Men Tin : Permainan Anak Gayo yang Tergerus Zaman

oleh

Oleh : Syah Antoni*

Brak, bunyi kepingan batok kelapa yang disusun itu ditendang seorang anak hingga terlempar beberapa meter. Tak jauh dari sana nampak seorang anak murung. Anak yang murung karena gagal menjaga batok kelapa yang tersusun dari sepakkan kawannya yang lain.

Tak ketinggalan, suara sorakkan beberapa pria dan wanita paruh baya yang duduk berjejer, ada pula yang berdiri menyaksikan dari depan rumah – rumah dengan halaman yang lumayan luas.

Itulah sepenggal peristiwa yang kuingat saat bermain permainan yang kami sebut “men tin”. Saat penulis kecil dulu, permainan ini sangatlah populer dikalangan anak-anak. Permainan ini biasanya dimainkan sore hari seusai pulang sekolah atau mengaji. Permainan tradisional yang waktu itu seringkali dipertontonkan bukan hanya oleh anak-anak saja, tapi juga oleh orang-orang tua selepas bekerja di kebun atau sawah.

Sama seperti permainan tradisional lainnya, men tin merupakan permainan tradisional yang sederhana, baik peralatan maupun cara memainkannya. Cukup mencari satu atau dua buah batok kelapa lalu dipecah menjadi beberapa keping, minimal 10 keping, maksimalnya 20 keping.

Cara memainkannyapun tergolong mudah. Awalnya, beberapa anak melakukan “pung” atau “sut” (undian dengan menggunakan tangan mirip permainan gunting tangan). Siapa yang kalah pung atau sut maka dialah yang bertugas menjaga kepingan batok kelapa yang disusun.

Permainan ini juga terlihat mirip dengan permainan petak umpet. Dimana, permainan dimulai ketika yang kalah pung atau sut mulai menyusun kepingan batok kelapa yang berserakan, saat kepingan batok kelapa disusun, maka para pemain yang menang pung atau sut harus secepatnya berlari bersembunyi, menghindari penglihatan penjaga kepingan batok kelapa yang tersusun rapi, karena bila pemain belum bersembunyi saat kepingan batok kelapa selesai disusun, maka pemain tersebut beresiko bergantian menjadi penjaga pada permainan berikutnya.

Bagi yang sedang berjaga, bila tidak ingin dikatai ” jege sunut ” (jaga sarang) atau ” tenaruh puyuk” (telur busuk), maka yang sedang berjaga harus patroli keliling mencari pemain lain yang sedang bersembunyi.

Bila yang berjaga berhasil menemukan pemain yang bersembunyi, maka haruslah meneriakkan namanya sambil berlari sekencang-kencangnya dalam upaya menyentuh batok kelapa. Menyentuh batok kelapa dengan jari sambil mengucapkan “tin” setelah melihat pemain yang bersembunyi hukumnya wajib, karena bila susunan batok kelapa lebih dulu ditendang oleh pemain yang bersembunyi, maka yang menjaga batok akan kembali berjaga, begitu seterusnya.

Namun bila pemain yang bersembunyi menendang susunan batok kelapa setelah yang berjaga menyentuh batok kelapa sambil mengucap tin, maka yang menendang akan bergantian jaga. Nah, kecepatan dan kecerdikan tentulah sangat dibutuhkan dalam permainan ini.

Lalu, bagaimana mekanisme pergantian penjaga yang menjaga kepingan batok kelapa (pemain yang kalah)?.

Tergantung yang berjaga, bila berhasil menemukan semua pemain lalu menyentuh batok kelapa sambil mengucapkan tin sebelum ditendang pemain lain, maka pemain yang pertama ditemukanlah yang gantian berjaga.

Namun, bila hal tersebut tak kunjung terjadi, maka bisa saja pemain yang berjaga tersebut akan berjaga sampai menjelang magrib tiba (permainan selesai). Hal tersebut tentu saja sangat membuat malu, dan lazimnya menjadi bahan ejekan bagi pemain lain.

Permainan akan berakhir sebelum Azan dimasjid berkumandang. Permainan akan berulang beberapa hari, selama musim Men Tin masih eksis. Maklumlah, sebagian besar permainan tradisional di Gayo sifatnya musiman. Minsal, januari musim men tin, februari musim men eskot, maret musim men karet, april musim men gambar.

Kurang lebih begitulah cara anak-anak jaman dahulu menghabiskan waktu senggang selepas sekolah atau mengaji. Banyak sekali permainan tradisional yang bisa dijumpai, seperti men karet, men gambar, men eskot, men lelayang, men gencong, dan permainan tradisional lainnya.

Seiring berjalannya waktu, permainan-permainan tersebut terasingkan, bahkan menghilang. Kemajuan jaman dan teknologi berperan menggerus permainan-permainan tradisional yang merupakan bagian dari budaya masyarakat Gayo.

Dewasa ini, anak-anak lebih akrab dengan gadget, game digital, atau game-game virtual lainnya. Hal yang tidak bisa menghalau generasi muda dari pengaruh buruk, oleh konten-konten kekerasan dan pornografi yang dikandungnya.

Sudah saatnya kembali mengenalkan permainan-permainan tradisional kepada generasi muda (anak-anak) Gayo khususnya. Dibutuhkan peran orang tua, pendidik, bahkan pemerintah daerah untuk kembali menggalakkan permainan tradisional disekitaran anak – anak Gayo.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Minsal, dengan mengadakan even atau festival permainan tradisional, baik ditingkat Kabupaten hingga Desa. Atau disekolah – sekolah. Tentu saja, generasi yang baik adalah generasi yang tidak melupakan budaya leluhurnya.

Mari bendung efek negatif globalisasi dari anak-anak kita dengan menggalakkan kembali permainan tradisional Dataran Tinggi Gayo. []

Comments

comments