai siswi yang biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol.

Subhandy sebaliknya, sejak duduk di bangku SD Negeri 6 Takengon, yang dia tamatkan pada tahun 1988, dia menjadi langganan juara kelas. Prestasi ini berlanjut di tingkat SMP yang dia tempuh di SMP Negeri 1 Takengon yang dia tamatkan pada tahun 1991. Bersama Ummu Hanik yang sekarang menjadi istrinya, mereka berdua adalah bintang kelas di SMP Negeri 1 Takengon pada angkatan itu.

Karena berprestasi baik di SMP, orangtuanya dan Subhandy sendiri memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Banda Aceh, menyusul dua kakaknya yang kuliah di FKIP Unsyiah, jurusan Tata Boga dan Tata Busana.

Di Banda Aceh, Subhandy diterima di SMA Negeri 3 Banda Aceh, SMA terbaik di Aceh pada masa itu, yang menjadi tujuan siswa SMP terbaik dari seluruh Aceh.

Menamatkan SMA nya pada tahun 1994, Subhandy diterima di jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, salah satu jurusan paling bergengsi selain kedokteran di Unsyiah. Selain ikut UMPTN, Subhandy juga mencoba peruntungan ikut ujian masuk STPDN yang tahun itu memasuki tahun kelima. Ternyata di STPDN inipun dia diterima.

Setelah berdiskusi dengan keluarga, Subhandy akhirnya memilih untuk mengambil STPDN dan meninggalkan kesempatannya untuk kuliah di Fakultas Teknik Unsyiah, sehingga dia tidak berkesempatan menjadi mahasiswa yang diajar oleh Nova Iriansyah, gubernur Aceh saat ini.

Dan selanjutnya, seperti diceritakan di atas, setamat dari STPDN dia memulai karir sebagai PNS di lingkungan Pemkab Aceh Tengah, sampai hari ini.

Biasanya, anak-anak yang berprestasi baik secara akademik agak kesulitan bergaul. Tapi Subhandy tidak demikian. Teman-temannya semasa SD dan SMP menceritakan, kalau dulu semasa SD dan SMP, mereka sering bermain ke rumah Subhandy untuk membaca majalah Donald Bebek dan Bobo. Masa itu, tidak banyak orangtua di Takengon yang mampu berlangganan dua majalah favorit itu.

Subhandy sendiri, meski tidak sangat kaya, tapi orangtuanya, Almarhum H. Mustafa Isa yang bekerja sebagai rekanan Pemda untuk mengerjakan proyek-proyek yang tidak terlalu besar, bisa dikatakan berkecukupan.

Karena reputasi almarhum sebagai kontraktor cukup baik, tak pernah punya masalah dalam kualitas pekerjaan, setiap tahun almarhum selalu mendapat proyek sehingga beliau tidak merasa berat untuk memenuhi segala kebutuhan sang putra untuk perkembangan wawasan dan intelektualitasnya.

Menurut teman-temannya yang menamatkan SMA di tahun 1994, Subhandy sangat tidak canggung menerima mereka di rumahnya. Dan satu hal lagi yang membuat mereka terkesan, meski tidak canggung bergaul, Subhandy juga cukup bisa menjaga diri.

Contohnya, meski dia berasal dari Asir-asir yang saat itu sangat ditakuti oleh anak-anak seusianya. Tapi Subhandy tidak menjadi sombong, lalu dia juga tidak terlibat kenakalan remaja. Jangankan misalnya minum-minuman keras, bahkan Subhandy merokokpun tidak.

Di Banda Aceh pun, cerita yang kurang lebih sama LG.co dapatkan dari teman-teman SMA nya. Teuku Tandi Dharma, teman Subhandy di SMA Negeri 3 Banda Aceh sekaligus tetangga bersebelahan rumahnya di kampung Peurada, menceritakan kalau Subhandy berbeda dengan kebanyakan siswa atau mahasiswa asal Gayo yang dia kenal.

Kalau, siswa dan mahasiswa asal Gayo tetangga mereka yang lain di Peurada, biasanya hanya mau bergaul dengan sesame orang Gayo. Menurut Tandi Subhandy tidak begitu, dia sangat supel bergaul. Dia sama sekali tidak mengalami kesulitan melebur dengan teman-teman dari suku lain di Banda Aceh.

Bahkan, tahun 1998 dan tahun 1999, ketika Tandi dan kawan-kawan Subhandy yang lain masih kuliah, dia yang sudah menjadi pejabat masih tetap bersikap layaknya teman lama mereka di SMA dulu.

Faisal Reza, Wakil Ketua Bidang Pembangunan Pedesaan, Daerah Tertinggal & Perbatasan KNPI Aceh yang merupakan teman seangkatan Subhandy di STPDN menceritakan hal yang kurang lebih sama, dalam status Facebooknya, dia mengatakan kalau Subhandy yang dia sebut “yang terbaik” memang sangat pantas mengisi jabatan ini.

Pihak-pihak yang mengenal Subhandy sejak lama benar-benar memuji keputusan Shabela Abubakar memilih Subhandy sebagai Sekda dan menurut mereka ini seharusnya menjadi preseden untuk pemilihan pejabat lain di lingkungan Pemkab Aceh Tengah.

Orang dipilih untuk mengisi jabatan itu karena dinilai prestasi dan kemampuan, bukan karena dasar tekanan politik atau kedekatan hubungan kekerabatan. Menurut mereka, terpilihnya Subhandy yang kabarnya meraih nilai tertingi di proses seleksi, sebagai Sekda, adalah bukti kalau Pemkab Aceh Tengah sudah menerapkan prinsip meritokrasi, bukan kolusi dan nepotisme. []

Comments

comments